Saturday, May 18, 2019

Tuti Ismail

Cerpen : Question of Life

Pic by pixabay

Marlin memejamkan matanya. Lama dia berpikir apa jawaban apa yang harus diberikan pada putri semata wayangnya. Tangan mungil Lintang mengguncang bahunya,"Bunda apa jawabnya?" Marlin terkesiap. Matanya terbuka perlahan. Dahinya mengerut. Dipandanginya wajah Lintang yang bulat menggemaskan itu. Ah mengapa begitu sulit berucap. Seperti lilin yang terbakar,  tidak terasa air matanya meleleh. "Bunda lapar? Bunda mau berbuka puasa duluan?" suara anaknya mencoba menenangkan.  Marlin tersenyum. Dicubitnya pipi kanan Lintang "Bunda ndak lapar kok,  Dek. Eh itu sudah terdengar adzan Magrib. Ayo, kita berbuka," jawabnya.

******** 

Masih seperti sore-sore yang lalu, Marlin dan Lintang anak semata wayangnya duduk berdua di teras rumahnya yang luas. Keduanya dengan sabar menunggu maghrib datang. "Sekarang kita main apa, Bun?" Tanya Lintang sambil mengibaskan rambut panjangnya yang basah. Lintang baru saja selesai mandi sore. Wangi shampo bayi menyeruak.  Biar usianya sudah menginjak 8 tahun, Marlin enggan berbagi shampo dan sabun dengan Lintang.  Baginya Lintang tetaplah bayi kecilnya yang lucu, dab akan tetap begitu selamanya. 

"Bagaimana kalau kita main congklak? " pinta Lintang. "Kan kemarin sudah," jawab Marlin. "Kalau bekel gimana, Bun?" pinta Lintang lagi.  Marlin menggelengkan kepalanya. Dia pandangi gadis kecilnya itu. Lintang berpikir keras. Kedua tangannya memegangi kepalanya seakan ingin memerasnya. Mungkin dia pikir kepalanya itu macam kelapa,  yang bila diperas keluar santannya.  Marlin tertawa. "Bunda,  bagaimana kalau kita sore ini meniru-niru om Deddy Corbuzier," Lintang bersemangat. Yang dimaksud Lintang adalah permainan question of life yang biasa di mainkan Deddy Corbuzier di Hitam Putih. Salah seorang bertanya dengan memberi dua pilihan jawaban dan yang ditanya harus menjawabnya dengan cepat. Marlin menganggukkan kepalanya. Sepertinya seru juga. Ia mengiyakan keinginan anaknya. Jelang maghrib yang menyiksa kiranya bakal  sedikit terlupakan. 

Lintang berlari masuk ke dalam rumah, diambilnya mangkuk dan bedak tabur miliknya serta jam tangan miliknya. "Tapi Bunda harus cepat jawabnya. Waktunya paling lama 5 detik. Kalau telat nanti aku coret wajahnya pakai bedak," Lintang mulai memberi aturan permainan. "Ok. Bunda ndak takut. Siap-siap ya nanti banyak coretan di wajah Lintang," jawab Marlin. Lintang menjulurkan lidahnya tanda menerima tantangan dari bundanya. 

"Sayur atau buah?" Tanya Marlin memulai permainan. "Sayur," jawab Lintang. Lintang, kamu mirip ayahmu batin Marlin. Mas Yudi, ayah Lintang tidak suka semua jenis buah kecuali kurma. Sebetulnya ia suka kurma baru saja, karena baru tahu buah yang satu itu adalah kesukaan Rasulullah. 

"Tikus atau kecoak? "Ganti Lintang bertanya. Tangannya mulai dimasukkan ke dalam mangkuk berisi bedak. Matanya menatap jam tangan digitalnya. Pas detik ke lima Marlin menjawab,"Kecoak." Lintang kecewa,"Yah Bunda.  Padahal dikit lagi aku bisa coret pipi Bunda pakai bedak." Marlin tergelak. Dalam hati Marlin berjanji semudah apapun pertanyaan Lintang berikutnya ia akan pura-pura sulit menjawab. Biar ia senang. 

