Friday, September 6, 2019

Tuti Ismail

Mengayuh Harapan


Slamet Rianto (pic credit to Aris Taxic)
Jumat terakhir di bulan Agustus 2019 digegerkan oleh sebuah berita yang disebarkan sendiri oleh yang bersangkutan di salah satu akun media sosialnya. Pukul 06.14 WIB saat itu. "Bismillah.. menuju kantor mas Ahmad Dahlan Jadi Dua," begitu tulisnya. Terlihat dirinya berdiri di samping sepeda kesayangannya. Tangannya memegang sebuah bendera bertuliskan TAXIC (Tax Music Community - komunitas pecinta musik yang ada di DJP) yang ia pasang pada bagian belakang sepedanya. Pemilik akun tersebut bernama Slamet Rianto, sahabat saya yang kini bermukim di Bandung. Sementara Mas Ahmad Dahlan Jadi Dua yang ia sebut-sebut itu juga sahabat saya. Saat ini Mas Dahlan (begitu kami memanggilnya) bekerja di Jakarta. Lebih tepatnya berkantor salah satu kantor di Kompleks Pajak Kalibata, Jakarta.

Wow ! Itu artinya Masla (sebutan kami para juniornya kepada Mas Slamet Rianto) bersepeda dari Bandung ke Jakarta.

Sabtu (31/08/2019) sebuah cara besar akan dilangsungkan di Kompleks Pajak Kalibata. Jambore Komunitas DJP pertama kalinya akan digelar di sana. Sebanyak 23 komunitas akan hadir, dua di antaranya adalah Genjot Pajak dan TAXIC.

Demi memuaskan rasa penasaran, buru-buru saya melihat google map. Jarak Bandung - Jakarta 158 km. Edan! Itu artinya kalau Masla kecepatan sepeda 10 km/jam maka untuk sampai ke Jakarta, Masla harus mengayuh sepedanya kurang lebih 15 jam tanpa jeda. Itu artinya pukul 21 WIB lebih sedikit ia baru akan sampai di Kalibata. Bayangkan mengenjot sepeda selama 15 jam tanpa henti!

Jika ingin istirahat atau tiba lebih cepat maka sudah barang tentu Masla harus mengayuh sepedanya lebih cepat. Entah berapa botol air mineral yang bakal ia habiskan. Barangkali 1 galon pun tidak akan cukup. Belum lagi lelah yang menyerang.

Nyatanya Masla tiba di Kalibata pukul 21.30 WIB. Berhenti 4 kali dan menghabiskan 5000 ml air mineral (dari rumah 2 botol tumbler kapasitas @650 ml. Di jalan beli 4 botol air mineral @600 ml dan isi ulang 2 tumbler tersebut). Itu berarti ia mengayuh sepedanya dengan kecepatan lebih dari 10 km/jam.
 
Duh! Membayangkannya, sekujur tubuh saya langsung pegal-pegal.
Jambore Komunitas DJP (pic credit to Aris Taxic)
Sudah lama saya tahu Masla menggemari olah raga sepeda. Saya pun tahu dia salah satu anggota Genjot Pajak (komunitas penggemar olah raga sepeda yang ada di DJP). Pun begitu, saya tidak sangka ia akan mengayuh sepedanya sejauh itu.

Memang, saban hari tanpa bosan ia mengayuh sepeda mulai dari rumahnya yang berada di bilangan Sekelimus ke kantornya yang berada di jalan Soekarno Hatta (jarak Sekelimus - Soekarno Hatta kurang lebih 6,9 km). Saking seringnya melintas, bisa jadi ia adalah orang yang paling hapal betul tiap lubang, gajlugan atau warung pinggir jalan yang menjual teh botol paling enak rasanya yang ada di sepanjang jalan itu.

Penasaran, saya membuka lagi google map. Bandung - Jakarta masih berjarak 158 km. Bandung - Jakarta tidak pernah jadi menjadi lebih cepat jika ditempuh dengan KA Parahyangan (meski kini namanya telah berganti menjadi KA Argo Parahyangan). Tetap butuh waktu 3 jam 10 menit. Tapi mengapa 19 tahun lalu Bandung - Jakarta terasa jauh sekali. Padahal dari Jakarta saya tidak perlu mengayuh sepeda untuk sampai ke Bandung.

Sembilan belas tahun yang lalu saya tercatat sebagai mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Bandung. Lebih tepatnya mahasiswi ekstensi. Di awal tahun 2000 itu saya telah sampai pada bab 3 skripsi. Harapan, impian dan cita-cita peroleh gelar sarjana tinggal sedikit lagi terwujud. Apa lacur kenyataan berbicara lain, baru di awal 2004 saya mampu menyelesaikannya. Saya ingat ketika pada akhir 2003 menemui dosen pembimbing, ia sampai geleng-geleng kepala. Sambil memandangi lembar pengawas skipsi dengan keningnya yang tiba-tiba mengerut dia bertanya dengan penekanan pada beberapa kata,"kita terakhir bertemu tahun 2000? Kamu, kemana saja?"

"Pindah ke Jakarta, Bu. Hamil, lalu melahirkan,' jawab saya.

