Friday, September 6, 2019

Tuti Ismail

Mengayuh Harapan


Slamet Rianto (pic credit to Aris Taxic)
Jumat terakhir di bulan Agustus 2019 digegerkan oleh sebuah berita yang disebarkan sendiri oleh yang bersangkutan di salah satu akun media sosialnya. Pukul 06.14 WIB saat itu. "Bismillah.. menuju kantor mas Ahmad Dahlan Jadi Dua," begitu tulisnya. Terlihat dirinya berdiri di samping sepeda kesayangannya. Tangannya memegang sebuah bendera bertuliskan TAXIC (Tax Music Community - komunitas pecinta musik yang ada di DJP) yang ia pasang pada bagian belakang sepedanya. Pemilik akun tersebut bernama Slamet Rianto, sahabat saya yang kini bermukim di Bandung. Sementara Mas Ahmad Dahlan Jadi Dua yang ia sebut-sebut itu juga sahabat saya. Saat ini Mas Dahlan (begitu kami memanggilnya) bekerja di Jakarta. Lebih tepatnya berkantor salah satu kantor di Kompleks Pajak Kalibata, Jakarta.

Wow ! Itu artinya Masla (sebutan kami para juniornya kepada Mas Slamet Rianto) bersepeda dari Bandung ke Jakarta.

Sabtu (31/08/2019) sebuah cara besar akan dilangsungkan di Kompleks Pajak Kalibata. Jambore Komunitas DJP pertama kalinya akan digelar di sana. Sebanyak 23 komunitas akan hadir, dua di antaranya adalah Genjot Pajak dan TAXIC.

Demi memuaskan rasa penasaran, buru-buru saya melihat google map. Jarak Bandung - Jakarta 158 km. Edan! Itu artinya kalau Masla kecepatan sepeda 10 km/jam maka untuk sampai ke Jakarta, Masla harus mengayuh sepedanya kurang lebih 15 jam tanpa jeda. Itu artinya pukul 21 WIB lebih sedikit ia baru akan sampai di Kalibata. Bayangkan mengenjot sepeda selama 15 jam tanpa henti!

Jika ingin istirahat atau tiba lebih cepat maka sudah barang tentu Masla harus mengayuh sepedanya lebih cepat. Entah berapa botol air mineral yang bakal ia habiskan. Barangkali 1 galon pun tidak akan cukup. Belum lagi lelah yang menyerang.

Nyatanya Masla tiba di Kalibata pukul 21.30 WIB. Berhenti 4 kali dan menghabiskan 5000 ml air mineral (dari rumah 2 botol tumbler kapasitas @650 ml. Di jalan beli 4 botol air mineral @600 ml dan isi ulang 2 tumbler tersebut). Itu berarti ia mengayuh sepedanya dengan kecepatan lebih dari 10 km/jam.
 
Duh! Membayangkannya, sekujur tubuh saya langsung pegal-pegal.
Jambore Komunitas DJP (pic credit to Aris Taxic)
Sudah lama saya tahu Masla menggemari olah raga sepeda. Saya pun tahu dia salah satu anggota Genjot Pajak (komunitas penggemar olah raga sepeda yang ada di DJP). Pun begitu, saya tidak sangka ia akan mengayuh sepedanya sejauh itu.

Memang, saban hari tanpa bosan ia mengayuh sepeda mulai dari rumahnya yang berada di bilangan Sekelimus ke kantornya yang berada di jalan Soekarno Hatta (jarak Sekelimus - Soekarno Hatta kurang lebih 6,9 km). Saking seringnya melintas, bisa jadi ia adalah orang yang paling hapal betul tiap lubang, gajlugan atau warung pinggir jalan yang menjual teh botol paling enak rasanya yang ada di sepanjang jalan itu.