Di sela tawanya ujung mata Marlin tak kunjung lepas dari jalan di depan rumahnya. Lehernya serasa sepuluh  sentimeter lebih panjang dari biasanya. Sudah memasuki Ramadan hari ke delapan belas belum pernah sekalipun Mas Yudi berbuka puasa bersama mereka. Jangankan berbuka puasa di mall macam tetangga sebelah, di rumah pun tidak. Segelas air kurma hangat tidak hanya kedinginan, bahkan menjadi berfermentasi karena menunggunya pulang. Saban sahur Marlin mesti membuangnya. Sia-sia penantian si kurma. Kasihan.  "Bunda, Bunda nengok-nengok terus. Bunda nunggu Ayah? Bunda rindu Ayah ya?" Tanya Lintang. "Ah enggak. Bunda lagi mikir mau tanya apa lagi sama Lintang. Anak Bunda pinter,  semua bisa cepat dijawab," Marlin mengalihkan pembicaraan. Lintang jangan sampai tahu.  Tapi sepertinya dia tahu.  Biar bagaimanapun Lintang adalah belahan jiwa mereka, sedikit banyak mungkin dia rasakan juga apa yang tengah terjadi antara kedua orang tuanya. 

"Bantal atau guling?" Tanya Marlin memulai permainan. "Guling," jawab Lintang lantang. Hanya perlu satu detik bagi Lintang untuk menjawab.  Sejak kecil Lintang memang hanya akrab dengan guling.  Marlin tidak membiasakan putrinya itu tidur dengan menggunakan bantal. Ia dan Mas Yudi sempat berselisih paham karenanya.

Suatu hari ketika Lintang baru berusia sebulan Mas Yudi, ayahnya Lintang mengangkat anaknya yang sedang tertidur pulas. Diletakkannya sebuah bantal bayi sebagai alas tidur di kepala anaknya. "Mas, Lintang jangan dikasih bantal!" Jerit Marlin. "Biar, aku kasihan lihatnya. Kamu takut kepala anak kita jadi peang, ya? Takut nanti susah pakai konde? "Mas Yudi bersikeras. Kali ini dia malah menggoda Marlin. Santer beredar kabar di kalangan orang tua bahwa kepala bayi yang baru lahir itu masih lunak jadi mudah terbentuk jika salah posisi tidur. Penggunaan bantal yang keliru ditengarai jadi salah satu sebab kelapa bayi tidak simetris alias peang. Kabar buruk jika harus kondean. Masa iya pakai konde miring? "Jangan, Mas. Bahaya," buru-buru Marlin mengambil kembali bantal dari bawah kepala Lintang. Si jabang bayi menangis karena kaget, lalu disusul Marlin. Mas Yudi kaget. Dipeluknya istrinya itu seraya membisikkan maaf. 

Mas Yudi sungguh tidak tahu jika, Rin anak kakaknya Marlin yang juga keponakannya dulu meninggal dunia karena SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) alias sindrom kematian mendadak bayi. Saat itu entah bagaimana bantal yang dipakainya tidur berbalik menutupi wajah Rin yang mungil. Rin yang masih berusia sebulan tak berdaya, sulit bernafas dan akhirnya pergi untuk selamanya. Marlin menarik nafas panjang merindukan masa itu. Meski bertengkar, setidaknya antara dirinya dan Mas Yudi masih saling sapa. Masih ada bahan untuk menjadi topik pertengkaran. Lalu saling merayu,  berbaikan, bertengkar dan berbaikan kembali. Marlin tidak tahu kapan ritme itu berubah menjadi bertengkar lalu saling diam. Diam dan diam. Basah kuyup Marlin, menggigil ia dalam derasnya hujan kesunyian. "Kau yang berpaling dariku dan Lintang, Mas. Harusnya aku yang menghardikmu. Menyeretmu keluar dari hidup kami,  tapi mengapa justru aku dan Lintang yang kau hukum," ingin Marlin meneriakkan kata-kata itu di telinga Mas Yudi, kalau perlu hingga gendang telinganya pecah.  Namun ia tak kuasa. Ia begitu mencintai Mas Yudi. Marlin kebingungan mencari persinggahan untuk dijadikannya tempat berteduh. Kepada siapa resah ini akan dibagi.

"Bunda," panggil Lintang.  Tangan mungilnya menepuk-nepuk bahu Marlin. Marlin terjaga dari lamunnya,"iya,  Bunda dengar.  Sekarang giliran Lintang bertanya." "Bunda siap?" tanya Lintang . "Ok," jawab Marlin sambil membetulkan letak duduknya. Kedua kakinya ditekuk macam orang sedang duduk di antara dua sujud. Tangannya diletakkan di kedua pahanya. Ia tersenyum. Putrinya tidak berkedip mengamatinya. "Bunda cantik, tapi sekeliling mata Bunda sekarang kok hitam? Bunda warnai?" Lintang bertanya sambil memeluk Marlin. "Eh kok pertanyaan begitu. Mana pilihannya? Question of life loh ini,  Dek" Jawab Marlin.  "O iya sampai lupa," Lintang menjawab.  "Siapa yang paling  Bunda diinginkan sekarang.  Ayah atau sahabat Bunda?" Tanya Lintang. "Sahabat?  Siapa sahabatku," batin Marlin. Marlin gelaapan. Setelah menikah, di dunia Marlin hanya ada Mas Yudi dan Lintang. Marlin merasa tidak butuh siapa pun di dunia ini.  Hanya Mas Yudi yang pantas ada di sampingnya.  Cukup baginya Mas Yudi. Pria  yang ia gila-gilai sejak pertama kali bertemu. Pun sebaliknya.  Persetan dengan yang lainnya. 

Marlin memejamkan mata. Ingin rasanya berteriak. Ada batu besar yang menghimpit dadanya. Marlin mengaduk-aduk ingatannya. Ia mencari-cari di mana ia dulu pernah meletakkan Rachma, Tari,  Zulfa, Purwa, dan Tami dalam memorinya. Air mata Marlin meleleh mengingat betapa ia telah begitu angkuhnya melupakan mereka, sahabatnya dahulu. Puluhan kali ia mengelak dari rencana perjumpaan. Ada saja alasan yang dibuatnya. Kini, teringat olehnya betapa dulu mereka saling berbagi kisah. Bergembira dan menangis bersama. Tetes air mata Marlin semakin deras,  pikirannya kacau oleh rasa malu. Marlin tahu ia keliru. Dalam hidup mestinya ia hanya perlu memcintai dan membenci secukupnya.

Andai tak ada persoalan antara ia dan Mas Yudi ia ragu, masih pantaskah merengek meski dalam hati, "Tuhan, kembalikan mereka padaku dan kembalikan aku pada mereka."

******
Kedua tangan Lintang sudah mendarat di pipi Marlin ketika ia membuka matanya. Butiran bedak menyelinap ke dalam hidungnya,  hingga membuatnya terbatuk. "Bunda terlalu lama menjawab. Bunda kalah," Lintang bersorak, tak diperdulikannya jawaban bundanya. Padahal lirih tadi Marlin menjawab, "sahabat." Dipeluknya Lintang. Berterima kasih ia pada putrinya itu,"besok Bunda ajak Lintang ke rumah Tante Rachma, mau?" "Tante Rachma  siapa?  Sahabat Bunda?" Tanya Lintang. "Iya, " jawab Marlin. "Sahabat Bunda cuma satu? " tanya Lintang.  Marlin menyebut nama Tari,  Purwa,  Tami,  dan Zulfa. "Hore Bunda punya sahabat banyak," sorak Lintang. Puluhan pertanyaan Lintang tante-tantenya itu meluncur deras. Marlin kewalahan. Wajah Marlin  yang sedari tadi pucat kini memerah. Asanya bangkit. Kiranya masih ada tempat untuk sekedar singgah menyandarkan kepala yang nyaris lenyap karena putus asa, pada bahu-bahu kokoh yang bernama sahabat. 