"Sudah bab 3. Sayang sekali. Padahal setelah melahirkan Kamu segera lanjut" balas dosen pembimbing

"Iya, Bu maaf," saya cuma bisa bilang iya. Ingin rasanya saya bilang, setelah anak pertama agak besar saya hamil lagi dan beberapa bulan lalu baru lahir anak kedua. Namun alasan itu urung saya sampaikan, karena tidak ada gunanya juga menceritakan hal itu. Tidak tersisa waktu barang sedikit untuk mengeluh. Pilihannya cuma 2, selesaikan skipsi dalam jangka waktu 3 bulan atau hengkang dari kampus tercinta.

Ketika pada awal 2004 dinyatakan lolos dari lubang jarum, sempat juga berpikir untuk mencari sebab pasti mengapa saya begitu lambat dan tidak bersemangat kala itu. Wanita, menikah, hamil, memiliki anak, atau kuliah sambil bekerja telah gugur untuk saya jadikan alasan, karena nyatanya teman-teman saya yang lain dengan kondisi yang sama sanggup lulus tepat waktu. Alasan itu gugur pula oleh pengalaman saya sendiri beberapa tahun kemudian, ketika dalam kondisi yang sama saya menjadi orang pertama di angkatan yang menyelesaikan dan berhasil lulus sidang tesis.

Hanya satu alasan yang tersisa, yaitu jarak. Bandung - Jakarta begitu jauh. Siapapun pastilah akan berpendapat serupa dengan saya. Sialnya, Masla membuat alasan ini seperti daun Flamboyan di musim kemarau. Berguguran. Berserakan dan terbang tertiup angin. Bahkan dengan "teganya" ia melindas daun-daun itu dengan roda sepedanya.

Masla memiliki Grit (ketekunan atau tekad). Apa yang disebut seorang profesor psikologi dari Universitas Pennsylvania sekaligus pengarang buku Grit: The Power of Passion and Perseverance (2016), Angela Lee Duckworth, berperan penting dalam kesuksesan seseorang. Dalam penelitiannya Angela menemukan bahwa ternyata IQ, kecerdasan sosial, penampilan menarik, dan kesehatan bukan faktor penentu utama kesuksesan. Pun dengan bakat, sebab di dunia nyata seseorang berbakat yang tidak memiliki ketekunan dan komitmen seringkali tidak berhasil dalam hidupnya. Tetapi usaha dan kerja keras yang secara tekun dilakukan dari waktu ke waktu lah yang mampu membuat seseorang menjadi tangguh dan akhirnya dapat peroleh keberhasilan.

Kita tidak pernah tahu berapa kali Masla terjatuh dari sepeda. Dengan sepeda roda berapa dia pertama kali belajar bersepeda. Berapa kali dia kehujanan dan kepanasan. Dan entah berapa kali juga rantainya putus atau bannya kempes dan bocor saat sedang asyik menyusuri jalan-jalan sejuk di Bandung hingga akhirnya urung mencapai tujuan. Saya yakin dia pernah melaluinya. Namun saya percaya semua tidak membuatnya berhenti mengayuh pedal sepedanya. Kita sama tidak tahunya seberapa besar tantangan yang dihadapi oleh teman-teman saat menyiapkan acara Jambore Komunitas DJP tempo hari. Saya yakin seperti halnya Masla, tantangan mereka pasti tidak ringan.

Cerita mengagumkan Masla, keberhasilan Jambore Komunitas DJP dan kegagalan saya adalah sebuah pelajaran, utamanya bagi saya. Bercermin pada Michelle Obama, bahwa  There is no magic to achivement. It's really about hard work, choices, and persistence.

---
Belalang Sipit
06/09/2019 
Read More

Sunday, September 1, 2019

Tuti Ismail

Cerita Dari Jambore Perdana Komunitas DJP: Melihat Sisi Lain

Jambore Komunitas DJP 
Tidak seperti hari libur biasanya, Sabtu (31/08) kompleks Pajak Kalibata begitu riuh. Bincang hangat dan jabat erat para pegawai DJP terdengar bak kepak kawanan tawon ketika sampai di padang penuh bunga aneka warna.  Kian  lama kepaknya kian keras. Bersemangat. Bergairah. 

Pelukan mesra dari sahabat yang lama tidak berjumpa seperti bintang-bintang yang di langit malam. Tidak saya bisa lupakan pancaran yang terlihat dari sorot mata mereka. Pancaran mata orang-orang yang sedang diliputi bahagia. Dan satu tulisan seserhana ini tidak cukup untuk menggambarkan keseruan hari itu. Pun demikian dengan foto-foto yang menyertainya. 

Jika pada hari-hari biasanya saya hanya melihat sisi koin yang bergambar burung garuda, berada di sana saya seperti melihat sisi lainnya. Sisi lain yang berbeda-beda gambarnya dan menjadi penyempurna sebuah koin. 

Kilas Balik

Setelah sebelumnya saat Hari Pajak 14 Juli 2019 yang lalu Dirjen Pajak Robert Pakpahan telah meresmikan grand  launching komunitas musik DJP  yang bernama Taxic, hari ini menjadi babak baru sekaligus tonggak bersejarah dari perkembangan komunitas yang tumbuh di DJP. Niat baik ini tidak boleh hanya berhenti di sini. Masih ada ribuan langkah lagi yang akan ditempuh di masa depan. Komunitas lain yang ada di DJP harus pula diberi ruang yang sama. Diberi pupuk dan air yang sama banyaknya agar dapat tumbuh subur dan memberi manfaat,tidak hanya bagi para anggotanya tetapi juga pada organisasi. 

