Sunday, July 28, 2019

Tuti Ismail

TAXIC: Dari Komunitas Untuk Reformasi Perpajakan

Hari Pajak 2019

Hari Pajak 2019 yang baru lalu menjadi titik awal lahirnya komunitas di DJP. Tepat di tanggal 14 Juli 2019, Dirjen Pajak Robert Pakpahan meresmikan (Grand Launching) Tax Music Community (TAXIC) sebagai komunitas pecinta musik yang ada di DJP.

Sebenarnya sebagai sebuah komunitas, TAXIC telah berdiri sejak tanggal 1 Februari 2019. Idealis dan konsep, logo serta nama telah rampung dibahas pada saat itu. Kantin Kita, Lantai Semibasement, Gedung Mar"ie Muhammad menjadi saksinya.

Dari perbincangan saya dengan dua di antara beberapa inisiator komunitas, Aris Jatmiko dan Laksmi Indriani diketahui bahwa TAXIC dimaksudkan untuk menjadi  rumah bagi pegawai DJP, mantan pegawai, Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN) atau yang kita kenal dengan sebutan pramubakti dan satpam yang memiliki minat pada musik (Community Of Interest/COI). Sebagai komunitas yang tumbuh dalam institusi, maka tidak mengherankan jika kemudian komunitas ini  mengusung motto Work - Music - Inspiring.

Grand Launching TAXIC oleh Dirjen Pajak Robert Pakpahan 

Dari atas panggung yang berdiri di halaman Kantor Pusat DJP,  Dirjen Pajak menyampaikan harapnya. Kelak kiranya komunitas yang ada di DJP dapat menjadi perekat dan corong dalam penyebaran informasi baik di internal maupun ekternal DJP. 

Sebagai informasi di DJP tidak hanya memiliki satu komunitas. Ada banyak yang lainnya yang sedang berkembang seperti komunitas sepeda, sepeda motor, fotografi, menulis,  pecinta rokok marginal, pecinta audio analog, design grafis, olah raga (seperti lari, basket, voli dan catur) dan yang lainnya. Tanpa mengurangi porsi perhatian pada pekerjaan utamanya mereka dengan sangat asik menggeluti minatnya amsing-masing. Hal serupa pun sebetulnya juga terjadi pada tingkat Kementerian Keuangan yang ditandai dengan keberadaan  Komunitas Sastra Kemenkeu yang disingkat KSK (beberapa pegawai DJP yang tercatat aktif sebagai anggotanya). Karenanya harapan yang sama tentu juga diletakkan pada pundak mereka.  Terlebih saat ini DJP sedang melaksanakan Reformasi Perpajakan Jilid III (2017 - 2024). Sebuah pekerjaan besar yang sangat mustahil bisa dilakukan oleh segelintir orang saja. Reformasi perpajakan butuh dukungan bersama.



Komunitas, Wujud Nyata MBWA 

Tidak ingin tanggung-tanggung, dalam Reformasi Perpajakan Jilid III secara serentak DJP malakukan perubahan pada 5 pilar penopang insitusi perpajakan, yaitu organisasi, Sumber Daya Manusia (SDM), TI dan basis data, proses bisnis dan peraturan perpajakan. Seungguh sebuah langkah besar yang tidak mungkin sepi dari tantangan.

Berdasarkan penelitian McKinsey (2008) tantangan terbesar yang dapat sebabkan kegagalan program perubahan justru berasal dari pihak internal sendiri, yaitu resistensi pegawai. Faktor utama yang mendorong timbulnya resistensi adalah ketidaktahuan serta kejelasan atas konsep perubahan dan bukan pada perubahan itu sendiri. Penyebabnya adalah tersumbatnya keran-keran informasi yang menghubungkan institusi dengan pegawai. Untuk itu diperlukan strategi komunikasi yang jitu yang dapat ditempuh lewat jalur formal (hierarki) maupun secara informal.

Dari sisi informal, komunikasi dapat dapat ditempuh melalui Management by Walking Around (MBWA). Penerapan nyata MBWA adalah dengan mewujudkan penerimaan sosial (social acceptance) misalkan dengan cara tatap muka dengan pegawai lewat family gathering, kegiatan Internal Corporate Value (ICV), atau mendorong terbentuknya komunitas dalam institusi.

Membangun social acceptance dalam intistusi sangat penting, seperti diungkap McShane dan Von Glinow (2010) bahwa,"one of the best communication channel is by social acceptance refer to how well the communication medium is approved and supported by the organization, terms and individuals". 

Komunitas Memegang Peran Penting

Beberapa keunggulan membangun komunitas pada sebuah institusi, yaitu:

Pertama, membangun kecintaan, kepedulian dan rasa memiliki pada institusi. Harus diakui sangat sedikit dari kita yang ketika awal menggeluti pekerjaannya saat ini semata didorong oleh kecintaan pada pekerjaan atau minat dan bakat (passion). Kebanyakan justru berdasarkan pada hasil kompromi dengan banyak hal, orang tua, keadaan (ekonomi) atau gengsi. Termasuk juga saya (pada mulanya). 

Terlalu mengada-ada rasanya jika saya yang anak A1 (pada tahun 1993 jurusan di SMA terbagi 3 yaitu A1 / Fisika, A2 / Biologi dan A3 / IPS) mengatakan memilih kuliah jurusan akuntansi, lalu bekerja di DJP karena didorong oleh rasa suka pada pelajaran akuntansi dan pajak. Bagaimana mungkin? Di tahun itu, anak IPA tidak belajar akuntansi. Pajak tidak diajarkan di sekolah. Alih-alih mencintai bertemu saja tidak pernah. Berbeda dengan anak SMA jaman sekarang yang juga mempelajari akuntasi sebagai mata pelajaran peminatan. 

Padahal seperti kita ketahui bersama sebuah institusi akan menjadi kuat jika ditopang oleh anggota yang mencintai institusinya dengan sepenuh hati.

Pun begitu apa yang saya utarakan tentu tidak boleh dijadikan pembenar untuk tidak bertanggung jawab pada pekerjaan. Namun seharusnya justru dipakai sebagai pijakan segala upaya kita untuk dapat mencintai pekerjaan demi hasil yang maksimal.

Saya sungguh percaya tidak ada yang tidak bisa diupayakan. Kecintaan dan rasa memiliki bisa ditumbuhkan dengan memberi ruang yang cukup bagi pegawai untuk membentuk komunitas sesuai minat masing-masing. Secara otomatis kebersamaan mereka akan membangun keterikatan dengan insitusi dan pada akhirnya mendorong tumbuhnya rasa cinta dan memiliki.

Karenanya tidak berlebihan jika saya berpendapat intitusi yang secara sadar membangun dan mendorong tumbuhnya komunitas dalam dirinya bisa dibilang sebagai institusi yang modern. Sangat boleh juga jika kemudian kita memberi label para pemimpinnya sebagai pemimpin yang progresif dan berupaya keras untuk mengenal lebih jauh anggotanya (knowing your employee) guna menciptakan iklim kerja yang bergairah, kreatif dan dinamis. Jika pegawai sudah merasa dicintai rasanya mustahil akan menghianati, bukan? 

Kedua, meminimalisir salah tafsir (misinterpretation) dalam berkomunikasi. Adanya  kesamaan bahasa adalah kunci dalam komunikasi yang efektif. 

Suatu hari pada awal masa perkuliahan saya di tingkat 1, seorang dosen bercerita di dalam kelas dengan maksud sebagai intermezo dari mumetnya belajar akuntansi. Kurang lebih begini yang ia sampaikan,"keluarga saya sering mengeluhkan sulitnya berbicara dengan saya. Misalkan ketika meminta saya segera mandi. Meski diperintah berkali-kali saya tetap bergeming. Kakak saya lalu mengatakan, mungkin jika berbicara dengan saya baiknya lewat angka-angka. Debet kredit. Itu karena saya adalah anak akuntansi."

Bertahun kemudian saya baru memahami apa yang dosen saya itu maksudkan. Untuk komunikasi yang efektif gunakan bahasa yang sama dengan lawan bicara. Kebanyakan komunikasi menjadi gagal total karena masing-masing pihak berada pada frekwensi yang berbeda. Dalam sebuah komunitas (COI) yang didasari oleh perminatan yang sama rasanya persoalan tersebut menjadi sangat minim. Segala informasi dan transfer ilmu yang disampaikan menjadi lancar dan minim dari salah duga (misinterpretation).

Ketiga, mendapat masukan (feedback) yang berkualitas. Sebuah pekerjaan adalah rangkaian yang tidak pernah putus, seperti sebuah pita yang dililitkan pada sebuah roda. Dimulai dengan perencanaan, pelaksanaan, monitor dan diakhiri oleh tindaklanjut. Begitu seterusnya menggelinding hingga mencapai tujuan.

Lewat komunitas, institusi mendapat peluang untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya dan sejujur-jujurnya dari pegawai. Tanpa mengesampingkan rasa saling menghormati (respect), sekat antara atasan dan bawahan menjadi setipis kulit bawang. Kedekatan semacam itu sudah barang tentu didasari oleh saling percaya dan sudah pasti baik bagi institusi.

Keempat, membangun image postif bagi institusi. DJP sebagai institusi yang diamanatkan mengumpulkan pajak dari masyarakat haruslah memiliki image yang baik di masyarakat. Utamanya adalah sebagai institusi yang luwes, asik dan  dapat dipercaya dengan tetap berpegang teguh pada integritas. Ibarat sekeping mata uang yang memiliki dua sisi yang sama berharganya, pada titik inilah komunitas mengambil peran penting yaitu dengan menunjukkan sisi humanis intitusi perpajakan. Karena perlu diingat bahwa pemungutan pajak yang  baik dihadapkan pada tantangan sulit yaitu ibarat mencabut bulu angsa sebanyak-banyaknya dengan teriakan angsa sekecil-kecilnya. "The art of taxation is the art of plucking the goose so as to get the largest possible amount of feathers with the least possible squealling" (Jean Baptiste Colbert).

Terakhir teruntuk para pemimpin yang bijaksana, penggiat komunitas, dan anggota komunitas saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah quote mahsyur dari Henry Ford,"kebersamaan adalah permulaan. Menjaga bersama adalah kemajuan. Bekerja bersama adalah keberhasilan."

---
Belalang Sipit
28/07/2019
Read More

Saturday, July 27, 2019

Tuti Ismail

Sik Sik Saya Suka Musik

Hari Pajak 14 Juli 2019

Hampir setiap hari kerja saya berjumpa dengan seorang anak kecil dan ibunya di kereta. Di pagi-pagi buta. Secara kebetulan kami naik dan turun di stasiun yang sama. Sama seperti saya, ibu si anak kecil juga seorang pekerja. Tepatnya sebagai seorang guru TK dan anak kecil berpipi bakpao yang bersamanya adalah salah satu muridnya.

Tidak sampai satu bulan setelah pertemuan pertama kami mulai akrab. Kalau bertemu dia selalu menyapa lebih dulu dan dengan takzim mencium tangan saya. Saya sering membawakan sebungkus wafer kesukaannya. Dia membalasnya dengan cerita panjang soal liburan, film kesukaannya atau kegiatan di sekolahnya. Saya balas lagi dengan tatapan antusias dan kedua telinga yang terjaga hanya untuk tiap ceritanya. Anak kecil yang tahun ini baru naik ke kelas TK B punya tawa yang renyah dan senyumnya yang lebih manis dari secangkir kopi sasetan.  Dia memanggil saya Tante Tuti dan saya memanggilnya Abang (katanya panggil saja begitu, karena menurutnya saya pasti kesulitan mengingat namanya).

Kemarin kami jumpa lagi di stasiun. Lalu naik kereta di gerbong yang sama. "Tante bawa tempat minum," katanya sambil menunjuk botol minum yang saya pegang. Pejalanan saya dari stasiun ke kantor menghabiskan waktu hampir 1,5 jam. Bahkan kalau dihitung sejak keluar rumah bisa lebih dari itu. Karenanya pastilah membuat kering tenggorokan. Sebetulnya di hari-hari lain bukan tempat minum yang buasa saya genggam, tetapi sebotol air mineral kemasan. Baru kira-kira  seminggu ini saya membawa tempat minum (tumbler). Biar cuma menghemat menyumbang satu botol plastik rasanya baik juga saya lakukan. "Bagus kan. Mirip sama tempat minum Abang ya?" tanya saya.  "Nggak. Itu mirip kaya tempat minum anak play grup. Kecil banget soalnya," jawabnya polos.

Dalam perjalanan dia bercerita hari ini tetap masuk sekolah. Bukan hanya murid,  orang tua juga harus datang. Hari tiap orang tua murid harus datang dan membacakan buku. Saya tanya,"wah asik. Dibacakan buku biar apa,Bang?" Dia melirik mamanya, lalu menyanyikan sebait lagu. Liriknya saya ingat begini,"ayah ibu bacakan aku buku. Agar aku pintar." Saya tersenyum mendengarnya. Menarik, mengingat bagaimana anak menjawab pertanyaan saya.

