Saturday, July 27, 2019

Tuti Ismail

Sik Sik Saya Suka Musik

Hari Pajak 14 Juli 2019

Hampir setiap hari kerja saya berjumpa dengan seorang anak kecil dan ibunya di kereta. Di pagi-pagi buta. Secara kebetulan kami naik dan turun di stasiun yang sama. Sama seperti saya, ibu si anak kecil juga seorang pekerja. Tepatnya sebagai seorang guru TK dan anak kecil berpipi bakpao yang bersamanya adalah salah satu muridnya.

Tidak sampai satu bulan setelah pertemuan pertama kami mulai akrab. Kalau bertemu dia selalu menyapa lebih dulu dan dengan takzim mencium tangan saya. Saya sering membawakan sebungkus wafer kesukaannya. Dia membalasnya dengan cerita panjang soal liburan, film kesukaannya atau kegiatan di sekolahnya. Saya balas lagi dengan tatapan antusias dan kedua telinga yang terjaga hanya untuk tiap ceritanya. Anak kecil yang tahun ini baru naik ke kelas TK B punya tawa yang renyah dan senyumnya yang lebih manis dari secangkir kopi sasetan.  Dia memanggil saya Tante Tuti dan saya memanggilnya Abang (katanya panggil saja begitu, karena menurutnya saya pasti kesulitan mengingat namanya).

Kemarin kami jumpa lagi di stasiun. Lalu naik kereta di gerbong yang sama. "Tante bawa tempat minum," katanya sambil menunjuk botol minum yang saya pegang. Pejalanan saya dari stasiun ke kantor menghabiskan waktu hampir 1,5 jam. Bahkan kalau dihitung sejak keluar rumah bisa lebih dari itu. Karenanya pastilah membuat kering tenggorokan. Sebetulnya di hari-hari lain bukan tempat minum yang buasa saya genggam, tetapi sebotol air mineral kemasan. Baru kira-kira  seminggu ini saya membawa tempat minum (tumbler). Biar cuma menghemat menyumbang satu botol plastik rasanya baik juga saya lakukan. "Bagus kan. Mirip sama tempat minum Abang ya?" tanya saya.  "Nggak. Itu mirip kaya tempat minum anak play grup. Kecil banget soalnya," jawabnya polos.

Dalam perjalanan dia bercerita hari ini tetap masuk sekolah. Bukan hanya murid,  orang tua juga harus datang. Hari tiap orang tua murid harus datang dan membacakan buku. Saya tanya,"wah asik. Dibacakan buku biar apa,Bang?" Dia melirik mamanya, lalu menyanyikan sebait lagu. Liriknya saya ingat begini,"ayah ibu bacakan aku buku. Agar aku pintar." Saya tersenyum mendengarnya. Menarik, mengingat bagaimana anak menjawab pertanyaan saya.

Kita semua pasti ingat bagaimana dulu semasa kecil kita banyak menghapal banyak hal lewat sebuah lagu. Bapak dan ibu guru paling pintar soal ini. Contoh nyata adalah bagaimana kita dengan mudah menghapal nama-nama hari,"senin, selasa,  rabu, kamis, jumat, sabtu, minggu itu nama-nama hari."

Atau yang lebih sulit dan panjang seperti 20 sifat wajib Allah,"wujud, qidam, baqo, mukholafatu lilhawaditsi, qiyamuhi bi nafsihi, wahdaniyah, qudrat, irhadat dan seterusnya." Pernah ketika ujian di sekolah dan ditanya sifat Allah SWT yang ke 15, sebelum menjawab dengan lantang saya senandung  lagu barusan. Menghapal bukan lagi jadi momok yang menakutkan. Dengan lagu atau musik proses belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Saking cairnya lagu masuk ke dalam ingatan kita, keponakan saya yang lugu pernah ketika diminta menyanyikan lagu perjuangan di muka kelas dengan gagah menyanyikan lagu sebuah partai politik. Dia tidak salah, lagu itu memang terdengar begitu patriotik. Terlebih saat itu setiap hari ia mendengar dan melihatnya diputar di sebuah stasiun televisi.

Bukan hanya sebagai media dalam proses belajar, musik juga dapat digunakan dalam proses penyembuhan. Sejalan dengan itu seperti dilansir Tirto.id. (15/11/2016) Christ Billy seorang pakar musik berpendapat bahwa mendengarkan musik di saat yang tepat dapat mempengaruhi psikologis pendengarnya. Musik diyakini mampu mengubah suasana hati, menambah fokus, membuat lebih produktif  dan dapat membantu lebih rileks.

Dalam sebuah iklan atau propaganda, musik atau lagu memegang peranan penting. Saya masih terngiang lagu KB yang kerap diputar di televisi pada akhir tahun 70-an. Di tahun itu pemerintah tengah mencanangkan progran Keluarga Berencana. Punya anak cukup 2 saja. Meski tidak menafikkan upaya pemerintah yang lainnya, saya rasa propaganda yang dilakukan pemerintah lewat lagu KB menjadi salah satu sebab berhasilnya program tersebut.

Statistik menunjukkan, tahun 1971-1980 rata-rata laju pertumbuhan penduduk per tahun 2,31%. Pada dekade berikutnya, 1980 -1990 ditekan menjadi 1,98%, dan pada dekade berikutnya lagi menjadi 1,49%.

Lewat seorang seniman yang handal seperti Pakde Didi Kempot, patah hati menjadi tidak lagi populer untuk tangisi tapi lebih pantas dijogeti. Sebuah fenomena yang sungguh menarik. Tidak heran jika kemudian karena kepiawaiannya ia menyandang gelar 'the godfather of broken heart'.

Seandainya apa yang saya urai di atas diaplikasikan di dunia perpajakan kita, kira-kira bagaimana ya dampaknya?

Sungguh saya menanti seorang anak seperti keponakan saya, dengan gagah berani menyanyi di depan kelas membawa lagu tentang pajak. Ketika dewasa bisa jadi dan sangat mungkin kesadaran pajak akan tumbuh dengan sendirinya.

Saya yakin tidak seperti pungguk yang sedang merindukan bulan. Mimpi saya (inklusi pajak) barangkali setinggi langit, tapi langit saya adalah langit yang terlihat.

---
Belalang Sipit
27/07/2019

Tuti Ismail

About Tuti Ismail -

tax officer, a mother