Tidak ingin terjebak dalam angan-angan semata, akhirnya teman-teman Taxic memberanikan diri mengutarakan ide untuk mengumpulkan semua komunitas yang ada di DJP diutarakan kepada Sesdirjen Pajak, Peni Hirjanto pada tanggal 9 Agustus 2019 dan diterima dengan sangat baik. Ide jambore komunitas DJP langsung direspon positif oleh Kakanwil DJP Jakarta Khusus, Budi Susanto dengan bersedia menjadi tuan rumah. Apalagi Dirjen Pajak, Robert Pakpahan bersedia hadir dalam perhelatan besar itu. 

Gayung bersambut, niatan baik dan dorongan dari pimpinan disambut hangat oleh teman-teman komunitas lainnya. Dengan kesungguhan dan sinergi yang menakjubkan akhirnya dengan persiapan kurang dari 1 bulan niatan tersebut dapat diwujudkan (salah satu manfaat Community of Interest adalah menguatnya sinergi).

Puluhan Komunitas Berpartisipasi

Keriuhan sebenarnya telah dimulai sejak  Jumat pagi (30/08). DJP geger  Seorang anggota  komunitas Genjot Pajak, sahabat saya Slamet Riyanto, bahkan "nekat" menempuh jarak 158 km Bandung- Jakarta dengan sepeda kesayangannya demi acara ini. Dia bisa jadi adalah visualisasi nyata dari kalimat penyemangat yang sering kita dengar dari para motivator bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.  Baginya mungkin jarak 158 KM serasa sedepa. Entahlah! Saya hanya punya satu kata untuknya. Menjura!

Slamet Riyanto dari Komunitas Genjot Pajak

Keesokan hari tepat pukul 06.00 WIB dari sebuah kantor di bilangan Tebet, tepatnya KPP Pratama Jakarta Tebet. DJP Runners (komunitas pecinta olah raga lari) menginisiasi Fun Run 6 km yang dimulai dari sana dan berakhir di kompleks pajak Kalibata. Tidak kurang 50 orang pelari turut serta dalam acara tersebut.

DJP Runners 

Belasting Rijder
Berturut kemudian Genjot Pajak (komunitas pecinta olah raga bersepeda) dan Belasting Rijder (komunitas motor) yang melakukan serangkaian konvoi merapat ke tempat yang sama.

Sungai Deras Band

Di lokasi sebagai pertanda dimulainya acara tepat pukul 07.30 WIB empat buah lagu mulai dari Everybody's Changing milik Keane sampai Jingle Pajak persembahan  dengan apik oleh Sungai Deras Band (band KPP Pratama Jakarta Kalideres). 

Yang paling menakjubkan adalah sebanyak 23  komunitasmulai dari komunitas olah raga, sosial, hobby dan kolektor sampai seni dan musik  hadir dalam acara jambore. Saya terperanjat - yang ini disebabkan terbatasnya lingkup pergaulan saya -  tidak menyangka begitu  banyak komunitas di DJP.  Dengan segala keunikannya, beberapa bahkan telah menoreh prestasi dan membawa harum nama institusi (suatu hari nanti saya saya berharap ada yang menulis satu persatu tentang komunitas DJP).

Karya Kodaku Chapter DJP

Ada satu part yang hampir saja luput untuk saya ceritakanketika mampir ke salah satu booth milik TUC (Tax Underground Community). Saya berjumpa dengan beberapa anggotanya, salah satunya yang saya kenal adalah Didik  Yandiawan. Didik bercerita bahwa TUC adalah komunitas para pemerhati, pengarsip, dan pegiat musik metal dan rock. Sesungguhnya saya tidak paham musik metal, jadi yang akan saya ceritakan jelas bukan soal itu. 

Selama berada di booth TUC, Didik banyak bercerita dan saya mendengarkannya dengan seksama. Sambil menunjuk sebuah kaset dia bercerita,"Ini kaset Kompilasi Sewindu Dekadensi berisi 12 lagu. Rilis pada tahun 2016 dan hanya 50 keping. Seluruh hasil penjualan didonasikan ke World Wildlife Fund Indonesia untuk konservasi Harimau Sumatera."

Sebelum saya meninggalkan booth, Didik bercerita lagi bahwa di acara jambore ini TUC juga melakukan penggalangan dana yang seluruh hasil donasinya akan disalurkan ke Yayasan Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI). 

Kaset Sewindu  Dekadensi akarya TUC
Mereka yang berpartisipasi adalah:
1. Taxic ( music enthusiast )
2. Belasting Rijder ( Sepeda Motor )
3. Drebels ( Honda Rebel Riders )
4. DJP Runners ( Lari )
5. DOF ( Fotographi )
6. Paguyuban Fiskus Indonesia
7. DJP Cantik
8. Genjot Pajak ( Sepeda )
9. TUC ( Musik )
10. Tax Army ( Sepak Bola )
11. Billiard Community
12. DJP Friendship Choir
13. Belasting Dragon ( Bola Basket )
14. Kodaku Chapter DJP ( Die Cast )
15. KompakDJP ( Panahan )
16. DJP Dronie ( Drone Camera )
17. DJP Kopiholic ( Kopi dan Barista )
18. DJP Rakom ( Radio Komunikasi )
19. Komunitas Sastra Kemenkeu
20. Tax Creative
21. Pion Pamungkas. ( Catur )
22. Tax Angler Community ( Memancing )
23. Tax Blood ( Donor Darah )

Knowing Your Employee

Jambore komunitas DJP mengusung tema Pajak Merajut Negeri dapat dikatakan  menjadi penanda begitu terbuka lebar dan hangatnya peluk institusi bagi perkembangan mereka. Beragamnya komunitas di DJP juga memberi sinyal kuat bahwa sesungguhnya perbedaan bukan sesuatu yang mesti diperdebatkan. Jika dikelola dengan baik masing-masing dapat bersinar dan menjadi terang untuk semua. 

Dalam sambutannya, Robert Pakpahan menyampaikan sebuah pesan yang menurut saya menjadi inti sari dari kegiatan ini yang sejalan dengan tema yang diusung,"Kita adalah satu, kita tetap inklusif, kita tetap toleran, kita tetap saling menghormati, kita tetap saling bahu membahu, walau berbeda suku, agama, dan komunitas."

Dirjen Pajak membuka acara
Di sisi lain dengan memberi ruang yang sama bagi tumbuhnya beragam komunitas, sejatinya memberi bukti bahwa bukti budaya organisasi, knowing your employee, telah diimplementasikan dengan begitu indahnya.

Komunikasi begitu cair dan membaur. Inklusif seperti yang dibicarakan dalam sambutan Dirjen Pajak bukan omong kosong. Saya melihat bagaimana teman saya Latief dari komunitas Pion Pamungkas, beradu bidak di atas papan catur dengan Staf Ahli Menkeu, Suryo Utomo. "Ayo Kamu nggak boleh ngalah  sama Pak Suryo," Direktur P2Humas, Yoga Saksama yang saat itu menjadi salah satu penonton berseloroh. Yang diajak bicara hanya tersenyum. Saya turut serta menyemangati Latief. Kapan lagi bisa beradu strategi dengan Staf Ahli Menkeu apalagi bisa mengalahkannya, kan?

Tarung Pion Pamungkas 
Saya mungkin satu dari sekian banyak teman-teman yang menjadi sentimentil selama acara berlangsung, ketika para petinggi DJP berbaur dan bernyanyi lagu  Yamko Rambe Yamko dari Papua.

Doddy Katamsi diiringi Taxic 
Senang rasanya melihat mereka begandengan tangan membentuk lingkaran dan berjoget bersama saat Doddy Katamsi menyanyikan lagu I Want To Break Free milik Queen. 







Tidak cukup sampai di sana, rasanya pantas juga saya merasa terharu. Pernah suatu ketika dalam obrolan ringan seorang kawan berucap,"buat anak buah seperti saya ini tidak usah sampai diajak bicara akrab dengan atasan, saat di kantor lama Kepala Kantor saya sering keliling ruangan.  Tepuk-tepuk bahu anak buah. Kami rasanya sudah senang bukan main."


Ketika Dirjen Pajak menyambangi satu persatu booth. Berbincang sejenak  dengan anggota  komunitas.  Memberi tepukan  kecil di bahu mereka dan bersedia berada satu frame dengan mereka. Saya tidak bisa melupakan rona bahagia di wajah teman-teman saya.



Tetiba saya teringat pada teman saya itu, benar ucapkan tepukan kecil dan bincang ringan meski terlihat sepele adalah bentuk dukungan yang setulus-tulusnya. Secara keseluruhan, di hari ini saya melihat DJP dari sisi yang lain. Lebih humanis. Lebih ceria. Lebih bahagia

Terakhir saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah quote dari Ann M.Mulcahy, “Employees who believe that management is concerned about them as a whole person – not just an employee – are more productive, more satisfied, more fulfilled. Satisfied employees mean satisfied customers, which leads to profitability.”

---
Belalang Sipit
01/09/2019
Read More

Sunday, July 28, 2019

Tuti Ismail

TAXIC: Dari Komunitas Untuk Reformasi Perpajakan

Hari Pajak 2019

Hari Pajak 2019 yang baru lalu menjadi titik awal lahirnya komunitas di DJP. Tepat di tanggal 14 Juli 2019, Dirjen Pajak Robert Pakpahan meresmikan (Grand Launching) Tax Music Community (TAXIC) sebagai komunitas pecinta musik yang ada di DJP.

Sebenarnya sebagai sebuah komunitas, TAXIC telah berdiri sejak tanggal 1 Februari 2019. Idealis dan konsep, logo serta nama telah rampung dibahas pada saat itu. Kantin Kita, Lantai Semibasement, Gedung Mar"ie Muhammad menjadi saksinya.

Dari perbincangan saya dengan dua di antara beberapa inisiator komunitas, Aris Jatmiko dan Laksmi Indriani diketahui bahwa TAXIC dimaksudkan untuk menjadi  rumah bagi pegawai DJP, mantan pegawai, Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN) atau yang kita kenal dengan sebutan pramubakti dan satpam yang memiliki minat pada musik (Community Of Interest/COI). Sebagai komunitas yang tumbuh dalam institusi, maka tidak mengherankan jika kemudian komunitas ini  mengusung motto Work - Music - Inspiring.

Grand Launching TAXIC oleh Dirjen Pajak Robert Pakpahan 

Dari atas panggung yang berdiri di halaman Kantor Pusat DJP,  Dirjen Pajak menyampaikan harapnya. Kelak kiranya komunitas yang ada di DJP dapat menjadi perekat dan corong dalam penyebaran informasi baik di internal maupun ekternal DJP. 

Sebagai informasi di DJP tidak hanya memiliki satu komunitas. Ada banyak yang lainnya yang sedang berkembang seperti komunitas sepeda, sepeda motor, fotografi, menulis,  pecinta rokok marginal, pecinta audio analog, design grafis, olah raga (seperti lari, basket, voli dan catur) dan yang lainnya. Tanpa mengurangi porsi perhatian pada pekerjaan utamanya mereka dengan sangat asik menggeluti minatnya amsing-masing. Hal serupa pun sebetulnya juga terjadi pada tingkat Kementerian Keuangan yang ditandai dengan keberadaan  Komunitas Sastra Kemenkeu yang disingkat KSK (beberapa pegawai DJP yang tercatat aktif sebagai anggotanya). Karenanya harapan yang sama tentu juga diletakkan pada pundak mereka.  Terlebih saat ini DJP sedang melaksanakan Reformasi Perpajakan Jilid III (2017 - 2024). Sebuah pekerjaan besar yang sangat mustahil bisa dilakukan oleh segelintir orang saja. Reformasi perpajakan butuh dukungan bersama.



Komunitas, Wujud Nyata MBWA 

Tidak ingin tanggung-tanggung, dalam Reformasi Perpajakan Jilid III secara serentak DJP malakukan perubahan pada 5 pilar penopang insitusi perpajakan, yaitu organisasi, Sumber Daya Manusia (SDM), TI dan basis data, proses bisnis dan peraturan perpajakan. Seungguh sebuah langkah besar yang tidak mungkin sepi dari tantangan.

Berdasarkan penelitian McKinsey (2008) tantangan terbesar yang dapat sebabkan kegagalan program perubahan justru berasal dari pihak internal sendiri, yaitu resistensi pegawai. Faktor utama yang mendorong timbulnya resistensi adalah ketidaktahuan serta kejelasan atas konsep perubahan dan bukan pada perubahan itu sendiri. Penyebabnya adalah tersumbatnya keran-keran informasi yang menghubungkan institusi dengan pegawai. Untuk itu diperlukan strategi komunikasi yang jitu yang dapat ditempuh lewat jalur formal (hierarki) maupun secara informal.

Dari sisi informal, komunikasi dapat dapat ditempuh melalui Management by Walking Around (MBWA). Penerapan nyata MBWA adalah dengan mewujudkan penerimaan sosial (social acceptance) misalkan dengan cara tatap muka dengan pegawai lewat family gathering, kegiatan Internal Corporate Value (ICV), atau mendorong terbentuknya komunitas dalam institusi.

Membangun social acceptance dalam intistusi sangat penting, seperti diungkap McShane dan Von Glinow (2010) bahwa,"one of the best communication channel is by social acceptance refer to how well the communication medium is approved and supported by the organization, terms and individuals". 

Komunitas Memegang Peran Penting

Beberapa keunggulan membangun komunitas pada sebuah institusi, yaitu:

Pertama, membangun kecintaan, kepedulian dan rasa memiliki pada institusi. Harus diakui sangat sedikit dari kita yang ketika awal menggeluti pekerjaannya saat ini semata didorong oleh kecintaan pada pekerjaan atau minat dan bakat (passion). Kebanyakan justru berdasarkan pada hasil kompromi dengan banyak hal, orang tua, keadaan (ekonomi) atau gengsi. Termasuk juga saya (pada mulanya). 

Terlalu mengada-ada rasanya jika saya yang anak A1 (pada tahun 1993 jurusan di SMA terbagi 3 yaitu A1 / Fisika, A2 / Biologi dan A3 / IPS) mengatakan memilih kuliah jurusan akuntansi, lalu bekerja di DJP karena didorong oleh rasa suka pada pelajaran akuntansi dan pajak. Bagaimana mungkin? Di tahun itu, anak IPA tidak belajar akuntansi. Pajak tidak diajarkan di sekolah. Alih-alih mencintai bertemu saja tidak pernah. Berbeda dengan anak SMA jaman sekarang yang juga mempelajari akuntasi sebagai mata pelajaran peminatan. 

Padahal seperti kita ketahui bersama sebuah institusi akan menjadi kuat jika ditopang oleh anggota yang mencintai institusinya dengan sepenuh hati.

Pun begitu apa yang saya utarakan tentu tidak boleh dijadikan pembenar untuk tidak bertanggung jawab pada pekerjaan. Namun seharusnya justru dipakai sebagai pijakan segala upaya kita untuk dapat mencintai pekerjaan demi hasil yang maksimal.

Saya sungguh percaya tidak ada yang tidak bisa diupayakan. Kecintaan dan rasa memiliki bisa ditumbuhkan dengan memberi ruang yang cukup bagi pegawai untuk membentuk komunitas sesuai minat masing-masing. Secara otomatis kebersamaan mereka akan membangun keterikatan dengan insitusi dan pada akhirnya mendorong tumbuhnya rasa cinta dan memiliki.