Kita semua pasti ingat bagaimana dulu semasa kecil kita banyak menghapal banyak hal lewat sebuah lagu. Bapak dan ibu guru paling pintar soal ini. Contoh nyata adalah bagaimana kita dengan mudah menghapal nama-nama hari,"senin, selasa,  rabu, kamis, jumat, sabtu, minggu itu nama-nama hari."

Atau yang lebih sulit dan panjang seperti 20 sifat wajib Allah,"wujud, qidam, baqo, mukholafatu lilhawaditsi, qiyamuhi bi nafsihi, wahdaniyah, qudrat, irhadat dan seterusnya." Pernah ketika ujian di sekolah dan ditanya sifat Allah SWT yang ke 15, sebelum menjawab dengan lantang saya senandung  lagu barusan. Menghapal bukan lagi jadi momok yang menakutkan. Dengan lagu atau musik proses belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Saking cairnya lagu masuk ke dalam ingatan kita, keponakan saya yang lugu pernah ketika diminta menyanyikan lagu perjuangan di muka kelas dengan gagah menyanyikan lagu sebuah partai politik. Dia tidak salah, lagu itu memang terdengar begitu patriotik. Terlebih saat itu setiap hari ia mendengar dan melihatnya diputar di sebuah stasiun televisi.

Bukan hanya sebagai media dalam proses belajar, musik juga dapat digunakan dalam proses penyembuhan. Sejalan dengan itu seperti dilansir Tirto.id. (15/11/2016) Christ Billy seorang pakar musik berpendapat bahwa mendengarkan musik di saat yang tepat dapat mempengaruhi psikologis pendengarnya. Musik diyakini mampu mengubah suasana hati, menambah fokus, membuat lebih produktif  dan dapat membantu lebih rileks.

Dalam sebuah iklan atau propaganda, musik atau lagu memegang peranan penting. Saya masih terngiang lagu KB yang kerap diputar di televisi pada akhir tahun 70-an. Di tahun itu pemerintah tengah mencanangkan progran Keluarga Berencana. Punya anak cukup 2 saja. Meski tidak menafikkan upaya pemerintah yang lainnya, saya rasa propaganda yang dilakukan pemerintah lewat lagu KB menjadi salah satu sebab berhasilnya program tersebut.

Statistik menunjukkan, tahun 1971-1980 rata-rata laju pertumbuhan penduduk per tahun 2,31%. Pada dekade berikutnya, 1980 -1990 ditekan menjadi 1,98%, dan pada dekade berikutnya lagi menjadi 1,49%.

Lewat seorang seniman yang handal seperti Pakde Didi Kempot, patah hati menjadi tidak lagi populer untuk tangisi tapi lebih pantas dijogeti. Sebuah fenomena yang sungguh menarik. Tidak heran jika kemudian karena kepiawaiannya ia menyandang gelar 'the godfather of broken heart'.

Seandainya apa yang saya urai di atas diaplikasikan di dunia perpajakan kita, kira-kira bagaimana ya dampaknya?

Sungguh saya menanti seorang anak seperti keponakan saya, dengan gagah berani menyanyi di depan kelas membawa lagu tentang pajak. Ketika dewasa bisa jadi dan sangat mungkin kesadaran pajak akan tumbuh dengan sendirinya.

Saya yakin tidak seperti pungguk yang sedang merindukan bulan. Mimpi saya (inklusi pajak) barangkali setinggi langit, tapi langit saya adalah langit yang terlihat.

---
Belalang Sipit
27/07/2019
Read More

Sunday, July 21, 2019

Tuti Ismail

Gerbong Lengang dan Jalan Memutar Frank Thiess


Kalau ada yang bilang bahwa semua kejadian ada hikmahnya dan pasti yang terbaik untuk kita, kamu mesti pecaya. Itu nasihat ibu saya. Mengingat semua yang terjadi semasa hidupnya tentu tidak ada alasan bagu saya selain percaya. Bukan cuma 100% tapi 3000%.

"Jangan khawatir, kamu pasti bisa tinggal jauh dari rumah. Ibu yakin kamu bisa menyesuaikan diri. Kamu pasti akan jumpai kegembiraanmu di sini," begitu nasehatnya waktu pertama kali kami menginjakkan kaki di kamar kost saya yang mungil di jalan Kalimongso, Jurangmangu. 