Penasaran, saya membuka lagi google map. Bandung - Jakarta masih berjarak 158 km. Bandung - Jakarta tidak pernah jadi menjadi lebih cepat jika ditempuh dengan KA Parahyangan (meski kini namanya telah berganti menjadi KA Argo Parahyangan). Tetap butuh waktu 3 jam 10 menit. Tapi mengapa 19 tahun lalu Bandung - Jakarta terasa jauh sekali. Padahal dari Jakarta saya tidak perlu mengayuh sepeda untuk sampai ke Bandung.

Sembilan belas tahun yang lalu saya tercatat sebagai mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Bandung. Lebih tepatnya mahasiswi ekstensi. Di awal tahun 2000 itu saya telah sampai pada bab 3 skripsi. Harapan, impian dan cita-cita peroleh gelar sarjana tinggal sedikit lagi terwujud. Apa lacur kenyataan berbicara lain, baru di awal 2004 saya mampu menyelesaikannya. Saya ingat ketika pada akhir 2003 menemui dosen pembimbing, ia sampai geleng-geleng kepala. Sambil memandangi lembar pengawas skipsi dengan keningnya yang tiba-tiba mengerut dia bertanya dengan penekanan pada beberapa kata,"kita terakhir bertemu tahun 2000? Kamu, kemana saja?"

"Pindah ke Jakarta, Bu. Hamil, lalu melahirkan,' jawab saya.

"Sudah bab 3. Sayang sekali. Padahal setelah melahirkan Kamu segera lanjut" balas dosen pembimbing

"Iya, Bu maaf," saya cuma bisa bilang iya. Ingin rasanya saya bilang, setelah anak pertama agak besar saya hamil lagi dan beberapa bulan lalu baru lahir anak kedua. Namun alasan itu urung saya sampaikan, karena tidak ada gunanya juga menceritakan hal itu. Tidak tersisa waktu barang sedikit untuk mengeluh. Pilihannya cuma 2, selesaikan skipsi dalam jangka waktu 3 bulan atau hengkang dari kampus tercinta.

Ketika pada awal 2004 dinyatakan lolos dari lubang jarum, sempat juga berpikir untuk mencari sebab pasti mengapa saya begitu lambat dan tidak bersemangat kala itu. Wanita, menikah, hamil, memiliki anak, atau kuliah sambil bekerja telah gugur untuk saya jadikan alasan, karena nyatanya teman-teman saya yang lain dengan kondisi yang sama sanggup lulus tepat waktu. Alasan itu gugur pula oleh pengalaman saya sendiri beberapa tahun kemudian, ketika dalam kondisi yang sama saya menjadi orang pertama di angkatan yang menyelesaikan dan berhasil lulus sidang tesis.

Hanya satu alasan yang tersisa, yaitu jarak. Bandung - Jakarta begitu jauh. Siapapun pastilah akan berpendapat serupa dengan saya. Sialnya, Masla membuat alasan ini seperti daun Flamboyan di musim kemarau. Berguguran. Berserakan dan terbang tertiup angin. Bahkan dengan "teganya" ia melindas daun-daun itu dengan roda sepedanya.

Masla memiliki Grit (ketekunan atau tekad). Apa yang disebut seorang profesor psikologi dari Universitas Pennsylvania sekaligus pengarang buku Grit: The Power of Passion and Perseverance (2016), Angela Lee Duckworth, berperan penting dalam kesuksesan seseorang. Dalam penelitiannya Angela menemukan bahwa ternyata IQ, kecerdasan sosial, penampilan menarik, dan kesehatan bukan faktor penentu utama kesuksesan. Pun dengan bakat, sebab di dunia nyata seseorang berbakat yang tidak memiliki ketekunan dan komitmen seringkali tidak berhasil dalam hidupnya. Tetapi usaha dan kerja keras yang secara tekun dilakukan dari waktu ke waktu lah yang mampu membuat seseorang menjadi tangguh dan akhirnya dapat peroleh keberhasilan.