Karenanya tidak berlebihan jika saya berpendapat intitusi yang secara sadar membangun dan mendorong tumbuhnya komunitas dalam dirinya bisa dibilang sebagai institusi yang modern. Sangat boleh juga jika kemudian kita memberi label para pemimpinnya sebagai pemimpin yang progresif dan berupaya keras untuk mengenal lebih jauh anggotanya (knowing your employee) guna menciptakan iklim kerja yang bergairah, kreatif dan dinamis. Jika pegawai sudah merasa dicintai rasanya mustahil akan menghianati, bukan? 

Kedua, meminimalisir salah tafsir (misinterpretation) dalam berkomunikasi. Adanya  kesamaan bahasa adalah kunci dalam komunikasi yang efektif. 

Suatu hari pada awal masa perkuliahan saya di tingkat 1, seorang dosen bercerita di dalam kelas dengan maksud sebagai intermezo dari mumetnya belajar akuntansi. Kurang lebih begini yang ia sampaikan,"keluarga saya sering mengeluhkan sulitnya berbicara dengan saya. Misalkan ketika meminta saya segera mandi. Meski diperintah berkali-kali saya tetap bergeming. Kakak saya lalu mengatakan, mungkin jika berbicara dengan saya baiknya lewat angka-angka. Debet kredit. Itu karena saya adalah anak akuntansi."

Bertahun kemudian saya baru memahami apa yang dosen saya itu maksudkan. Untuk komunikasi yang efektif gunakan bahasa yang sama dengan lawan bicara. Kebanyakan komunikasi menjadi gagal total karena masing-masing pihak berada pada frekwensi yang berbeda. Dalam sebuah komunitas (COI) yang didasari oleh perminatan yang sama rasanya persoalan tersebut menjadi sangat minim. Segala informasi dan transfer ilmu yang disampaikan menjadi lancar dan minim dari salah duga (misinterpretation).

Ketiga, mendapat masukan (feedback) yang berkualitas. Sebuah pekerjaan adalah rangkaian yang tidak pernah putus, seperti sebuah pita yang dililitkan pada sebuah roda. Dimulai dengan perencanaan, pelaksanaan, monitor dan diakhiri oleh tindaklanjut. Begitu seterusnya menggelinding hingga mencapai tujuan.

Lewat komunitas, institusi mendapat peluang untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya dan sejujur-jujurnya dari pegawai. Tanpa mengesampingkan rasa saling menghormati (respect), sekat antara atasan dan bawahan menjadi setipis kulit bawang. Kedekatan semacam itu sudah barang tentu didasari oleh saling percaya dan sudah pasti baik bagi institusi.

Keempat, membangun image postif bagi institusi. DJP sebagai institusi yang diamanatkan mengumpulkan pajak dari masyarakat haruslah memiliki image yang baik di masyarakat. Utamanya adalah sebagai institusi yang luwes, asik dan  dapat dipercaya dengan tetap berpegang teguh pada integritas. Ibarat sekeping mata uang yang memiliki dua sisi yang sama berharganya, pada titik inilah komunitas mengambil peran penting yaitu dengan menunjukkan sisi humanis intitusi perpajakan. Karena perlu diingat bahwa pemungutan pajak yang  baik dihadapkan pada tantangan sulit yaitu ibarat mencabut bulu angsa sebanyak-banyaknya dengan teriakan angsa sekecil-kecilnya. "The art of taxation is the art of plucking the goose so as to get the largest possible amount of feathers with the least possible squealling" (Jean Baptiste Colbert).

Terakhir teruntuk para pemimpin yang bijaksana, penggiat komunitas, dan anggota komunitas saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah quote mahsyur dari Henry Ford,"kebersamaan adalah permulaan. Menjaga bersama adalah kemajuan. Bekerja bersama adalah keberhasilan."

---
Belalang Sipit
28/07/2019
Read More

Saturday, July 27, 2019

Tuti Ismail

Sik Sik Saya Suka Musik

Hari Pajak 14 Juli 2019

Hampir setiap hari kerja saya berjumpa dengan seorang anak kecil dan ibunya di kereta. Di pagi-pagi buta. Secara kebetulan kami naik dan turun di stasiun yang sama. Sama seperti saya, ibu si anak kecil juga seorang pekerja. Tepatnya sebagai seorang guru TK dan anak kecil berpipi bakpao yang bersamanya adalah salah satu muridnya.

Tidak sampai satu bulan setelah pertemuan pertama kami mulai akrab. Kalau bertemu dia selalu menyapa lebih dulu dan dengan takzim mencium tangan saya. Saya sering membawakan sebungkus wafer kesukaannya. Dia membalasnya dengan cerita panjang soal liburan, film kesukaannya atau kegiatan di sekolahnya. Saya balas lagi dengan tatapan antusias dan kedua telinga yang terjaga hanya untuk tiap ceritanya. Anak kecil yang tahun ini baru naik ke kelas TK B punya tawa yang renyah dan senyumnya yang lebih manis dari secangkir kopi sasetan.  Dia memanggil saya Tante Tuti dan saya memanggilnya Abang (katanya panggil saja begitu, karena menurutnya saya pasti kesulitan mengingat namanya).