Kamar berukuran 2 x 3 m dengan  tempat tidur susun ukuran 100 x 200 cm, dua lemari kecil. Rumah kost yang saya tempati tanpa pesawat televisi. Setelah melewati hari-hari dengan teman sekamar akhirnya saya menyadari telah menemukan "kegembiraan" yang ibu maksud. Tidak perlu waktu lama. Kegembiraan datang sejak malam pertama saya di Kalimongso. Sejak malam itu hingga berminggu-minggu kemudian saban malam saya terjatuh dari tempat tidur. Berminggu-minggu pula saban tengah malam saya dan teman sekamar tertawa. Sakitnya sebetulnya tidak seberapa, tapi malu sungguh tidak tertahankan.  

Tiap malam saya menyandarkan punggung ke dinding kamar. Saya tajamkan indera pendengaran. Kamar kost saya bersisian dengan ruang tamu pemilik kost. Lumayan, meski tidak bisa lihat gambarnya saya bisa dengar jelas dialog sinetron yang sedang diputar ibu kost. Mirip seekor Ngengat, indera pendengaran saya kian hari kian tajam. Dan di awal tahun 1994 rasanya makin tajam saja. Sinetron Doel Anak Sekolahan sedang populer saat itu. Saya bisa membayangkan betapa lucunya saat Atun terjebak dalam Tanjidor. Betapa girangnya Babe saat Doel jadi tukang insinyur.

Meski mempercayainya, sialnya saya lebih banyak lupa dari pada ingatnya. Berkali terlintas juga rasa tidak nyaman ketika sesuatu hal pertama kali terjadi. Misalnya ketika berada di lingkungan atau teman baru. Setelah bertahun terbiasa dengan lalu lintas di Pontianak, ketika akhirnya kembali lagi saya tergagap juga  dengan padatnya Jakarta. Berada di jalanan sejak matahari masih terlelap dan kembali ke rumah lepas senja bukan sesuatu yang mudah. Ditambah tiap hari mesti berlaga sebagai seekor Makarel yang berdesakan di dalam kaleng. 

Bagaimana bisa saya lupa, tubuh kita ini 70% nya adalah cairan. Jangankan menemukan "kegembiraannya" menyesuaikan diri diberbagai keadaan pun pasti bisa. Seberapapun sulitnya. Seember air bila dituang ke dalam botol akan menjadi sebotol air. Apapun wadahnya bagi air tidak akan menjadi persoalan, bukan?

Barangkali inilah jalan bagi saya untuk menemukan "kegembiraan" seperti kejadiaan 26 tahun yang lalu. 

Ketika masinis mengumumkan commuter line telah tiba dan pintu terbuka lebar di Stasiun Jatinegara dengan mantap saya langkahkan kaki ke luar gerbong. "Kereta ke Duri di mana, Pak," tanya saya pada petugas di stasiun. Petugas menunjuk ke jalur seberang.

Perjalanan tidak seperti biasanya. Kereta yang saya tumpangi sekarang tetap akan berhenti di stasiun yang saya tuju setiap hari, Duri. Bedanya kereta akan berjalan memutar melewati Stasiun Pasar Senen, Kemayoran, Kampung Bandang, Angke lalu Duri. Tidak akan lagi saya jumpa dengan Stasiun Manggarai yang padat. Sampai jumpa lain waktu Sudirman, Tanah Abang dan Karet.

Saya bergegas menuju ke kereta yang dimaksud. Jam menunjukkan pukul 05.45 wib. Kalau tidak ada halangan 11 menit lagi kereta akan berangkat. Lampu di dalam gerbong telah menyala. Mesin pun telah menyala. Heran ke mana para penumpang. Bangku di dalam gerbong baru terisi beberapa. Gerbong begitu lengang. Ingin rasanya berlari-lari dari gerbong yang satu ke gerbong yang lain. Hal yang tidak akan bisa saya lakukan jika berada di kereta biasanya. Saya duduk dengan tenang. Sambil menyandarkan kepala ke dinding gerbong saya memejamkan mata. Seperti seekor ayam dengan kelopak dan bola mata yang bergerak-gerak saya tertidur. 

