Saturday, July 13, 2019

Tuti Ismail

TAXIC : Kupetik Gitar



Matahari telah pamit pulang saat saya bersama seorang kawan berjalan menyusuri basement Gedung Utama DJP menuju Kantin Kita.  Para pegawai telah berangsur pulang. Kantor telah lengang saat itu. Tidak ada lagi pegawai yang berjejal di dalam lift. Waktu menunjukkan pukul 18.30 wib pada Jumat, 28 Juni 2019. 

Adalah Mas Aris Jatmiko dan Mbak Laksmi Indriani (Jeanny), kedua sahabat kental saya yang "memaksa" untuk datang. "Mas, saya nggak bisa main gitar. Nggak ngerti.  Di sana ngapain?" begitu alasan saya saat ia mengabari soal acara guitar clinic.  Alasan lainnya adalah kantor saya yang berada di ujung Jakarta Barat sangat jauh dari tempat diadakannya acara. Keduanya tidak putus asa meyakinkan. Meski tidak bisa memainkan alat musik tidak ada larangan untuk hadir ke acara musik, begitu kata mereka.  

Kedua sahabat yang saya sebut namanya di atas adalah dua di antara beberapa tokoh penggagas TAXIC (Tax Music Community). TAXIC sendiri adalah komunitas para pencinta musik di DJP.

Setelah saya pikir benar juga apa yang meraka bilang. Untuk mencintai musik tidak harus pandai memainkan alat musik. Ya,  saya menikmati petikan gitar si bungsu ketika memainkan soundtrack drama Korea Endless Love.  Meski agak tersendat karena dia meniru seseorang yang memainkannya di youtube, hati saya terbawa haru juga. Ingat pada kisah kasih Song Seong-heon (Yoon Joon-suh) dan Song Hye-kyo (Yoon Eun-suh) yang berakhir pilu.

Ya,  pun seandainya saat ini tidak bisa,  bukankah semua orang yang kemudian kita beri label "mahir"  juga memulainya dari sebuah keadaan yang kita sebut tidak tahu apa-apa? 

Suara petikan senar gitar dari si pemilik  album solo yang berjudul Encore memeluk malam. Jemarinya lincah bergerak.  Berpindah dari senar yang satu ke yang lainnya. Mata saya tak sanggup beranjak darinya.  Jika kamu pernah berimajinasi ada orang yang memiliki 12 mata saya kira dia lah orangnya. Dua matanya berada di tempat yang semestinya, sementara yang lainnya ada di tiap jemarinya.  

Jemarinya dengan berani memetik senar-senar gitar. Makin lama makin cepat,  bergegas seperti seorang pemetik daun teh yang berlomba dengan seekor ulat. Lambat sedikit saja habis sudah pucuk daun tehnya. Bisa gagal panen hari itu.   

Sejujurnya hingga kini, ketika saya menuangkan tulisan ini  masih juga terheran bagaimana bisa ketika jempol dan telunjuk kanannya kuat menggengam pick bergerak serasi  dengan jemari lainnya memetik senar. Seketika saya merasa sedang berdiri di pinggir kebun teh. Tercenung melihat mereka beraksi.  Sekarang bukan hanya seorang pemetik teh yang saya lihat, tapi ada empat lainnya di sana. Ketika jemari kanannya memetik senar, jemari kirinya bergantian menekan senar di ujung gitar. Saya menghela nafas kuat-kuat. Karena ulahnya saya sampai lupa telah menahan nafas sekian detik. Mungkin begitu pula yang dirasa para pecinta musik yang saat itu memenuhi Kantin Kita. Jemari itu,  ah pasti benar adanya memang memiliki mata.