Kemarin kami jumpa lagi di stasiun. Lalu naik kereta di gerbong yang sama. "Tante bawa tempat minum," katanya sambil menunjuk botol minum yang saya pegang. Pejalanan saya dari stasiun ke kantor menghabiskan waktu hampir 1,5 jam. Bahkan kalau dihitung sejak keluar rumah bisa lebih dari itu. Karenanya pastilah membuat kering tenggorokan. Sebetulnya di hari-hari lain bukan tempat minum yang buasa saya genggam, tetapi sebotol air mineral kemasan. Baru kira-kira  seminggu ini saya membawa tempat minum (tumbler). Biar cuma menghemat menyumbang satu botol plastik rasanya baik juga saya lakukan. "Bagus kan. Mirip sama tempat minum Abang ya?" tanya saya.  "Nggak. Itu mirip kaya tempat minum anak play grup. Kecil banget soalnya," jawabnya polos.

Dalam perjalanan dia bercerita hari ini tetap masuk sekolah. Bukan hanya murid,  orang tua juga harus datang. Hari tiap orang tua murid harus datang dan membacakan buku. Saya tanya,"wah asik. Dibacakan buku biar apa,Bang?" Dia melirik mamanya, lalu menyanyikan sebait lagu. Liriknya saya ingat begini,"ayah ibu bacakan aku buku. Agar aku pintar." Saya tersenyum mendengarnya. Menarik, mengingat bagaimana anak menjawab pertanyaan saya.

Kita semua pasti ingat bagaimana dulu semasa kecil kita banyak menghapal banyak hal lewat sebuah lagu. Bapak dan ibu guru paling pintar soal ini. Contoh nyata adalah bagaimana kita dengan mudah menghapal nama-nama hari,"senin, selasa,  rabu, kamis, jumat, sabtu, minggu itu nama-nama hari."

Atau yang lebih sulit dan panjang seperti 20 sifat wajib Allah,"wujud, qidam, baqo, mukholafatu lilhawaditsi, qiyamuhi bi nafsihi, wahdaniyah, qudrat, irhadat dan seterusnya." Pernah ketika ujian di sekolah dan ditanya sifat Allah SWT yang ke 15, sebelum menjawab dengan lantang saya senandung  lagu barusan. Menghapal bukan lagi jadi momok yang menakutkan. Dengan lagu atau musik proses belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Saking cairnya lagu masuk ke dalam ingatan kita, keponakan saya yang lugu pernah ketika diminta menyanyikan lagu perjuangan di muka kelas dengan gagah menyanyikan lagu sebuah partai politik. Dia tidak salah, lagu itu memang terdengar begitu patriotik. Terlebih saat itu setiap hari ia mendengar dan melihatnya diputar di sebuah stasiun televisi.

Bukan hanya sebagai media dalam proses belajar, musik juga dapat digunakan dalam proses penyembuhan. Sejalan dengan itu seperti dilansir Tirto.id. (15/11/2016) Christ Billy seorang pakar musik berpendapat bahwa mendengarkan musik di saat yang tepat dapat mempengaruhi psikologis pendengarnya. Musik diyakini mampu mengubah suasana hati, menambah fokus, membuat lebih produktif  dan dapat membantu lebih rileks.

Dalam sebuah iklan atau propaganda, musik atau lagu memegang peranan penting. Saya masih terngiang lagu KB yang kerap diputar di televisi pada akhir tahun 70-an. Di tahun itu pemerintah tengah mencanangkan progran Keluarga Berencana. Punya anak cukup 2 saja. Meski tidak menafikkan upaya pemerintah yang lainnya, saya rasa propaganda yang dilakukan pemerintah lewat lagu KB menjadi salah satu sebab berhasilnya program tersebut.

Statistik menunjukkan, tahun 1971-1980 rata-rata laju pertumbuhan penduduk per tahun 2,31%. Pada dekade berikutnya, 1980 -1990 ditekan menjadi 1,98%, dan pada dekade berikutnya lagi menjadi 1,49%.

Lewat seorang seniman yang handal seperti Pakde Didi Kempot, patah hati menjadi tidak lagi populer untuk tangisi tapi lebih pantas dijogeti. Sebuah fenomena yang sungguh menarik. Tidak heran jika kemudian karena kepiawaiannya ia menyandang gelar 'the godfather of broken heart'.

Seandainya apa yang saya urai di atas diaplikasikan di dunia perpajakan kita, kira-kira bagaimana ya dampaknya?

Sungguh saya menanti seorang anak seperti keponakan saya, dengan gagah berani menyanyi di depan kelas membawa lagu tentang pajak. Ketika dewasa bisa jadi dan sangat mungkin kesadaran pajak akan tumbuh dengan sendirinya.

Saya yakin tidak seperti pungguk yang sedang merindukan bulan. Mimpi saya (inklusi pajak) barangkali setinggi langit, tapi langit saya adalah langit yang terlihat.

---
Belalang Sipit
27/07/2019
Read More

Sunday, July 21, 2019

Tuti Ismail

Gerbong Lengang dan Jalan Memutar Frank Thiess


Kalau ada yang bilang bahwa semua kejadian ada hikmahnya dan pasti yang terbaik untuk kita, kamu mesti pecaya. Itu nasihat ibu saya. Mengingat semua yang terjadi semasa hidupnya tentu tidak ada alasan bagu saya selain percaya. Bukan cuma 100% tapi 3000%.