Sesampaikanya di Duri laksana seorang putri yang bosan dengan kereta kencananya, dengan mudahnya saya ganti. Lalu bersandar lagi di dinding gerbong dan tertidur seperti seekor ayam. Dengan sebuah langkah baru, hal yang dulu tidak bisa dilakukan dapat saya lakukan kini. 

Saya lupa bahwa air tidak hanya bisa mengalir, tapi juga bisa menetes bahkan merembes untuk menuju wadah barunya. Tidak pernah hanya ada satu jalan, selalu tersedia jalan yang lain. Mungkin akan lebih sukit, lebih jauh atau bahkan lebjh gidaj enak. namun selalu ada pilihan, tinggal kita mau atau tidak untuk mencari dan menempuhnya. Seperti yang dibilang seorang penulis dan penyair Jerman Frank Thiess (1890 - 1977), Das Leben Besteht hauptsachlich aus Umwegen. Hidup terutama terdiri dari jalan yang memutar.

---
Belalang Sipit
21/07/2019
Read More

Saturday, July 13, 2019

Tuti Ismail

TAXIC : Kupetik Gitar



Matahari telah pamit pulang saat saya bersama seorang kawan berjalan menyusuri basement Gedung Utama DJP menuju Kantin Kita.  Para pegawai telah berangsur pulang. Kantor telah lengang saat itu. Tidak ada lagi pegawai yang berjejal di dalam lift. Waktu menunjukkan pukul 18.30 wib pada Jumat, 28 Juni 2019. 

Adalah Mas Aris Jatmiko dan Mbak Laksmi Indriani (Jeanny), kedua sahabat kental saya yang "memaksa" untuk datang. "Mas, saya nggak bisa main gitar. Nggak ngerti.  Di sana ngapain?" begitu alasan saya saat ia mengabari soal acara guitar clinic.  Alasan lainnya adalah kantor saya yang berada di ujung Jakarta Barat sangat jauh dari tempat diadakannya acara. Keduanya tidak putus asa meyakinkan. Meski tidak bisa memainkan alat musik tidak ada larangan untuk hadir ke acara musik, begitu kata mereka.  

Kedua sahabat yang saya sebut namanya di atas adalah dua di antara beberapa tokoh penggagas TAXIC (Tax Music Community). TAXIC sendiri adalah komunitas para pencinta musik di DJP.

Setelah saya pikir benar juga apa yang meraka bilang. Untuk mencintai musik tidak harus pandai memainkan alat musik. Ya,  saya menikmati petikan gitar si bungsu ketika memainkan soundtrack drama Korea Endless Love.  Meski agak tersendat karena dia meniru seseorang yang memainkannya di youtube, hati saya terbawa haru juga. Ingat pada kisah kasih Song Seong-heon (Yoon Joon-suh) dan Song Hye-kyo (Yoon Eun-suh) yang berakhir pilu.

Ya,  pun seandainya saat ini tidak bisa,  bukankah semua orang yang kemudian kita beri label "mahir"  juga memulainya dari sebuah keadaan yang kita sebut tidak tahu apa-apa? 

Suara petikan senar gitar dari si pemilik  album solo yang berjudul Encore memeluk malam. Jemarinya lincah bergerak.  Berpindah dari senar yang satu ke yang lainnya. Mata saya tak sanggup beranjak darinya.  Jika kamu pernah berimajinasi ada orang yang memiliki 12 mata saya kira dia lah orangnya. Dua matanya berada di tempat yang semestinya, sementara yang lainnya ada di tiap jemarinya.  

Jemarinya dengan berani memetik senar-senar gitar. Makin lama makin cepat,  bergegas seperti seorang pemetik daun teh yang berlomba dengan seekor ulat. Lambat sedikit saja habis sudah pucuk daun tehnya. Bisa gagal panen hari itu.   

Sejujurnya hingga kini, ketika saya menuangkan tulisan ini  masih juga terheran bagaimana bisa ketika jempol dan telunjuk kanannya kuat menggengam pick bergerak serasi  dengan jemari lainnya memetik senar. Seketika saya merasa sedang berdiri di pinggir kebun teh. Tercenung melihat mereka beraksi.  Sekarang bukan hanya seorang pemetik teh yang saya lihat, tapi ada empat lainnya di sana. Ketika jemari kanannya memetik senar, jemari kirinya bergantian menekan senar di ujung gitar. Saya menghela nafas kuat-kuat. Karena ulahnya saya sampai lupa telah menahan nafas sekian detik. Mungkin begitu pula yang dirasa para pecinta musik yang saat itu memenuhi Kantin Kita. Jemari itu,  ah pasti benar adanya memang memiliki mata.

