Saturday, July 13, 2019

Tuti Ismail

TAXIC : Kupetik Gitar



Matahari telah pamit pulang saat saya bersama seorang kawan berjalan menyusuri basement Gedung Utama DJP menuju Kantin Kita.  Para pegawai telah berangsur pulang. Kantor telah lengang saat itu. Tidak ada lagi pegawai yang berjejal di dalam lift. Waktu menunjukkan pukul 18.30 wib pada Jumat, 28 Juni 2019. 

Adalah Mas Aris Jatmiko dan Mbak Laksmi Indriani (Jeanny), kedua sahabat kental saya yang "memaksa" untuk datang. "Mas, saya nggak bisa main gitar. Nggak ngerti.  Di sana ngapain?" begitu alasan saya saat ia mengabari soal acara guitar clinic.  Alasan lainnya adalah kantor saya yang berada di ujung Jakarta Barat sangat jauh dari tempat diadakannya acara. Keduanya tidak putus asa meyakinkan. Meski tidak bisa memainkan alat musik tidak ada larangan untuk hadir ke acara musik, begitu kata mereka.  

Kedua sahabat yang saya sebut namanya di atas adalah dua di antara beberapa tokoh penggagas TAXIC (Tax Music Community). TAXIC sendiri adalah komunitas para pencinta musik di DJP.

Setelah saya pikir benar juga apa yang meraka bilang. Untuk mencintai musik tidak harus pandai memainkan alat musik. Ya,  saya menikmati petikan gitar si bungsu ketika memainkan soundtrack drama Korea Endless Love.  Meski agak tersendat karena dia meniru seseorang yang memainkannya di youtube, hati saya terbawa haru juga. Ingat pada kisah kasih Song Seong-heon (Yoon Joon-suh) dan Song Hye-kyo (Yoon Eun-suh) yang berakhir pilu.

Ya,  pun seandainya saat ini tidak bisa,  bukankah semua orang yang kemudian kita beri label "mahir"  juga memulainya dari sebuah keadaan yang kita sebut tidak tahu apa-apa? 

Suara petikan senar gitar dari si pemilik  album solo yang berjudul Encore memeluk malam. Jemarinya lincah bergerak.  Berpindah dari senar yang satu ke yang lainnya. Mata saya tak sanggup beranjak darinya.  Jika kamu pernah berimajinasi ada orang yang memiliki 12 mata saya kira dia lah orangnya. Dua matanya berada di tempat yang semestinya, sementara yang lainnya ada di tiap jemarinya.  

Jemarinya dengan berani memetik senar-senar gitar. Makin lama makin cepat,  bergegas seperti seorang pemetik daun teh yang berlomba dengan seekor ulat. Lambat sedikit saja habis sudah pucuk daun tehnya. Bisa gagal panen hari itu.   

Sejujurnya hingga kini, ketika saya menuangkan tulisan ini  masih juga terheran bagaimana bisa ketika jempol dan telunjuk kanannya kuat menggengam pick bergerak serasi  dengan jemari lainnya memetik senar. Seketika saya merasa sedang berdiri di pinggir kebun teh. Tercenung melihat mereka beraksi.  Sekarang bukan hanya seorang pemetik teh yang saya lihat, tapi ada empat lainnya di sana. Ketika jemari kanannya memetik senar, jemari kirinya bergantian menekan senar di ujung gitar. Saya menghela nafas kuat-kuat. Karena ulahnya saya sampai lupa telah menahan nafas sekian detik. Mungkin begitu pula yang dirasa para pecinta musik yang saat itu memenuhi Kantin Kita. Jemari itu,  ah pasti benar adanya memang memiliki mata.

Zendhy Herdian Kusuma atau yang kita kenal dengan nama Zendhy Kusuma, dia lah si empunya jemari itu.  Seperti dilansir oleh Yamaha.com, Zendhy Kusuma adalah seorag gitaris independen Indonesia.  Telah banyak penghargaan internasional yang ia raih, di antaranya menerima gelar kehormatan dari LRSL (Licentiate of Rockschool Level)  London dan juga FLCM (Fellowship of the London College Music)  University  of West London. Sebuah sekolah musik bernama Sekolah Musik Istana Nada telah berdiri atas inisiasinya. Pada mulannya ketika masih duduk di bangku SMP Zendhy menekuni gitar klasik. Lalu mencoba bereksperimen ke gitar elektrik. Zendhy Kusuma satu dari sedikit seorang yang bisa kita beri label "mahir" di bidangnya. 

Berganti-ganti kami bertanya dan Zendhy Kusuma dengan sabar menjawab. Sejujurnya tidak seluruh pertanyaan dan jawabannya saya mengerti benar. Sebenarnya demikian pula dengan lagu-lagu yang dia bawakan, bukannya tidak bagus hanya tidak akrab sahaja di telinga. Pun begitu saya menikmati betul malam itu. Menikmati kepiawaiannya bermain gitar. 

Untungnya Zendhy berbaik hati melantunkan instrumen lagu milik Andre Hehanusa yang berjudul Karena Kutahu Engkau Begitu alias KKEB (salah satu lagu yang dia kulik pada saat mulai belajar bermain gitar). Lagu yang populer pada tahun 1995. