Saturday, March 16, 2019

Tuti Ismail

iKSWP, Satu Aplikasi Tiga Layanan

iKSWP di DJP Online

Menyongsong Revolusi Industri 4.0. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terus fokus memenuhi janjinya melakukan digitalisasi layanan perpajakan. Terbaru, DJP telah meluncurkan aplikasi informasi Konfirmasi Status Wajib Pajak (iKSWP) yang bisa diakses melalui laman DJP (https://djponline.pajak.go.id). Tidak tanggung-tanggung aplikasi dapat dimanfaatkan untuk tiga layanan, yaitu (1) untuk mengetahui status KSWP; (2) untuk memperoleh Surat Keterangan Fiskal (SKF); dan (3) untuk memperoleh Surat Keterangan Domisili (SKD) bagi Subjek Pajak Dalam Negeri.


KSWP diperlukan oleh wajib pajak yang akan mengajukan layanan publik pada Kementerian/Lembaga serta Pemda. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2018 dan keputusan bersama Pimpinan KPK, Menteri PPN/Kepala Bapenas, Menteri Dalam Negeri, Menteri PANRB dan Kepala Staf Kepresidenan, di tahun 2019 – 2020 implementasi KSWP akan diperluas hingga mencakup 28 Kementerian/Lembaga. Menariknya untuk keperluan penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) aplikasi Online Single Submission (OSS) juga telah terintegrasi juga dengan aplikasi iKSWP.

SKF adalah informasi yang diberikan oleh DJP mengenai kepatuhan wajib pajak selama periode tertentu untuk memenuhi persyaratan memperoleh pelayanan atau dalam rangka pelaksanaan kegiatan tertentu. Dengan terbitnya PER-03/PJ/2019, wajib pajak yang ingin mendapatkan SKF tetap dapat mengajukan permohonan secara langsung ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP)/Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) terdaftar. Jawaban atas permohonan WP akan direspon DJP dalam jangka waktu 3 hari kerja. Memang, untuk permohonan SKF yang diajukan secara manual PER-03/PJ/2019 telah banyak memangkas waktu penyelesaian dari aturan sebelumnya (PER-32/PJ/2014)
yang semula 15 hari kerja menjadi 3 hari kerja. Namun untuk demi layanan yang paripurna, beleid tersebut memberi kesempatan WP untuk mengajukan permohonan secara online melalui laman DJP.  Jika seluruh syarat terpenuhi, secara otomatis aplikasi akan merespon permohonan WP. 

Secara umum SKF diperlukan oleh WP yang akan (1) melakukan pengadaan barang/jasa dengan Pemerintah sebagaimana diatur dalam Perpres 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, (2) menggunakan nilai buku atas pengalihan harta dalam rangka penggabungan, peleburan, pemekaran dan atau pengambilalihan usaha, (3) mengenakan PPh sebesar 0,5% atas pengalihan Real Estate kepada Special Purpose Company (SPC)  atau Kontrak Investasi Kolektif (KIK) dalam skema KIK tertentu, (4) mengajukan permintaan pembayaran kembali (reimbursment) PPh atau PPN atau PPnBM kepada SKK Migas atau Kontraktor Kontrak Kerjasama (K3S), (5) mengajukan permohonan pemberian fasilitas pengurangan PPh Badan (Tax Holiday),  (6)  melakukan kegiatan usaha penukaran valuta asing selain bank, (7) mengajukan fasilitas non fiskal perusahaan industri atau perusahaan kawasan industri, atau (8) pelayanan dan/atau kegiatan tertentu lainnya yang mensyaratkan keterangan fiskal. 

Aplikasi iKSWP juga dapat digunakan untuk memperoleh SKD SPDN dalam rangka penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B). Bagi SPDN yang menerima atau memperoleh penghasilan dari Negara Mitra (Luar Negeri)  dapat memperoleh manfaat P3B antara Indonesia dengab Negara Mitra. Manfaat utama adalah terhindar dari pengenaan pajak berganda.  Pada beberapa P3B bahkan memberikan tarif PPh lebih rendah dibanding tarif pajak pada UU Perpajakan Domestik  Namun demikian, Subjek Pajak tersebut harus dapat membuktikan bahwa benar-benar SPDN yaitu melalui dokumen yang diterbitkan oleh DJP yang disebut SKD SPDN.

Dengan adanya iKSWP baik KSWP, SKF maupun SKD SPDN dapat diperoleh secara cepat dan mudah, kapanpun dan di manapun tanpa harus datang ke KPP tempat wajib pajak terdaftar. 

---
Belalang Sipit
17/03/2019
Read More
Tuti Ismail

Udah, E-Filing Aja !



Baru-baru ini Ditjen Pajak meluncurkan iKSWP, yaitu sebuah layanan baru yang dapat diakses melalui DJP Online. Wajib Pajak (WP) yang ingin memanfaatkan layanan harus memiliki akun di DJP Online (www.djponline.pajak.go.id).
iKSWP memberikan tiga layanan sekaligus yaitu Konfirmasi Status Wajib Pajak (KSWP), Surat Keterangan Fiskal (SKF) dan Surat Keterangan Domisili (SKD)  Wajib Pajak Dalam Negeri (WPDN). Aplikasi secara otomatis akan merespon permohonan WP. 

Jadi kalau sudah punya akun di DJP Online mengapa tidak lapor SPT Tahunan via efiling saja ? Apalagi batas waktu pelaporan SPT semakin dekat (bagi WP Orang Pribadi paling lambat tanggal 31 Maret dan WP Badan paling lambat 30 April).

Untuk meningkatkan pelayanan dan memudahkan WP dalam malaksanakan kewajiban perpajakannya, sejak tahun 2012 Ditjen Pajak telah membuka saluran pelaporan SPT secara online. Ditjen Pajak terus menghimbau agar Wajib Pajak (WP) melaporkan SPT Tahunan secara online melalui laman DJP Online (www.djponline.pajak.go.id).

Memang apa keuntungan WP jika melapor SPT Tahunan secara online  ? 

Selain soal iKSWP,  ada empat keuntungan lainnya jika WP melaporkan SPT Tahunan via online

Pertama, menghemat waktu dan biaya. Waktu adalah hal berharga. Sekaya apapun kita tidak dapat membeli waktu. Waktu berarti kesempatan dan peluang. Maka tidak heran jika kebanyakan orang sepakat bahwa waktu adalah uang. Dengan melapor SPT secara online, WP atau kuasanya tidak perlu meluangkan waktu dan mengeluarkan biaya transportasi untuk datang ke kantor pajak atau tempat lain yang ditunjuk sebagai tempat pelaporan SPT (seperti Mobil Tax Unit atau Pojok Pajak). 

Kedua,  lapor SPT dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun.  Sepanjang terhubung dengan internet, WP dapat melakukan pelaporan SPT Tahunan. Laman DJP Online beroperasi 24 jam sehari. Bandingkan dengan pelaporan SPT Tahunan secara manual yang hanya bisa dilakukan pada jam operasional kantor pajak. 

Ketiga,  WP tidak perlu menyimpan arsip. Sesuai UU KUP,  arsip perpajakan harus disimpan selama 5 tahun. Bayangkan jika telah puluhan tahun menjadi WP, berapa banyak arsip SPT Tahunan berikut bukti pelaporan yang harus disimpan. Belum lagi kalau lupa menyimpan keduanya, padahal sedang butuh. Arsip SPT Tahunan berikut tanda terimanya tersimpan dalam akun DJP Online WP.  Jadi kapan pun dibutuhkan sudah tersedia.  

Keempat,  data SPT Tahunan WP aman. WP yang ingin lapor SPT Tahunan secara elektronik terlebih dahulu harus melakukan aktivasi EFIN.  Electronic Filing Identification Number (EFIN) adalah nomor identitas yang diterbitkan Ditjen Pajak kepada WP untuk melakukan transaksi elektronik atau efiling pajak. EFIN digunakan sebagai salah satu alat autentikasi agar setiap transaksi elektronik atau efiling SPT dapat dienkripsi sehingga terjamin kerahasiaannya. Tidak hanya itu,  akun DJP online WP  juga dilengkapi dengan password yang dibuat sendiri oleh WP. Validasi ketika WP melakukan pelaporan SPT juga terhubung dengan email WP. Keamanan SPT Tahunan  harus terjaga. Ingat,  SPT adalah dokumen pribadi sebab tidak hanya memuat data penghasilan WP tetapi juga memuat daftar harta, utang dan susunan keluarga yang menjadi tanggungan WP.   

Sebetulnya selain mendapat beragam manfaat,  dengan lapor SPT Tahunan secara online kita turut serta dalam gerakan Go Green. Ya kan  ? Udah, efiling aja  !

---

Belalang Sipit
17/03/2019
Read More

Thursday, March 7, 2019

Tuti Ismail

Pilih e-Filing atau e-Form



Galau pilih e-Filing atau e-Form  ? Jangan galau ah  ! E-Filing dan e-Form adalah cara pelaporan SPT Tahunan secara elektronik yang dilakukan melalui laman DJP Online (www.djponline.pajak.go.id). Keduanya diluncurkan Ditjen Pajak untuk memudahkan Wajib Pajak (WP) melakukan kewajiban perpajakannya, lapor SPT Tahunan.  

Lalu apa untungnya WP lapor SPT Tahunan secara elektronik  ? Pertama, WP  perlu lagi datang ke kantor pajak untuk melapor SPT. Kedua, sepanjang terhubung dengan internet WP dapat lapor SPT Tahunan di mana saja dan kapan saja. Ketiga, WP tidak perlu lagi menyimpan arsip dan bukti pelaporab fisik SPT Tahunan, karena keduanya tersimpan di akun DJP Online WP. Keempat,  lebih aman karena akun DJP Online WP dilengkapi dengan password . Di samping itu,  validasi pelaporan langsung dikirim ke email WP. 

Sebelum membahas tentang e-Filing atau e-Form, ada baiknya kita kenali dulu jenis-jenis formulir SPT Tahunan. 

Formulir 1770 SS adalah SPT Tahunan yang diperuntukkan bagi WP Orang Pribadi (OP) karyawan dengan penghasilan bruto di bawah Rp60 juta/tahun.

Formulir 1770 S adalah SPT Tahunan yang diperuntukkan bagi WP OP karyawan dengan penghasilan bruto di atas Rp60 juta/tahun.

Formulir 1770 adalah SPT Tahunan yang diperuntukkan bagi WP OP usahawan atau yang melakukan pekerjaan bebas. 

Formulir 1771 adalah SPT Tahunan yang diperuntukkan bagi WP Badan (seperti PT,  CV,  Perkumpulan atau Firma). 

Untuk dapat melaporkan SPT secara elektronik, terlebih dahulu WP harus mempunyai akun di DJP Online.  

E-Filing adalah pelaporan SPT Tahunan secara elektronik,  di mana seluruh prosesnya mulai dari mengisi dan melapor (dengan cara meng-upload) dilakukan secara online di laman DJP Online

E-Form merupakan formulir SPT elektronik berbentuk file dengan ekstensi  .xfdl yang pengisiannya dapat dilakukan secara offline menggunakan Aplikasi Form Viewer yang disediakan Ditjen Pajak. Setelah SPT Tahunan dibuat secara offline,  WP bisa langsung melaporkannya denfan cara meng-upload SPT tersebut secara online via DJP Online. WP hanya perlu dua kali terhubung dengan internet,  yaitu saat men-download formulir SPT dan ketika melapor SPT (meng-upload). Karenanya,  e-Form mempunyai tagline 'ngisinya offline, lapornya online'.

SPT Tahunan apa saja yang bisa dilaporkan melalui WP melalui e-Filing atau e-Form  ?

Untuk saat ini, e-Filing hanya dapat digunakan oleh WP yang menggunakan Formulir 1770 SS dan 1770 S.

Sementara itu, untuk saat ini e-Form hanya dapat digunakan oleh WP menggunakan Formulir 1770 S,  1770 dan 1771.

Bagaimana, sudah tidak bingung lagi kan  ?  Yuk segera lapor SPT secara elektronik. 

---
Belalang Sipit 
08/03/2019
Read More

Tuesday, March 5, 2019

Tuti Ismail

Hakekat Surat Pemberitahuan Pajak

Gambar by Pixabay

Surat Pemberitahuan (SPT)   adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (Pasal 1 angka 11 UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan).

Sebelum mengisi SPT Tahunan,  bagi Wajib Pajak Orang Pribadi ataupun Badan silahkan menghitung berapa penghasilan yang diperolehnya selama satu tahun pajak berikut jumlah Pajak Pajak Penghasilan (PPh) yang terutang. Termasuk juga menghitung PPh yang telah dibayar selama satu tahun pajak. PPh yang telah dibayar yang disebut kredit pajak adalah PPh yang dibayar sendiri (dengan cara mengangsur)  atau yang dibayar melalui mekanisme pemotongan oleh pihak lain (misalnya oleh pemberi kerja).

Jika PPh dipotong pihak lain jangan lupa meminta bukti potong pajak. Bukti potong pajak adalah bukti bahwa pajak yang terutang atas penghasilan kita yang bersumber dari pemberi kerja telah dipotong pajaknya.

Di samping itu, SPT Tahunan juga memuat jumlah harta yang dimiliki wajib pajak per akhir tahun pajak. SPT Tahunan PPh Orang Pribadi juga memuat daftar keluarga yang menjadi tanggungan wajib pajak. Jumlah tanggungan akan menentukan berapa besar Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) wajib pajak tersebut.

Setelah data-data tersebut diperoleh Wajib Pajak wajib melaporkannya penghasilan, PPh terutang dan PPh yang telah dibayar selama satu tahun pajak pada SPT Tahunan Pribadi Orang Pribadi (Form 1770, 1770 S atau 1770 SS)  ataupun Badan (Form 1771).

Jika jumlah PPh terutang lebih besar dari PPh yang telah dibayar sendiri atau dipotong pihak lain,  maka selisihnya harus dibayar oleh wajib pajak.

Jika terjadi sebaliknya maka wajib pajak kelebihan membayar PPh.  Kelebihan ini dapat dimintakan kembali melalui proses restitusi ataupun pengembalian pendahuluan.

Lalu bagaimana jika jumlah PPh terutang sama dengan PPh yang telah  dibayar atau telah dipotong pihak lain  ? Jika ini yang terjadi maka tidak ada lagi PPh yang harus dilunasi oleh wajib pajak.

Jadi, pada hakekatnya SPT Tahunan adalah rangkuman dari penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib pajak, PPh terutang, berikut PPh yang telah dibayar selama satu tahun pajak. Dalam sistem perpajakan self assessment, SPT Tahunan merupakan alat komunikasi yang penting antara wajib pajak dan petugas pajak (fiskus) yang dapat membuktikan bahwa perhitungan pajak yang dilakukan wajib pajak telah benar dan sesuai UU Perpajakan. Hal ini karena dalam sistem self assessment wajib pajak diberikan keleluasaan untuk menghitung,  memperhitungkan dan membayar serta melaporkan pajak yang terutang.

----
Belalang Sipit
05/03/2019
Read More

Wednesday, February 27, 2019

Tuti Ismail

Benci Aku Sesukamu


Pasca perpisahan kami yang berhutang banyak tanya,  sungguh aku tidak pernah mengira akan jumpa lagi dengan Alissa. Di Argo Parahiyangan pukul 13.20 WIB.

Alissa adalah sahabat masa kecilku. Mama Alissa juga sahabat ibuku sedari kuliah.

Sebetulnya dari beberapa minggu lalu aku telah mendengar bisik-bisik ayah dan ibu perihal rencana kepergian Alissa dan mamanya. Namun aku tak percaya. Setelah papanya meninggal dunia, praktis hanya keluarga kami yang menjadi tempat mereka bersandar. Yang aku tahu mama Alissa sejak kecil hidup sebatang kara di sebuah panti asuhan di Surabaya. Jangankan sanak keluarga, mengerti siapa ayah ibunya pun tidak. Ayah dan ibuku pun terlihat sangat mengasihi mereka berdua. Utamanya ibu. Jadi mustahil mereka akan pergi dari kotaku.

Malam itu seperti akhir pekan yang lain Alissa menginap di rumahku. Aku ingat, ayah dan ibu mengecup kening Alissa sebelum tidur. Memeluknya erat-erat. Aku pun akhirnya ikut-ikutan memberi pelukan padanya. Pelukan dengan satu tanganku yang masih tertinggal. Pelukan yang tidak pernah tuntas.

Esok pagi ketika aku membuka mata, Alissa sudah tidak ada. Pencarianku berakhir dengan beribu tangis di sudut kamar. Tangis gadis usia 8 tahun.

"Alissa  ?" Aku sapa gadis berambut ikal yang duduk di bangku 5D. Biar waktu telah banyak membawa perubahan,  aku tak akan pernah lupa wajah Alissa.  Selain Alissa siapa lagi yang miliki alis kanan hanya sebelah ? Rasanya tidak ada.  Luka yang aku sebabkan dulu masih ada hingga kini.  Ku julurkan  tangan kiriku, berharap jabat erat darinya.  Dia hanya menatapku nanar. Aku memeluknya erat. Dia berontak dan balas mendorongku.

"Alissa, aku Dyah teman kecilmu dulu. Kamu lupa  ? Mata itu bukan milik orang yang telah melupakan masa lalu. "Bagaimana kabarmu,  Lis ?" Tanyaku.  "Meski aku paham kau tidak ingin membuatku terluka dengan perpisahan kita,  mestinya perpisahan model begitu tidak perlu terjadi kan, Lis? Aku sampai lelah mencarimu." Kataku lagi.

Mata Alissa memarah. Nafasnya tertahan. "Mestinya kau tak perlu mencari aku. Bahkan menyapaku sekarang pun tak perlu," Alissa mulai berbicara. "Kau pasti tidak lupa siapa yang sebabkan tangan kananmu hilang, kan ?" Sambung Dyah.

Belasan tahun lalu aku memang mengalami kecelakaan. Ketika sedang bermain tanpa sengaja Alissa mendorongku dari balkon rumahku. Tanganku yang mungil hancur, tersangkut di pagar. Tidak ada pilihan. Tangan kananku harus tanggal. Sejak itu Alissa menjadi trauma.  Sesekali bertingkah aneh. Tiba-tiba menangis dan histeris. Tiap kali itu terjadi aku pun menangis dibuatnya. Berulang kali aku katakan bahwa itu adalah kecelakaan.  Keluargaku pun dapat menerimanya. Tapi sial, makin hari Alissa justru semakin sering parah.

"Kebaikanmu dan keluargamu melukaiku, Dy. Mestinya kalian membenciku saja waktu itu. Pasti akan lebih mudah bagiku," sambungnya. Itu rupanya yang jadi sebab dia dan mamanya meninggalkan kami. "Bertahun aku menyesali perbuatanku itu sampai rasa sesal itu berubah jadi benci. Aku benci padamu yang selalu penuh maaf dan cinta.  Pergi lah Dy. Tolonglah aku," Alissa menutupi kedua tangannya. Bahunya naik turun. Air mata menetes dari sela-sela jemarinya. Aku tertegun. Leherku rasa tercekat.  Air mataku tumpah.  Aku tak sangka maafku justru yang buat sahabatku jadi begini. Kini baru aku paham ucap ibuku dulu bahwa perpisahan aku dan Alissa adalah hal terbaik bagi kami berdua.

Meski bibirku tak kuasa lagi untuk berkata-kata, demi Alissa aku berteriak dalam hati, "jika maaf dariku belum cukup. Aku rela. Benci lah aku sesukamu, Lis !"

---
Belalang Sipit
28/02/2019
Read More

Saturday, February 9, 2019

Tuti Ismail

Saat Homebase Bagitu Jauh


Pantai di Ketapang

"Perkenalkan nama saya Muhammad Qoid Huwaidi."
"Homebase homebase.  Homemase-nya mana,  Dek ?"
"Ketapang."
"Oooo. "

***


  • Kota Ketapang terletak di Propinsi Kalimantan Barat. Dengan memulai perjalanan dari Kota Pontianak,  untuk  sampai ke sana bisa melalui jalan darat,  laut maupun udara. Dari Bandara Supadio di Pontianak menuju Bandara Rahadi Oesman di Ketapang, perlu waktu sekitar 45 menit di atas pesawat ATR. Lain lagi ceritanya jika melalui jalan darat. Dengan kondisi jalan Trans Kalimantan yang mulus perlu waktu 8 - 10 jam dari Pontianak ke kota tersebut. Alternatif lain adalah dengan speedboat  dari Pontianak. Dengan kapal feri juga bisa tetapi berlabuh di Teluk Batang (Sukadana). Lalu lanjut lagi kira-kira 30 menit jalan darat dari Sukadana ke Ketapang. Alternatif  terakhir itu pernah saya coba, meski hanya sampai Sukadana. Dari Rasau di Kota Pontianak kapal feri berlayar lepas Maghrib dan sampau di Teluk Betang di Kabupaten Sukadana kira-kira pukul 4 pagi.

Qoid adalah pegawai baru di DJP. Homebase-nya yang di Ketapang sana sangat jauh dari tempatnya bekerja kini. Dia bersama 6 orang lainnya mulai minggu ini OJT di kantor saya. Sama seperti Qoid,  tidak ada satu pun dari mereka yang berdomisili di DKI Jakarta.  Saat ini di DJP apapun posisinya, berada jauh dari homebase adalah sebuah keniscayaan. Komposisi pegawai berdasarkan asal atau domisili tidak merata. Mayoritas memiliki domisili di Pulau Jawa. Saya pun pernah merasakan jauh dari rumah, 2,5 tahun di Bandung dan 3 tahun 3 bulan di Pontianak. Sebetulnya tidak hanya di DJP, dengan berbagai alasan siapa pun dia mempunyai potensi untuk menjadi perantau alias jauh dari homebase

Lalu bagaimana jika itu terjadi pada diri kita  ?  Bagaimana dengan keluarga, pacar, ibu,  bapak, anak atau pasangan kita ? Bagaimana jika kesepian dan sakit selama di rantau  ? 

Saya yakin siapa pun yang berada jauh dari kampung halaman akan memiliki pertanyaan dan kekhawatiran yang sama. Wajar dan sangat manuasiawi. Saya pernah merasakan hal serupa. Sudah tidak terhitung berapa kali menangis sendirian di kamar kos kala rindu menyerang. Pun begitu setiap tantangan harus kita hadapi dengan gagah, bukan  ?

Stephanie Cacioppo,  Direktur Brain Dynamics Lab di University of Chicago Pritzker School of Medicine lewat sebuah artikel yang dirilis nationalgeographic.grid.id (04/02/2019) mengatakan,"kesepian meningkatkan risiko kematian hingga 26%. Lebih parah dari obesitas. Ia juga dapat menular seperti wabah."

Peneliti asal AS tersebut mengatakan bahwa ia memiliki jawaban atas masalah kesepian yang 'mewabah' dalam bentuk pil. Pil yang diharapkan dapat mencegah seseorang mengalami kesepian kronis.

Horreeee  !!!

Eits jangan senang dulu. Penelitian Cacioppo itu belum rampung. Masih menurut Cacioppo obat tersebut hanya dikonsumsi sebagai 'penyelamat' di
waktu genting dan bukan solusi  jangka panjang (obat tersebut mendapat banyak kritik).

Melalui tulisan ini sebetulnya saya ingin berbagi tips bagaimana tetap merasa satu tahun di rantau tidak akan pernah lebih dari 365 hari.

Pertama, intensif menjalin komunikasi dengan keluarga. Berjarak mestinya bukan jadi penghalang terciptanya komunikasi yang baik dengan orang-orang yang kita kasihi. Seorang kawan tertawa saat  saya bilang memiliki grup whatsapp keluarga.  

"Ibu zaman now, ada WAG keluarga inti."
"Bukannya di semua keluarga sekarang begitu ? Walaupun isinya cuma laporan. pamit, minta duit, info transfer dan sejenisnya  ?"
"Ini isinya cuma 5 orang."
"Kalau mau lebih dari 5 orang, berarti mesti tambah anggota keluarga lagi dong.  Ciee."

Jangan anggap remeh komunikasi, sebab banyak hubungan menjadi tidak harmonis karena gagal menjaga komunikasi. 

Kedua,  perbanyak teman. Teman di perantauan adalah saudara. Berteman lah sebanyak mungkin selama di rantau. Sebuah penelitian yang ditulis New York Times pada edisi Rabu (22/4), antara lain di Australia. Di sana dilakukan riset sepanjang 10 tahun. Dalam rentang waktu itu, ditemukan bahwa tingkat kematian orang tua yang memiliki banyak teman, 22 persen lebih kecil daripada  yang temannya sedikit. 

Teman yang banyak membuat kita merasa nyaman dan aman. Perasaan ini menjadi mendorong seseorang lebih bahagia dan panjang umur.

Beberapa teman bahkan kemudian menemukan jodoh lalu memindahkan homebasenya ke sana (catatan : ini hanya berlaku buat para jejaka dan gadis ya 😊).

Ketiga,  temukan hobby-mu. Kesenangan (passionmenumbuhkan rasa cinta dan optimis.  Selama di rantau coba renungkan hobby yang dulu sempat terlupa. Jika tidak ada, temukan hobby baru. Lakukan segera. Waktu kita sangat berlimpah selagi di rantau. Apalagi jika rantau kita itu bukan berada di Jakarta dan sekitarnya di mana relatif tidak ada gangguang lalu lintas.  Beberapa teman saya menemukan hobby barunya. Misalkan Dewi dengan hobby travelingnya,  Fakar dengan hobby musiknya, atau Rifky dengan hobby menulisnya. Syukur-syukur kalau hobby baru itu menambah saldo rekening kita, misalkan hobby mencecep kopi lokal Aceh membuat kita jadi pemasok Kopi Gayo. Saya sendiri jadi suka jalan-jalan. Menjelajah Pontianak dan sekitarnya asik juga.  Berburu Durian sampai ke pelosok Sanggau tidak terkira serunya. Banyak hal baru yang bisa saya lakukan selama di rantau, bahkan sesuatu yang tidak terpikirkan dapat saya lakukan sebelumnya.

Terakhir, untuk mereka yang belum bisa memeluk homebase percaya lah bahwa selalu ada harapan untuk pulang.  If you know you're going home, the journey is never to hard - Angela Wood

===

Belalang Sipit
08/02/2019
Read More

Thursday, January 31, 2019

Tuti Ismail

Fasilitas PPN Atas Penyerahan Jasa Ke Kawasan Bebas Dipertegas


Perdagangan bebas (free trade) adalah konsep teoritis yang mengandaikan berlakunya sistem perdagangan internasional yang dibebaskan dari hambatan yang disebabkan oleh ketentuan pemerintah suatu negara, baik yang disebabkan oleh pengenaan tarif (tariff barriers) maupun nir-tarif (bukan tarif / non-tariff bariers) (Heri Muliono : 2001). Skema free trade memiliki potensi untuk mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi negara lebih cepat dan bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tidak terkecuali untuk Indonesia. Free trade merupakan pengembangan dari teori yang dikemukakan oleh Adam Smith “the Wealth of Nation (1776)” yang intinya menyebutkan bahwa satu negara/bangsa dikatakan sejahtera jika ada surplus (dana lebih) antara anggaran negara dan konsumsi masyarakatnya. Juga sebaliknya, negara dikatakan miskin/belum sejahtera jika anggaran negaranya defisit. Untuk memperoleh surplus anggaran, maka negara tersebut dituntut menaikkan produksi barangnya dan menjualnya ke luar negeri (karena jika hanya dijual di dalam negeri tidak akan menambah pendapatan). Agar barang produksinya dapat beredar di negara lain, maka diperlukan kemudahan dalam tarif/bea masuk dan keluar barang (ekspor-impor) serta efisiensi dalam produksi. Terbuka lebarnya lalu lintas investasi dan ekspor barang, berimplikasi pada meningkatnya lapangan pekerjaan dan pendapatan masyarakat.

Pada tahun 2000 Kota Sabang telah ditetapkan sebagai Kawasan Bebas. Menyusul kemudian Batam, Bintan dan Karimun pada 1 April 2009. Kawasan Bebas adalah suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terpisah dari Daerah Pabean sehingga bebas dari pengenaan bea masuk, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), dan Cukai. Fasilitas PPN yang diberikan terkait penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak (JKP) meliputi PPN tidak dipungut dan PPN dibebaskan. Perbedaan perlakuan dengan daerah lain ini menuntut Kawasan Bebas harus memiliki batas-batas yang jelas berikut pengawasan atas fasilitas yang telah diberikan.

Pada tahun 2012 Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2012 Tentang Perlakuan Kepabeanan, Perpajakan, Dan Cukai Serta Tata Laksana Pemasukan Dan Pengeluaran Barang Ke Dan Dari Serta Berada Di Kawasan Yang Telah Ditetapkan Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas Dan Pelabuhan Bebas yang merupakan pelaksanaan dari Pasal 16B ayat (1) huruf a UU PPN dan Pasal 115A ayat (2) UU Kepabeanan. 

Sebagai pelaksanaan PP 10 Tahun 2012 pada 23 November 2017, Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan Nomor  PMK-171/PMK.03/2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-62/PMK.03/2012 Tentang Tata Cara Pengawasan, Pengadministrasian, Pembayaran, Serta Pelunasan Pajak Pertambahan Nilai dan/atau Pajak Penjualan Atas Barang Mewah Atas Pengeluaran dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak Dari Kawasan Bebas Ke Tempat Lain Dalam Daerah Pabean dan Pemasukan dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak Dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean Ke Kawasan Bebas. Beleid yang berlaku 30 hari sejak tanggal diundangnya tersebut mengatur lebih tegas dan jelas pemberian fasilitas PPN dibebaskan atas penyerahan JKP ke Kawasan Bebas.

Fasilitas PPN atas Penyerahan Jasa 

JKP yang dimanfaatkan di Kawasan Bebas pada dasarnya dapat berasal dari tempat lain di dalam Daerah Pabean atau Tempat Penimbunan Berikat atau Kawasan Ekonomi Khusus  atau pun dari Pengusaha yang bertempat tinggal atau berkedudukan di Kawasan Bebas.
Beberapa poin perubahan terkait dengan penyerahan JKP ke Kawasan Bebas telah diperjelas dan dipertegas dalam PMK-171 Tahun 2017, khususnya terkait dengan fasilitas PPN dibebaskan. Setiap jasa yang diterima perusahaan di Kawasan Bebas dari perusahaan di luar Kawasan Bebas dikenakan PPN. Penyerahan JKP di Kawasan Bebas memperoleh fasilitas PPN di bebaskan terbatas hanya jika Pengusaha yang menyerahkan JKP bertempat tinggal atau berkedudukan di Kawasan Bebas.
 
Sementara itu, terkait dengan fasilitas PPN tidak dipungut yang melekat pada penyerahan JKP Tertentu tidak ada perubahan sama sekali. Dari mana pun asal Pengusaha Kena Pajak yang menyerahkan JKP Tertentu fasilitas PPN tidak dipungut tetap dapat diberikan. Terkait penyerahan JKP Tertentu diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP 69 Tahun 2015 dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK-193/PMK.03/2015) yang terpisah.

Dalam aturan sebelumnya (PMK-62 Tahun 2012) dijelaskan, penyerahan JKP dari tempat lain di dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas yang penyerahannya tidak dilakukan di Kawasan Bebas, dikenai PPN. Begitupun atas penyerahan JKP dari Tempat Penimbunan Berikat atau Kawasan Ekonomi Khusus ke Kawasan Bebas yang penyerahannya tidak dilakukan di Kawasan Bebas, dipungut Pajak Pertambahan Nilai. Atau dengan kata lain diberikan atau tidaknya fasilitas PPN dibebaskan tergantung di mana JKP diserahkan tanpa mempertimbangkan dari mana JKP tersebut berasal. Jika JKP diserahkan di dalam Kawasan Bebas maka fasilitas PPN dibebaskan dapat diberikan, dan sebaliknya jika diserahkan di luar Kawasan Bebas maka penyerahan JKP tersebut terutang PPN. 

Kapan saat terjadinya penyerahan JKP telah diatur dalam Pasal 17 ayat (5) Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2012. Penyerahan JKP terjadi pada saat (a) harga atas penyerahan Jasa Kena Pajak diakui sebagai piutang atau penghasilan, atau pada saat diterbitkan faktur penjualan oleh Pengusaha Kena Pajak, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan diterapkan secara konsisten; (b) kontrak atau perjanjian ditandatangani, dalam hal saat sebagaimana dimaksud pada huruf a tidak diketahui; (c) dan mulai tersedianya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara nyata, baik sebagian atau seluruhnya, dalam hal pemberian cuma-cuma atau pemakaian sendiri Jasa Kena Pajak.

Dalam pelaksanaannya penerapan Pasal 10 ayat (5) dan (6) PMK-62 Tahun 2012 seperti Penulis uraikan di atas seringkali menimbulkan salah tafsir di antara wajib pajak sendiri (penerima dan pemberi JKP) ataupun antara wajib pajak dengan Fiskus. Pengawasan kapan terjadinya penyerahan JKP tidak serta merta dapat dilakukan oleh Fiskus. Sebagai penutup Penulis meyakini sebuah peraturan perundang-undangan yang baik seyogyanya tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda, mudah dalam pelaksanaan maupun pengawasannya. Kejelasan dan ketegasan tersebut telah tertuang dalam PMK-171 Tahun 2017. 
----

Belalang Sipit
31/01/2019

Artikel terbaru saya di website resmi Ditjen Pajak,  Fasilitas PPN Atas Penyerahan Jasa ke Kawasan Bebas Dipertegas. 

pajak.go.id/article/fasilitas-ppn-atas-penyerahan-jasa-ke-kawasan-bebas-dipertegas


Read More

Saturday, January 26, 2019

Tuti Ismail

#ThankYouButet Untuk Liliyana Natsir


Daihatsu Indonesia Master 2019 akan jadi laga terakhir (farewell event) untuk Liliyana Natsir alias Butet.  Butet akan gantung raket. Sebetulnya ingin rasanya bersikap egois, berlari menuju padanya dan menarik ujung kaosnya lalu  memohon agar urungkan niatnya itu. Tapi itu urung saya lakukan. Butet ingin ada regenerasi di ganda campuran. Mundur kala berada di puncak bukan perkara mudah. Banyak orang justru berlaku sebaliknya.  Karenanya melihat niat baiknya itu tidak ada alasan untuk tidak menaruh hormat padanya.

Meski kami akan merindukan smash dahsyatmu. Meski kami akan kehilangan kilau rambut emasmu. Terima kasih Butet untuk rangkaian prestasi yang membanggakan.

Bersama Tantowi Ahmad (Oi), Butet telah menorehkan banyak prestasi. Oi dan Butet meraih medali emas Olimpiade 2016 di Rio De Jenero. Berturut-turut kemudian merajai All England selama tiga tahun berturut-turut.

Dua puluh empat tahun berkarya di dunia bulu tangkis, Butet belum kehilangan tajinya. Cici Butet masih tetap garang di lapangan. Petang ini di perempat final mereka bertarung dengan ganda campuran Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying. Berkali Chan harus menenangkan Goh yang gusar karena gagal menangkis amukan smash kedua pasangan itu. Chan dan Goh akhirnya tak kuasa juga. Oi/Butet unggul.

Besok (27/01/2019) jika Allah mengijinkan semoga akan menjadi farewell event manis untuk Butet. Jangan kasih ampun ganda campuran Cina Zheng Siwei dan Huang Yaqiong. Semoga Butet dan Oi menang  !

---
Belalang Sipit
26/01/2019

#30haribercerita #30hbc1926  @30haribercerita
Read More
Tuti Ismail

Menanti Otomatisasi Layanan Unggulan DJP


Direktorat Jenderal Pajak merencanakan otomatisasi layanan perpajakan untuk mengurangi penggunaan kertas dan kunjungan wajib pajak ke kantor pajak. Hal ini menjadi salah satu dari berbagai bahasan dalam Konsinyasi Tim Reformasi Perpajakan 2018 yang diselenggarakan Tim Reformasi Perpajakan (pajak.go.id, 04/12/2018).

Ikhtiar Direktorat Jenderal Pajak (DJP) tersebut sejalan dengan langkah masyarakat dunia yang tengah memasuki era industri generasi ke-empat atau industri 4.0. Di Indonesia, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa dari 262 juta total populasi penduduk Indonesia (54,68%) pada tahun 2017. Bila ditilik, jumlah tersebut meningkat dari tahun lalu yang mencapai 132,7 juta orang.

Sebenarnya bila ditelusuri lebih jauh DJP, digitalisasi administrasi perpajakan telah dimulai sejak tahun 2000 dimana wajib pajak dapat melaporkan Surat Pemberitahuan Pajak (SPT) secara elektronik. Penggunaan teknologi digital juga mengubah Modul Penerimaan Negara (MPN) yang semula masih menggunakan Manual Billing System menjadi Electronic Billing System yang melayani seluruh transaksi penerimaan negara yang kita kenal dengan nama MPN Generasi Kedua (MPN G2). MPN G2 mulai diterapkan secara nasional pada Januari 2016. Melalui sistem tersebut wajib pajak “dipaksa” untuk melakukan pembayaran atau penyetoran penerimaan negara secara elektronik dengan menggunakan kode billing yang diterbitkan sistem, tanpa perlu membuat Surat Setoran (SSP, SSBP, SSPB) manual. Dengan sistem ini penerimaan pajak menjadi akuntabel.

Terlepas dari hasil survey APJII yang menunjukkan bahwa Generasi Millenial yang lahir antara tahun 80-an sampai 90-an mendominasi komposisi pengguna internet berdasar usia pada tahun 2017 berusia 19 – 34 tahun (49.52%), bukan berarti migrasi dari MPN G1 ke MPN G2 tidak ada kendala. Harus dilihat pula bahwa pengguna internet terbesar ke dua  adalah mereka yang berada di rentang usia 35 – 54 tahun (29,55%). Lapisan kedua ini adalah Generasi X  yang lahir antara tahun  1965 – 1980 yaitu generasi awal yang mengenal komputer. Mereka adalah generasi awal yang melakukan migrasi dari dunia analog ke digital. Usia tersebut masuk dalam rentang usia produktif atau merupakan wajib pajak aktif (berpenghasilan). Kesalahan dalam pembayaran pajak yaitu pada saat pembuatan kode billing masih kerap terjadi. Misalnya wajib pajak salah dalam memilih Kode Jenis Pajak (KJS), Masa / Tahun Pajak, Jenis Setoran, NPWP atau pun jumlah pajak yang dibayar. Akibatnya pencatatan  pembayaran pajak pada MPN menjadi tidak akurat.

Meski sistem pembayaran atau penyetoran penerimaan negara (pajak) dilakukan secara elektonik, sayangnya koreksi apabila terjadi kesalahan karena salah atau kurang jelas mengisian kode billing masih harus dilakukan secara manual. Wajib pajak harus mengajukan permohonan Pemindahbukuan (Pbk) karena kelebihan pembayaran pajak atau karena salah atau kurang jelas mengisi Surat Setoran Pajak (SSP). Waktu penyelesaian dari proses paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah dokumen diterima secara lengkap. Jangka waktu tersebut terlalu lama untuk sebuah layanan unggulan.

Otomasi Layanan Unggulan DJP

Kementerian Keuangan melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 601/KMK.01/2015 telah memutuskan empat layanan unggulan DJP, yaitu pelayanan permohonan legalisasi salinan dokumen wajib pajak berupa SKD WPLN yang menerima atau memperoleh penghasilan melalui kustodian (Form-DGT 2), pelayanan permohonan Surat Keterangan Fiskal (SKF), pelayanan permohonan penerbitan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), cetak ulang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Sektor Perkebunan, Sektor Kehutanan, Sektor Pertambangan, dan Sektor Lainnya, dan pelayanan permohonan Pemindahbukuan (Pbk) karena kelebihan pembayaran pajak atau karena salah atau kurang jelas mengisi Surat Setoran Pajak (SSP).  

Meski proses penyelesaian oleh KPP pada umumnya dilakukan lebih cepat dari waktu yang ditentukan dalam KMK-601/KMK.01/2015, Penulis berpendapat dalam kondisi tertentu terbuka peluang penyelesaian Pbk secara elektronik yang dapat dilakukan secara mandiri oleh wajib pajak (e-Pbk). Keinginan ini selaras dengan rencana DJP untuk melakukan otomatisasi layanan perpajakan.
Penulis mengelompokkan kesalahan dalam pembayaran atau penyetoran pajak (pembuatan kode billing) menjadi dua kategori, yaitu kategori ringan dan kategori berat. Pengelompokan ini hanya untuk memudahkan identifikasi kesalahan saja. Kesalahan kategori ringan meliputi kesalahan pembuatan kode billing berupa salah dalam memilih Kode Jenis Pajak (KJS), Masa / Tahun Pajak, Jenis Setoran atau pun jumlah pajak yang dibayar. Kesalahan tersebut dikategorikan ringan karena hanya tidak melibatkan wajib pajak lainnya.

Berbeda dengan kesalahan dalam pembuatan kode billing karena salah menuliskan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang Penulis masukkan sebagai kesalahan kategori berat. Hal tersebut dikarenakan kesalahan melibatkan wajib pajak lainnya. Dalam proses penelitian oleh petugas pajak, berdasarkan SE - 54/PJ/2015 tentang Standar Prosedur Operasi (Standard Operating Procedures) Layanan Unggulan Bidang Perpajakan, mewajibkan adanya pernyataan dari wajib pajak yang nama dan NPWP-nya tercantum dalam SSP bahwa SSP tersebut sebenarnya bukan pembayaran untuk kepentingannya sendiri dan tidak keberatan dipindahbukunan. Aplikasi tentu akan lebih sulit melakukan validasi permohonan Pbk untuk jenis kesalahan kategori berat. Penelitian yang seksama tetap harus dilakukan secara manual oleh petugas pajak.

Dalam bayangan Penulis, layanan ini akan menempelkan aplikasi DJP Online. Wajib pajak yang ingin memanfaatkan layanan tersebut dapat mengakses akun masing-masing yang telah teregistrasi di DJP Online. Hal ini penting untuk menjaga kerahasiaan dan meyakini bahwa permohonan Pbk dilakukan oleh wajib pajak yang bersangkutan. Agar pembayaran pajak yang sama tidak diakui dua kali oleh wajib pajak baik pada masa / tahun pajak yang sama atau berbeda, diperlukan adanya perbaikan pada layanan SPT Masa dan Tahunan elektronik. Aplikasi harus dapat membaca dan mengidentifikasi apakah Nomor Transaksi Penerimaan Negara  (NTPN) valid  atau telah masuk dalam MPN dan terpenting tidak pernah digunakan sebelumnya dalam pelaporan SPT Masa / Tahunan sebelumnya. Seperti layanan perpajakan secara elektronik lainnya, untuk e-Pbk wajib pajak pun dapat seketika memperoleh bukti Pbk. 

Jika Pbk dapat dilakukan secara mandiri oleh wajib pajak (otomatisasi), manfaat tidak hanya dinikmati oleh wajib pajak tetapi juga oleh pegawai pajak. Waktu layanan dapat diubah menjadi lebih singkat. Layanan kepada wajib pajak akan makin baik. Jumlah petugas pajak yang terbatas dapat dialihkan untuk melakukan fungsi-fungsi DJP lainnya. 

--- 
Belalang Sipit
24/01/2019

Tulisan telah dimuat di http://pajak.go.id/article/menanti-otomatisasi-layanan-unggulan-djp

Read More

Thursday, January 24, 2019

Tuti Ismail

KENALAN



Pagi yang basah di pertengahan 2016. Rintik hujan turun ramai-ramai. "kenalin nama abang,  Dede. Kalau boneka ini namanya Kojib," lelaki di dalam maskot DJP itu bersuara. Kantor saya, DJP atau Direktorat Jenderal Pajak mempunyai maskot boneka berbentuk Lebah,  Kojib namanya. Kojib kepanjangan dari kontribusi wajib. Beberapa ahli perpajakan berpendapat bahwa kontribusi wajib warga negara adalah definisi singkat dari pajak Lebah adalah hewan yang banyak memberi manfaat buat sekitarnya. Dia menghasilkan madu yang bisa menjadi penambah stamina menusia. Caranya mencari makan membantu bunga dalam proses penyerbukan. Seperti itu lah cita-cita seluruh insan perpajakan dapat bermanfaat bagi lingkungannya. "Siape nama abang  ?" tanya lelaki di dalam boneka Kojib pada anak-anak SD 04 Pontianak.  "Kojib !" jawab mereka.  "Halah nama abang tuh Dede.  Kojib nama boneka ni, " jawabnya. "Hahaha," anak-anak malah tertawa mendengarnya merajuk
.
.
Biar William Shakespeare bilang begini, "Whats in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet."  Bagi saya nama tetap penting. Orang sering merajuk bila tidak dikenali, terlebih jika seharusnya kita mengenal dia dengan baik. Dikenali oleh seseorang juga menimbulkan rasa dihargai. Saya pernah masgul ketika di hari perpisahan boss, saya malah dikira anak magang. Padahal saya sudah satu tahun bekerja di kantor itu. Huh  !
.
.
Perkenalkan nama saya Tuti anaknya Pak Ismail. Biar tidak salah panggil saja Tuti Ismail. Dulu ketika saya masih kecil ada bebepa tetangga yang juga bernama Tuti.  Akhirnya di belakang nama Tuti ditambah nama bapaknya, menjadi Tuti Kusmin dan Tuti Ismail. Seorang lagi memilih dibalik namanya dari Tuti jadi Titu.
.
.
Maka biasakan lah untuk lebih dulu berkenalan sebelum memulai berinteraksi. Berkenalan adalah trik jitu jika kita memang tidak tahu atau lupa siapa lawan bicara kita. Di lain pihak,  berkenalan juga penting agar orang tidak salah mengenali siapa kita. Jika bagian ini terlewati jangan salahkan orang lain, kalau mereka mengira kamu adalah manajer di kantor padahal aslinya adalah direktur.

---
Belalang Sipit
25/01/2019

Read More

Tuesday, January 22, 2019

Tuti Ismail

Kalau Bumi Bisa Ngomong


Ilustrasi by pixabay

Sungguh, saya tidak bermaksud menandingi ketenaran Dul Sumbang dan Nini Karlina.  Hei millenial ! Mungkin kalian bingung dengan apa yang saya katakan.  Pada tahun 90-an  Dul Sumbang dan Nini Karlina  untuk pertama kalinya berduet.  Hasilnya Boom ! Lagu Kalau Bulan Bisa Ngomong, meledak di pasaran. Ketenaran Dul, Nini dan lagu Kalau Bulan Bisa Ngomong tak tertandingi.

Kalau bumi bisa ngomong ....
Dia pasti tak akan bohong ....

Dia pasti tak akan bohong dan mengatakan sejujurnya bahwa dirinya tengah marah. Bumi dipenuhi dengan sampah. Tidak hanya dii darat. Di air, bahkan udara pun penuh dengan sampah (polusi). Pada tahun 2015 viral sebuah video, sekelompok peneliti dari Kosta Rika menolong seekor Penyu mengeluarkan sebuah sedotan. Berdarah-darah hidung Penyu.  Kebiasaan membuang sampah ke lautan bukan hanya ada di Kosta Rika. Pun ada di Indonesia.  Kebiasaan itu harus segera di akhiri.

Kalau bumi bisa ngomong ....
Dia pasti tak akan bohong .....


Dia pasti tak akan bohong,  ada terima kasih untuk mereka yang setiamenjaga senyum kecilnya. Walau sedikit, masih ada orang seperti Chaerudin alias Bang Idin, pendekar Sungai Pesanggrahan. Ia menyulap bantaran Sungai Pesanggrahan di kawasan Karang Tengah,  Jakarta Selatan yang sebelumnya tercemar akibat sampah menjadi hijau kembali. Di luar sana masih banyak Bang Idin lainnya. Mungkin dia adalah orang yang secara kebetulan bertemu dengan kita.

Teman saya sepasang suami istri suatu sore menghabiskan waktu berdua. Berjalan mereka sambil menikmati sore ditemani sekantong plastik gorengan. Tak terasa satu bungkus gorengan tandas. Tanpa ragu si istri meremas bungkus gorengan dan menjatuhkannya begitu saja di depan sebuah rumah. 

Tetiba keluar seorang lelaki tua, dia berteriak sambil berkacak pinggang, "hei Kamu ! Jangan buang sampah sembarangan. Ayo pungut !" 

Mereka terperangah melihat lelaki tua itu begitu murka. Matanya melotot. Wajah si suami merah padam menahan malu. Tidak terbayang olehnya akan dihardik di depan wamitanya. Lekas ia memungut sampah itu dan membuangkan ke tempat sampah.

Begitu lah cara semesta menghibur bumi. Di antara amarah dan sedihnya, ada kisah orang-orang baik yang sekuat mempertahankan senyum kecil di sudut bibirnya.

----

Belalang Sipit
23/01/2019
Read More

Sunday, January 20, 2019

Tuti Ismail

Hari Pasaran


"Hari ini ke pasar mana,  Mbak  ?" tanya saya pada seorang sepupu waktu itu. Mbak Siti namanya. Mbak Siti seorang pedagang baju di pasar. Usaha dagang baju turun temurun dia wariskan dari orang tua angkatnya, Mbah Dolah.

"Hari ini ke Pasar Kemiri," jawabnya sambil melipat kulit kasur. Untuk tambah-tambah barang dagangan kulit kasur kapuk dia jahit sendri.

"Kok bukan ke Pasar Kutoarjo ?" tanya saya penasaran. Sepupu saya tinggal di Desa Smawung Kembaran,  Kutoarjo.  Kemiri adalah nama tetangga desa sebelah, letaknya sama-sama di Kota Kutoarjo juga.  Jika melihat jaraknya Pasar Kutoarjo lebih dekat dengan kampung kami.

"O ndak. Di Kemiri, hari pasaran sekarang. Besok baru ke Pasar Kutoarjo," jawabnya. Di wilayah Jawa Tengah umum mengenal hari pasaran. Pada hari pasaran biasanya pasar lebih ramai, dagangan yang dijajakan lebih beragam.  Pedagang seperti Mbak Siti harus hapal kapan hari pasaran di pasar A, B atau C, agar barang dagangan tidak salah dikirim oleh porter.

Hari ini kereta commuter line menuju Stasiun Tanah Abang lebih ramai dari hari biasanya. Wajah-wajah asing dengan tangan menenteng stroli kecil berjejal di gerbong wanita. Mereka adalah pedagang eceran baju atau produk konveksi lainnya. Sama seperti Mbak Siti sepupu saya itu. Mereka berbondong datang sejak pagi supaya dapat barang-barang terbaik,  paling trendy dan bukan barang  sisaan. Ini penting,  sebab berbal-bal barang yang mereka beli nantinya akan dijajakan lagi. Selepas Stasiun Tanah Abang commuter line langsung lengang. Kalau kamu mau,  saking lengangnya di dalam gerbong kamu bisa unjuk kebolehan menarimu.

Sebetulnya ada dua hari dalam seminggu yang seperti ini,  Senin dan Kamis. Dua hari itu adalah hari pasaran di Tanah Abang. Orang menyebutnya Pasar Tasik. Saya tidak tahu persis mengapa disebut Pasar Tasik,  mungkin karena pengrajin dan pengusaha konveksi yang hari ini turun gunung menjajakan dagangannya, kebanyakan berasal dari Tasik. Mungkin ini sama kasusnya seperti kita menyebut pangkas rambut Garut, karena kebanyakan tukang pangkas rambut berasal dari Garut. Kalau ingin dapat barang lebih murah datang lah ke Tanah Abang pas hari pasaran. Hari pasaran di Pasar Tasik.

----
Belalang Sipit
21/01/2019


Read More
Tuti Ismail

P A M I T

Foto by Dwejoko

"Mau ke mana, Dek ?" | "Eh,  Mama. Mau main. " | "Ke mana ?" | "Ke rumah teman." | "Pasti lah. Kalau main pasti ke rumah teman." | "Soalnya kalau ke rumah musuh namanya  tuh nyerang. Bisa juga sebetulnya tuh Ma,  main ke rumah musuh. Namanya dah damai." | "Terus musuhnya jadi teman." | "Haha. Teman rasa musuh itu  namanya si Bajamal. Nanti aku japri nomor telepon mamanya. Pergi dulu ya."

Anak-anak tahu saya paling tidak suka kalau mereka pergi tanpa pamit. Hari gini masih jaman nggak sih orang tua mengajukan pertanyaan kaya di lagunya Kangen Band. Kamu di mana,  dengan siapa dan sekarang sedang berbuat apa ? Sebagian berpendapat tidak jamannya lagi seorang ibu  begitu pada anaknya. Sebagian berpendapat sebaliknya. Saya masih setuju dengan pendapat kedua. 

Suatu malam sepuluh tahun yang lalu telepon di rumah berdering. Saat itu waktu menunjukkan  pukul 2 dini, saya bergegas mengangkatnya. Khawatir kalau-kalau ini berita sangat penting dari kampung halaman. Suara di seberang sangat kencang,  setengah berteriak dan tidak memberi saya jeda untuk bernafas, "selamat malam,  Bu. Kami dari kepolisian. Kami ingin mengabarkan anak Ibu terlibat tawuran.  Sekarang ada di kantor kami."

Saya terperangah. Belum sempat menjawab, tetiba dari jauh terdengar suara orang yang berbeda berteriak memohon, "Mama... Ma... tolong Ma. Aku ditangkap polisi."

Meski saat itu saya tahu bahwa orang itu bohong, tetap saja rasanya jantung  mau copot.  Tidak dapat dibayangkan seandainya saat itu secara kebetulan anak saya tidak berada di rumah. Diam -diam pergi tanpa pamit. Mungkin jantung saya benar-benar sudah menggelinding ke kolong meja makan karena panik. Sambil menutup telepon,saya menjawab suara di seberang dengan galak, "penipu !" Malam itu anak-anak saya sedang tidur pulas. Si sulung baru saja minta diantar ke toilet dan di bungsu baru berganti popok. 

Pamit bukan perkara ingin memuaskan keingintahuan orang tua seperti saya.  Ini soal tata krama (attitude) terlebih dalam kehidupan berkeluarga.  Jika ada yang berpendapat bahwa kecerdasan lebih penting dari attitude,  saya pikir orang itu salah besar. Hal pertama yang ingin saya tahu tentang seseorang bukan lah seberapa cerdas dia atau bagaimana orientasi seksualnya, tetapi apakah dia memiliki attitude yang baik ?
Attitude is more important than the past, than education,  than money,  than circumstances, than what people do or say. It is more important than appearance,  giftedness,  or skill (Charles Swindoll).

Tidak berlebihan jika saya katakan hal di atas berlaku juga untuk kehidupan kita di kantor. Bukan karena keberadaan di sana kita telah dihargai dengan imbalan yang bernama gaji, tetapi karena sejatinya mereka adalah keluarga kedua kita. Tidak sepatutnya dalam sebuah keluarga saling menimbulkan kekhawatiran. 

Boss saya dulu, Pak Tri, berulang kali berkata demikian, "kantor beserta orang-orang di dalamnya adalah keluarga kedua bagi kita." Lama saya merenungkan perkataannya. Pak Tri saya pikir ada benarnya juga. Waktu yang kita habiskan  bersama mereka nyatanya mengambil porsi terbesar dari 1 x 24 jam waktu yang kita miliki. Melebihi waktu kita bersama keluarga di rumah. Perhitungan itu pun dengan catatan kita bukan termasuk keluarga masa kini di mana ayah,  ibu dan anak-anaknya karena suatu sebab bermukim di kota yang berbeda. Tanpa kita sadari ternyata mereka juga memberikan derajat kekhawatiran yang hampir sama dengan keluarga kita di rumah. 