====
Belalang Sipit
18/05/2019

Read More

Sunday, May 5, 2019

Tuti Ismail

Marhaban Ya Ramadan


"Bang, martabaknya dua ya. Coklat kacang," kata saya. "Iya, tapi sabar ya setelah ibu ini," jawab si abang martabak. Ibu yang dimaksud berdiri di samping saya, berbaju hijau dengan rambut di sasak. Dia tersenyum, saya balas dengan senyum yang sama lebarnya.

"Sebelum saya, ada ibu bertiga itu dulu. Mbak yang sabar ya," katanya. Ibu bertiga di samping kiri abang martabak mengangguk. Kalau anggukan ketiga ibu tadi dihitung berarti sudah lima orang yang mengingatkan saya untuk bersabar. Saya mengiyakan lagi. Dalam hati sesungguhnya saya bertanya-tanya kenapa banyak betul yang ingatkan saya supaya sabar? Belum sempat temukan jawaban, abang martabak tetiba bersuara,"Ibu ini pesan 21 loyang." Kalau tidak buru-buru saya larang,  bola mata saya mungkin sudah loncat masuk ke dalam loyang martabak. Kaget ih!

Martabak di sini sebetulnya biasa saja, seperti martabak lainnya.  Pilihan rasanya juga standar, cuma ada empat macam coklat,  kacang, keju dan ketan hitam. Namun,  dari banyaknya pembeli bisa dibilang jadi salah satu makanan favorit di sini. Martabak dijual dengan ukuran lebih kecil dibanding martabak pada umumnya, tapi lebih besar dari martabak mini.

Lalu apa istimewanya? Setelah saya renungkan ada tiga alasan mengapa martabak di sini jadi digandrungi banyak orang. Abang martabak praktekkan strategi pemasaran yang canggih banget. Pertama, pemilihan lokasi berdagang yang berada di lokasi strategis. Gerobak abang martabak tepat berada di sisi pintu masuk terminal. Terminalnya sendiri berada tepat di depan pasar. Saban subuh hingga kira-kira pukul 07.30 wib jalanan depan pasar jadi gelaran pedagang sayuran. Makanya tidak heran pelanggan si abang kebanyakan ibu-ibu yang hendak pulang atau pergi ke pasar.

Kedua,  harga seloyang martabak relatif murah. Banyangkan 1 loyang martabak cuma seharga 5 ribu perak. Ketiga, pemilihan waktu operasional. Sejak pukul 5 pagi abang martabak sudah siap menerima pesanan. Adonan sudah diaduk rata. Loyang sudah dipanaskan. "Jangan sampai rejeki keburu dipatok ayam, Mbak," begitu katanya waktu saya tanya kenapa jualan sejak pagi buta.

Seperti sudah saya sebut di awal pelanggan si abang kebanyakan adalah ibu-ibu yang pulang atau pergi ke pasar. Tapi khusus di hari libur begini biasanya pelanggannya nambah. Contohnya saya ini, pemburu sarapan pagi. Kadang ada juga pelanggan dari jamaah yang baru kelar ibadah pagi di gereja.

Sambil menunggu saya berbincang dengan ibu di sebelah saya. Lama sekali. Sampai dia bilang,"Sebetulnya saya mau biarin Mbak duluan,  tapi nanti yang lain iri." "Santai aja Bu. Kan saya datang setelah ibu," jawab saya. Karena sudah akrab akhirnya saya lontarkan juga pertanyaan yang sejak tadi terpendam,"Ibu beli banyak? Ada acara di rumah? " tanya saya. Penasaran.  Buat  apa sampai pemesan 21 loyang martabak. "Tadinya saya mau pesan sebelum ibadah,  tapi nanti martabak keburu dingin," katanya. Dia melanjutkan lagi, "Beli banyak  untuk kasih ke tetangga-tetangga.  Besok kan mereka sudah mulai puasa. Ini untuk menyambut Ramadhan.  Biar mereka senang." Deg.  Jantung saya berhenti sesaat.  Pipi saya panas meski tidak tamparan yang mendarat. Saya mestinya yang paling pantas senang dengan datangnya Ramadan, tapi belum  berbuat apa-apa untuk senangkan tetangga. Yuk tengok kebahagiaan tetangga kita

---
Belalang Sipit
05/05/2019
Read More