"Jangan khawatir, kamu pasti bisa tinggal jauh dari rumah. Ibu yakin kamu bisa menyesuaikan diri. Kamu pasti akan jumpai kegembiraanmu di sini," begitu nasehatnya waktu pertama kali kami menginjakkan kaki di kamar kost saya yang mungil di jalan Kalimongso, Jurangmangu. 

Kamar berukuran 2 x 3 m dengan  tempat tidur susun ukuran 100 x 200 cm, dua lemari kecil. Rumah kost yang saya tempati tanpa pesawat televisi. Setelah melewati hari-hari dengan teman sekamar akhirnya saya menyadari telah menemukan "kegembiraan" yang ibu maksud. Tidak perlu waktu lama. Kegembiraan datang sejak malam pertama saya di Kalimongso. Sejak malam itu hingga berminggu-minggu kemudian saban malam saya terjatuh dari tempat tidur. Berminggu-minggu pula saban tengah malam saya dan teman sekamar tertawa. Sakitnya sebetulnya tidak seberapa, tapi malu sungguh tidak tertahankan.  

Tiap malam saya menyandarkan punggung ke dinding kamar. Saya tajamkan indera pendengaran. Kamar kost saya bersisian dengan ruang tamu pemilik kost. Lumayan, meski tidak bisa lihat gambarnya saya bisa dengar jelas dialog sinetron yang sedang diputar ibu kost. Mirip seekor Ngengat, indera pendengaran saya kian hari kian tajam. Dan di awal tahun 1994 rasanya makin tajam saja. Sinetron Doel Anak Sekolahan sedang populer saat itu. Saya bisa membayangkan betapa lucunya saat Atun terjebak dalam Tanjidor. Betapa girangnya Babe saat Doel jadi tukang insinyur.

Meski mempercayainya, sialnya saya lebih banyak lupa dari pada ingatnya. Berkali terlintas juga rasa tidak nyaman ketika sesuatu hal pertama kali terjadi. Misalnya ketika berada di lingkungan atau teman baru. Setelah bertahun terbiasa dengan lalu lintas di Pontianak, ketika akhirnya kembali lagi saya tergagap juga  dengan padatnya Jakarta. Berada di jalanan sejak matahari masih terlelap dan kembali ke rumah lepas senja bukan sesuatu yang mudah. Ditambah tiap hari mesti berlaga sebagai seekor Makarel yang berdesakan di dalam kaleng. 

Bagaimana bisa saya lupa, tubuh kita ini 70% nya adalah cairan. Jangankan menemukan "kegembiraannya" menyesuaikan diri diberbagai keadaan pun pasti bisa. Seberapapun sulitnya. Seember air bila dituang ke dalam botol akan menjadi sebotol air. Apapun wadahnya bagi air tidak akan menjadi persoalan, bukan?

Barangkali inilah jalan bagi saya untuk menemukan "kegembiraan" seperti kejadiaan 26 tahun yang lalu. 

Ketika masinis mengumumkan commuter line telah tiba dan pintu terbuka lebar di Stasiun Jatinegara dengan mantap saya langkahkan kaki ke luar gerbong. "Kereta ke Duri di mana, Pak," tanya saya pada petugas di stasiun. Petugas menunjuk ke jalur seberang.

Perjalanan tidak seperti biasanya. Kereta yang saya tumpangi sekarang tetap akan berhenti di stasiun yang saya tuju setiap hari, Duri. Bedanya kereta akan berjalan memutar melewati Stasiun Pasar Senen, Kemayoran, Kampung Bandang, Angke lalu Duri. Tidak akan lagi saya jumpa dengan Stasiun Manggarai yang padat. Sampai jumpa lain waktu Sudirman, Tanah Abang dan Karet.

Saya bergegas menuju ke kereta yang dimaksud. Jam menunjukkan pukul 05.45 wib. Kalau tidak ada halangan 11 menit lagi kereta akan berangkat. Lampu di dalam gerbong telah menyala. Mesin pun telah menyala. Heran ke mana para penumpang. Bangku di dalam gerbong baru terisi beberapa. Gerbong begitu lengang. Ingin rasanya berlari-lari dari gerbong yang satu ke gerbong yang lain. Hal yang tidak akan bisa saya lakukan jika berada di kereta biasanya. Saya duduk dengan tenang. Sambil menyandarkan kepala ke dinding gerbong saya memejamkan mata. Seperti seekor ayam dengan kelopak dan bola mata yang bergerak-gerak saya tertidur. 

Sesampaikanya di Duri laksana seorang putri yang bosan dengan kereta kencananya, dengan mudahnya saya ganti. Lalu bersandar lagi di dinding gerbong dan tertidur seperti seekor ayam. Dengan sebuah langkah baru, hal yang dulu tidak bisa dilakukan dapat saya lakukan kini. 

Saya lupa bahwa air tidak hanya bisa mengalir, tapi juga bisa menetes bahkan merembes untuk menuju wadah barunya. Tidak pernah hanya ada satu jalan, selalu tersedia jalan yang lain. Mungkin akan lebih sukit, lebih jauh atau bahkan lebjh gidaj enak. namun selalu ada pilihan, tinggal kita mau atau tidak untuk mencari dan menempuhnya. Seperti yang dibilang seorang penulis dan penyair Jerman Frank Thiess (1890 - 1977), Das Leben Besteht hauptsachlich aus Umwegen. Hidup terutama terdiri dari jalan yang memutar.

---
Belalang Sipit
21/07/2019
Read More