Zendhy Herdian Kusuma atau yang kita kenal dengan nama Zendhy Kusuma, dia lah si empunya jemari itu.  Seperti dilansir oleh Yamaha.com, Zendhy Kusuma adalah seorag gitaris independen Indonesia.  Telah banyak penghargaan internasional yang ia raih, di antaranya menerima gelar kehormatan dari LRSL (Licentiate of Rockschool Level)  London dan juga FLCM (Fellowship of the London College Music)  University  of West London. Sebuah sekolah musik bernama Sekolah Musik Istana Nada telah berdiri atas inisiasinya. Pada mulannya ketika masih duduk di bangku SMP Zendhy menekuni gitar klasik. Lalu mencoba bereksperimen ke gitar elektrik. Zendhy Kusuma satu dari sedikit seorang yang bisa kita beri label "mahir" di bidangnya. 

Berganti-ganti kami bertanya dan Zendhy Kusuma dengan sabar menjawab. Sejujurnya tidak seluruh pertanyaan dan jawabannya saya mengerti benar. Sebenarnya demikian pula dengan lagu-lagu yang dia bawakan, bukannya tidak bagus hanya tidak akrab sahaja di telinga. Pun begitu saya menikmati betul malam itu. Menikmati kepiawaiannya bermain gitar. 

Untungnya Zendhy berbaik hati melantunkan instrumen lagu milik Andre Hehanusa yang berjudul Karena Kutahu Engkau Begitu alias KKEB (salah satu lagu yang dia kulik pada saat mulai belajar bermain gitar). Lagu yang populer pada tahun 1995. Lirik KKEB dan melodinya sangat pas dengan petikan gitar. Berikutnya lagu Mr.  Big  yang populer di tahun 1993, Wild World (lagu yang pertama ia kulik).

Jadilah seisi ruangan (besar kemungkinan seusia dengan saya karena begitu fasehnya menyanyikan KKEB)  tanpa ada yang memberi komando menyanyikan lagu itu. 

Sebetulnya sebelum Zendhy Kusuma berhasil tampil memukau, dia telah terpukau lebih dulu oleh para pecinta musik yang hadir di Kantin Kita. Pada teman-teman saya yang tak kalah mahirnya memainkan alat musik dan mengolah suara. Sebuah lagu dari Jimi Hendrix yang berjudul Little Wing jadi salah satu buktinya. Mas Arief Hoeda begitu ciamik melantunkannya dan petikan gitar dari Erril Forensik menyempurnakannya.


Saya dan kawan lainnya tertawa bersamaan sewaktu Zendhy bilang betapa kagetnya dia ketika menyadari bahwa kami ini adalah pegawai negeri sipil (sekarang disebut ASN / Aparatur Sipil Negara) . Tidak menyangka. Zendhy Kusuma tidak salah, memang sejak lama ASN alias birokrat dipersepsikan sebagai sekumpulan pegawai yang "kaku", monoton dan mungkin membosankan. Padahal sesungguhnya tidak begitu. 

Di masa depan ketika pemerintahan berorientasi pada pelayanan,  seorang ASN  harus cair, dinamis dan hangat sebab mereka adalah pelayan masyarakat. Seperti sebuah pinangan yang berakhir ke pelaminan, rupanya apa yang ada dalam benak saya itu setali tiga uang dengan yang disampaikan Pak Peni selaku pembina Taxic bahwa yang terjadi malam itu adalah sesuatu yang baik. Komunitas yang sama diharap juga dapat berkembang di daerah-daerah lain. 


Pada akhirnya waktu jua yang memisahkan kami. Guitar clinic oleh Zendhy Kusuma berakhir tepat pukul 
21.30 wib. Meski saya hanya sedepa beranjak dari jurang ketidaktahuan tentang bagaimana memainkan gitar (yang ini bukan salah Zendhy,  tetapi karena jurang ketidaktahuan saya yang begitu dalam hingga sulit untuk digali), namun saya belajar dan juga mendapatkan banyak hal.  Bahwa benih ketekunan yang kita tanam pada akhirnya akan tumbuh menjadi pohon besar yang disebut kepercayaan diri dan berbuah manis yang kita namai keberhasilan. 
---
Belalang Sipit
13/07/2019

Tuti Ismail

About Tuti Ismail -

tax officer, a mother