Kita tidak pernah tahu berapa kali Masla terjatuh dari sepeda. Dengan sepeda roda berapa dia pertama kali belajar bersepeda. Berapa kali dia kehujanan dan kepanasan. Dan entah berapa kali juga rantainya putus atau bannya kempes dan bocor saat sedang asyik menyusuri jalan-jalan sejuk di Bandung hingga akhirnya urung mencapai tujuan. Saya yakin dia pernah melaluinya. Namun saya percaya semua tidak membuatnya berhenti mengayuh pedal sepedanya. Kita sama tidak tahunya seberapa besar tantangan yang dihadapi oleh teman-teman saat menyiapkan acara Jambore Komunitas DJP tempo hari. Saya yakin seperti halnya Masla, tantangan mereka pasti tidak ringan.

Cerita mengagumkan Masla, keberhasilan Jambore Komunitas DJP dan kegagalan saya adalah sebuah pelajaran, utamanya bagi saya. Bercermin pada Michelle Obama, bahwa  There is no magic to achivement. It's really about hard work, choices, and persistence.

---
Belalang Sipit
06/09/2019 
Read More

Sunday, September 1, 2019

Tuti Ismail

Cerita Dari Jambore Perdana Komunitas DJP: Melihat Sisi Lain

Jambore Komunitas DJP 
Tidak seperti hari libur biasanya, Sabtu (31/08) kompleks Pajak Kalibata begitu riuh. Bincang hangat dan jabat erat para pegawai DJP terdengar bak kepak kawanan tawon ketika sampai di padang penuh bunga aneka warna.  Kian  lama kepaknya kian keras. Bersemangat. Bergairah. 

Pelukan mesra dari sahabat yang lama tidak berjumpa seperti bintang-bintang yang di langit malam. Tidak saya bisa lupakan pancaran yang terlihat dari sorot mata mereka. Pancaran mata orang-orang yang sedang diliputi bahagia. Dan satu tulisan seserhana ini tidak cukup untuk menggambarkan keseruan hari itu. Pun demikian dengan foto-foto yang menyertainya. 

Jika pada hari-hari biasanya saya hanya melihat sisi koin yang bergambar burung garuda, berada di sana saya seperti melihat sisi lainnya. Sisi lain yang berbeda-beda gambarnya dan menjadi penyempurna sebuah koin. 

Kilas Balik

Setelah sebelumnya saat Hari Pajak 14 Juli 2019 yang lalu Dirjen Pajak Robert Pakpahan telah meresmikan grand  launching komunitas musik DJP  yang bernama Taxic, hari ini menjadi babak baru sekaligus tonggak bersejarah dari perkembangan komunitas yang tumbuh di DJP. Niat baik ini tidak boleh hanya berhenti di sini. Masih ada ribuan langkah lagi yang akan ditempuh di masa depan. Komunitas lain yang ada di DJP harus pula diberi ruang yang sama. Diberi pupuk dan air yang sama banyaknya agar dapat tumbuh subur dan memberi manfaat,tidak hanya bagi para anggotanya tetapi juga pada organisasi. 

Tidak ingin terjebak dalam angan-angan semata, akhirnya teman-teman Taxic memberanikan diri mengutarakan ide untuk mengumpulkan semua komunitas yang ada di DJP diutarakan kepada Sesdirjen Pajak, Peni Hirjanto pada tanggal 9 Agustus 2019 dan diterima dengan sangat baik. Ide jambore komunitas DJP langsung direspon positif oleh Kakanwil DJP Jakarta Khusus, Budi Susanto dengan bersedia menjadi tuan rumah. Apalagi Dirjen Pajak, Robert Pakpahan bersedia hadir dalam perhelatan besar itu. 

Gayung bersambut, niatan baik dan dorongan dari pimpinan disambut hangat oleh teman-teman komunitas lainnya. Dengan kesungguhan dan sinergi yang menakjubkan akhirnya dengan persiapan kurang dari 1 bulan niatan tersebut dapat diwujudkan (salah satu manfaat Community of Interest adalah menguatnya sinergi).