Zendhy Herdian Kusuma atau yang kita kenal dengan nama Zendhy Kusuma, dia lah si empunya jemari itu.  Seperti dilansir oleh Yamaha.com, Zendhy Kusuma adalah seorag gitaris independen Indonesia.  Telah banyak penghargaan internasional yang ia raih, di antaranya menerima gelar kehormatan dari LRSL (Licentiate of Rockschool Level)  London dan juga FLCM (Fellowship of the London College Music)  University  of West London. Sebuah sekolah musik bernama Sekolah Musik Istana Nada telah berdiri atas inisiasinya. Pada mulannya ketika masih duduk di bangku SMP Zendhy menekuni gitar klasik. Lalu mencoba bereksperimen ke gitar elektrik. Zendhy Kusuma satu dari sedikit seorang yang bisa kita beri label "mahir" di bidangnya. 

Berganti-ganti kami bertanya dan Zendhy Kusuma dengan sabar menjawab. Sejujurnya tidak seluruh pertanyaan dan jawabannya saya mengerti benar. Sebenarnya demikian pula dengan lagu-lagu yang dia bawakan, bukannya tidak bagus hanya tidak akrab sahaja di telinga. Pun begitu saya menikmati betul malam itu. Menikmati kepiawaiannya bermain gitar. 

Untungnya Zendhy berbaik hati melantunkan instrumen lagu milik Andre Hehanusa yang berjudul Karena Kutahu Engkau Begitu alias KKEB (salah satu lagu yang dia kulik pada saat mulai belajar bermain gitar). Lagu yang populer pada tahun 1995. Lirik KKEB dan melodinya sangat pas dengan petikan gitar. Berikutnya lagu Mr.  Big  yang populer di tahun 1993, Wild World (lagu yang pertama ia kulik).

Jadilah seisi ruangan (besar kemungkinan seusia dengan saya karena begitu fasehnya menyanyikan KKEB)  tanpa ada yang memberi komando menyanyikan lagu itu. 

Sebetulnya sebelum Zendhy Kusuma berhasil tampil memukau, dia telah terpukau lebih dulu oleh para pecinta musik yang hadir di Kantin Kita. Pada teman-teman saya yang tak kalah mahirnya memainkan alat musik dan mengolah suara. Sebuah lagu dari Jimi Hendrix yang berjudul Little Wing jadi salah satu buktinya. Mas Arief Hoeda begitu ciamik melantunkannya dan petikan gitar dari Erril Forensik menyempurnakannya.


Saya dan kawan lainnya tertawa bersamaan sewaktu Zendhy bilang betapa kagetnya dia ketika menyadari bahwa kami ini adalah pegawai negeri sipil (sekarang disebut ASN / Aparatur Sipil Negara) . Tidak menyangka. Zendhy Kusuma tidak salah, memang sejak lama ASN alias birokrat dipersepsikan sebagai sekumpulan pegawai yang "kaku", monoton dan mungkin membosankan. Padahal sesungguhnya tidak begitu. 

Di masa depan ketika pemerintahan berorientasi pada pelayanan,  seorang ASN  harus cair, dinamis dan hangat sebab mereka adalah pelayan masyarakat. Seperti sebuah pinangan yang berakhir ke pelaminan, rupanya apa yang ada dalam benak saya itu setali tiga uang dengan yang disampaikan Pak Peni selaku pembina Taxic bahwa yang terjadi malam itu adalah sesuatu yang baik. Komunitas yang sama diharap juga dapat berkembang di daerah-daerah lain. 


Pada akhirnya waktu jua yang memisahkan kami. Guitar clinic oleh Zendhy Kusuma berakhir tepat pukul 
21.30 wib. Meski saya hanya sedepa beranjak dari jurang ketidaktahuan tentang bagaimana memainkan gitar (yang ini bukan salah Zendhy,  tetapi karena jurang ketidaktahuan saya yang begitu dalam hingga sulit untuk digali), namun saya belajar dan juga mendapatkan banyak hal.  Bahwa benih ketekunan yang kita tanam pada akhirnya akan tumbuh menjadi pohon besar yang disebut kepercayaan diri dan berbuah manis yang kita namai keberhasilan. 
---
Belalang Sipit
13/07/2019

Read More