Jangan lupa pamit !!!
----
Belalang Sipit
21/01/2019
Read More

Saturday, January 19, 2019

Tuti Ismail

Sabtu Timbangan Naik

Ilustrasi by pixabay

Kalau Feni Rose bilang Senin harga naik, anak saya bilang Sabtu timbangan naik. Tapi jangan khawatir, begitu masuk hari Senin timbangan turun lagi. Timbangan yang dimaksud adalah berat badan. Tapi itu dulu.  Empat bulan lalu. Sekarang angka di timbangan lebih mirip harga property jualannya Feni Rose sekali naik ogah turun lagi. 

"Terasa nggak,  Kal. Sejak mama di  Jakarta timbangan kita naik dan nggak turun-turun lagi  ?" | "Iya. Mama sih ngasih makan melulu. Dek,  pesen martabak ya ? Pesen mpek-mpek yuk. Kalau burger mau nggak  ?"

"Jadi pada nggak mau nih  ?" | "Ya,  mau lah. Haha." | "Idih, Kalian yang mudah tergoda, kok mama yang disalahkan  ?"

Saya tertawa geli sendiri. Berada antara harus senang atau sebaliknya. Galau menyikapi, sebetulnya ini pujian atau protes dari anak-anak.

Meski terlintas, dengan nakalnya saya enggan berpikir bahwa itu berarti selama 3 tahun saya di Kalimantan anak-anak kurang makan. Dari nada bicara mereka justru menunjukkan sebaliknya, kan  ? Saya  pun pada akhirnya merasa senang karena "tidak sendirian lagi."

Soal "tidak sendirian lagi", saya jadi ingat seorang senior rasanya pernah menulis soal ini, tentang istrinya yang punya pemikiran sama seperti saya.  Apakah dia berhasil  ? Sepertinya sih iya, sebab senior saya itu secara terang-terangan mengakui kalau perutnya sekarang mulai 'sombong' alias maju. Sebetulnya saya mau bilang padanya untuk tidak terlalu khawatir.  Orang, jika punya 'kelebihan' sih bebas. Boleh 'sombong' !

Terlepas dari itu,  saya rasa semua ibu di dunia ini mempunyai naluri dasar yang sama. Tidak pandang apakah itu ibu manusia atau hewan. Memenuhi kebutuhan primer keluarga adalah hal utama. Sandang, pangan dan papan. Jika ini sudah terpenuhi, baru melirik memenuhi kebutuhan yang lain. Apa kabar guru IPS sewaktu kita SD dulu ya ?

Pada anak-anak saya bilang bahwa soal godaan atau ujian.  Godaan dari saya itu adalah bukti bahwa yang namanya ujian tidak selamanya sesuatu sulit dan menyengsarakan. Orang sering tidak waspada, jumawa bahkan meremehkan ketika mendapat kenikmatan. Padahal kalau kita renungi kenikmatan hakekatnya adalah ujian juga, malah lebih sulit untuk bisa dilalui.  Saya bicara begini karena lebih dulu mengalami. Dan sialnya saya masih remedial untuk model ujian yang anak-anak saya alami. 😊

------

Belalang Sipit
20/01/2019
Read More

Friday, January 18, 2019

Tuti Ismail

Ingin Ke Luar Negeri


Gambar by pixabay

Sebelumnya dari kantor mana, Mbak  ?" teman di kantor baru saya bertanya.
"Saya dari Matraman.  Kalau Mas dari mana  ?" balas saya kembali bertanya padanya.
"Saya dari fiskal,  Mbak," jawabnya. 

Kami sama-sama bekerja di kantor pajak. Sebut saja kawan baru saya itu bernama Aji. Saat itu kami baru saja di pindah ke kantor pajak lainnya.  Ada banyak kantor pajak di Indonesia. Hanya kantor pajak tertentu yang mempunyai tugas dan fungsi melakukan administrasi perpajakan PPh Fiskal Luar Negeri (populer disebut FLN).   Biasanya kantor tersebut adalah kantor pajak yang terdekat dengan bandara, pelabuhan ataupun pos lintas batas antar negara. Dengan catatan melalui bandara atau pelabuhan tersebut ada penerbangan atau pelayaran ke luar negeri. 

Sebelum 1 Januari 2011 setiap kali seseorang akan bertolak ke manca negara ada pajak yang harus di bayar. Namanya PPh Fiskal Luar Negeri. Pajak ini  dapat menjadi kredit pajak pada PPh Orang Pribadi sepanjang pada saat membayarnya mencantumkan NPWP.

Pada saat itu FLN dikenakan untuk membatasi seseorang melancong ke luar negeri. Pada tahun 1998 saat krisis moneter menggempur Indonesia, Pemerintah menaikkan FLN (pesawat) dari 250 ribu rupiah menjadi 1 juta per orang.  Tujuannya mencegah agar rupiah tidak semakin terpuruk.  

Tidak semua yang bertolak ke luar negeri terutang FLN.  Ada juga yang dibebaskan seperti TKW/I dan mahasiswa yang kuliah di luar negeri. 

Seiring berjalannya waktu membuat Indonesia tidak lagi menerapkan jenis pajak ini.  Ada banyak sebab mengapa pajak jenis ini menjadi tidak populer lagi,  antaranya  mobilitas manusia sangat tinggi. Dunia seolah menjadi tanpa sekat. Penerapannya juga disinyalir menghambat industri jasa khususnya pariwisata berkembang pesat. Pariwisata bagi beberapa negara mulai dilirik sebagai penopang pertumbuhan ekonomi.  Karenanya tidak mungkin lagi menghalang-halangi seseorang untuk bepergian ke luar negeri. Di lain pihak penerimaan pajak dari FLN ternyata juga tidak pula terlampau besar.  

Bukan cuma FLN yang ditiadakan,  belakangan malah beberapa negara menerapkan bebas visa  ketika masuk ke negaranya. Jika kita masih menerapkan FLN mungkin industri pariwisata kita tidak semaju sekarang. 

"Wah asik donk di Fiskal."
"Iya tiap hari lihat pesawat. Lihat pramugari. Cantik-cantik."

Aji bercerita kadang  iri juga lihat anak-anak muda yang peroleh kesempatan belajar di luar negeri. Apalagi kalau ke sana lewat beasiswa. Terbayang olehnya anak-anak muda nan pintar suatu saat akan menjadi orang besar.  Mungkin juga akan jadi bossnya kelak. Karenanya setiap kali ada kesempatan Aji tidak melewatkan berbagi cerita dengan mereka. Barangkali dari cerita yang terucap bisa menjadi semangat, inspirasi dan motivasi baru.

"Mau sekolah ke mana nih,  Mas  ?" Aji menyodorkan keterangan bebas fiskal untuk anak muda yang akan bertolak ke luar negeri itu. 
"Inggris," yang ditanya menjawab
"Beasiswa  ?"
"Iya. Alhamdulillah. Bisa kuliah gratis."
"Rahasianya apa sih  ? Belajarnya mesti getol banget ya, Mas ini  ?"
"Rahasia pertama  mengajukan beasiswanya dulu. Baru deh belajar dan ikut tes." 
"Hahaha. Iya lah. Orang tua pasti bangga banget ya  ?"
"Alhamdulillah.  Tapi jangan dikira semua orang akan senang kalau kita sekolah tinggi-tinggi."
"Ah masa ada yang nggak suka. Sirik aja tuh !"
"Temen saya, Mas. Kasihan.  Malah mau diusir istrinya gara-gara pingin ngambil S3. Istrinya bahkan ngancem minta cerai."
"Ah masa sih  ?"
"Iya,  soalnya temen saya itu belum selesai kuliah S2 - nya."
"Halah."
"Masih pagi.  Jangan serius-serius ah, Mas  !"

----
Belalang Sipit
19/01/2019


Read More