Puluhan Komunitas Berpartisipasi

Keriuhan sebenarnya telah dimulai sejak  Jumat pagi (30/08). DJP geger  Seorang anggota  komunitas Genjot Pajak, sahabat saya Slamet Riyanto, bahkan "nekat" menempuh jarak 158 km Bandung- Jakarta dengan sepeda kesayangannya demi acara ini. Dia bisa jadi adalah visualisasi nyata dari kalimat penyemangat yang sering kita dengar dari para motivator bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.  Baginya mungkin jarak 158 KM serasa sedepa. Entahlah! Saya hanya punya satu kata untuknya. Menjura!

Slamet Riyanto dari Komunitas Genjot Pajak

Keesokan hari tepat pukul 06.00 WIB dari sebuah kantor di bilangan Tebet, tepatnya KPP Pratama Jakarta Tebet. DJP Runners (komunitas pecinta olah raga lari) menginisiasi Fun Run 6 km yang dimulai dari sana dan berakhir di kompleks pajak Kalibata. Tidak kurang 50 orang pelari turut serta dalam acara tersebut.

DJP Runners 

Belasting Rijder
Berturut kemudian Genjot Pajak (komunitas pecinta olah raga bersepeda) dan Belasting Rijder (komunitas motor) yang melakukan serangkaian konvoi merapat ke tempat yang sama.

Sungai Deras Band

Di lokasi sebagai pertanda dimulainya acara tepat pukul 07.30 WIB empat buah lagu mulai dari Everybody's Changing milik Keane sampai Jingle Pajak persembahan  dengan apik oleh Sungai Deras Band (band KPP Pratama Jakarta Kalideres). 

Yang paling menakjubkan adalah sebanyak 23  komunitasmulai dari komunitas olah raga, sosial, hobby dan kolektor sampai seni dan musik  hadir dalam acara jambore. Saya terperanjat - yang ini disebabkan terbatasnya lingkup pergaulan saya -  tidak menyangka begitu  banyak komunitas di DJP.  Dengan segala keunikannya, beberapa bahkan telah menoreh prestasi dan membawa harum nama institusi (suatu hari nanti saya saya berharap ada yang menulis satu persatu tentang komunitas DJP).

Karya Kodaku Chapter DJP

Ada satu part yang hampir saja luput untuk saya ceritakanketika mampir ke salah satu booth milik TUC (Tax Underground Community). Saya berjumpa dengan beberapa anggotanya, salah satunya yang saya kenal adalah Didik  Yandiawan. Didik bercerita bahwa TUC adalah komunitas para pemerhati, pengarsip, dan pegiat musik metal dan rock. Sesungguhnya saya tidak paham musik metal, jadi yang akan saya ceritakan jelas bukan soal itu. 

Selama berada di booth TUC, Didik banyak bercerita dan saya mendengarkannya dengan seksama. Sambil menunjuk sebuah kaset dia bercerita,"Ini kaset Kompilasi Sewindu Dekadensi berisi 12 lagu. Rilis pada tahun 2016 dan hanya 50 keping. Seluruh hasil penjualan didonasikan ke World Wildlife Fund Indonesia untuk konservasi Harimau Sumatera."

Sebelum saya meninggalkan booth, Didik bercerita lagi bahwa di acara jambore ini TUC juga melakukan penggalangan dana yang seluruh hasil donasinya akan disalurkan ke Yayasan Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI). 

Kaset Sewindu  Dekadensi akarya TUC
Mereka yang berpartisipasi adalah:
1. Taxic ( music enthusiast )
2. Belasting Rijder ( Sepeda Motor )
3. Drebels ( Honda Rebel Riders )
4. DJP Runners ( Lari )
5. DOF ( Fotographi )
6. Paguyuban Fiskus Indonesia
7. DJP Cantik
8. Genjot Pajak ( Sepeda )
9. TUC ( Musik )
10. Tax Army ( Sepak Bola )
11. Billiard Community
12. DJP Friendship Choir
13. Belasting Dragon ( Bola Basket )
14. Kodaku Chapter DJP ( Die Cast )
15. KompakDJP ( Panahan )
16. DJP Dronie ( Drone Camera )
17. DJP Kopiholic ( Kopi dan Barista )
18. DJP Rakom ( Radio Komunikasi )
19. Komunitas Sastra Kemenkeu
20. Tax Creative
21. Pion Pamungkas. ( Catur )
22. Tax Angler Community ( Memancing )
23. Tax Blood ( Donor Darah )

Knowing Your Employee

Jambore komunitas DJP mengusung tema Pajak Merajut Negeri dapat dikatakan  menjadi penanda begitu terbuka lebar dan hangatnya peluk institusi bagi perkembangan mereka. Beragamnya komunitas di DJP juga memberi sinyal kuat bahwa sesungguhnya perbedaan bukan sesuatu yang mesti diperdebatkan. Jika dikelola dengan baik masing-masing dapat bersinar dan menjadi terang untuk semua. 

Dalam sambutannya, Robert Pakpahan menyampaikan sebuah pesan yang menurut saya menjadi inti sari dari kegiatan ini yang sejalan dengan tema yang diusung,"Kita adalah satu, kita tetap inklusif, kita tetap toleran, kita tetap saling menghormati, kita tetap saling bahu membahu, walau berbeda suku, agama, dan komunitas."

Dirjen Pajak membuka acara
Di sisi lain dengan memberi ruang yang sama bagi tumbuhnya beragam komunitas, sejatinya memberi bukti bahwa bukti budaya organisasi, knowing your employee, telah diimplementasikan dengan begitu indahnya.

Komunikasi begitu cair dan membaur. Inklusif seperti yang dibicarakan dalam sambutan Dirjen Pajak bukan omong kosong. Saya melihat bagaimana teman saya Latief dari komunitas Pion Pamungkas, beradu bidak di atas papan catur dengan Staf Ahli Menkeu, Suryo Utomo. "Ayo Kamu nggak boleh ngalah  sama Pak Suryo," Direktur P2Humas, Yoga Saksama yang saat itu menjadi salah satu penonton berseloroh. Yang diajak bicara hanya tersenyum. Saya turut serta menyemangati Latief. Kapan lagi bisa beradu strategi dengan Staf Ahli Menkeu apalagi bisa mengalahkannya, kan?

Tarung Pion Pamungkas 
Saya mungkin satu dari sekian banyak teman-teman yang menjadi sentimentil selama acara berlangsung, ketika para petinggi DJP berbaur dan bernyanyi lagu  Yamko Rambe Yamko dari Papua.

Doddy Katamsi diiringi Taxic 
Senang rasanya melihat mereka begandengan tangan membentuk lingkaran dan berjoget bersama saat Doddy Katamsi menyanyikan lagu I Want To Break Free milik Queen. 







Tidak cukup sampai di sana, rasanya pantas juga saya merasa terharu. Pernah suatu ketika dalam obrolan ringan seorang kawan berucap,"buat anak buah seperti saya ini tidak usah sampai diajak bicara akrab dengan atasan, saat di kantor lama Kepala Kantor saya sering keliling ruangan.  Tepuk-tepuk bahu anak buah. Kami rasanya sudah senang bukan main."


Ketika Dirjen Pajak menyambangi satu persatu booth. Berbincang sejenak  dengan anggota  komunitas.  Memberi tepukan  kecil di bahu mereka dan bersedia berada satu frame dengan mereka. Saya tidak bisa melupakan rona bahagia di wajah teman-teman saya.



Tetiba saya teringat pada teman saya itu, benar ucapkan tepukan kecil dan bincang ringan meski terlihat sepele adalah bentuk dukungan yang setulus-tulusnya. Secara keseluruhan, di hari ini saya melihat DJP dari sisi yang lain. Lebih humanis. Lebih ceria. Lebih bahagia

Terakhir saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah quote dari Ann M.Mulcahy, “Employees who believe that management is concerned about them as a whole person – not just an employee – are more productive, more satisfied, more fulfilled. Satisfied employees mean satisfied customers, which leads to profitability.”

---
Belalang Sipit
01/09/2019
Read More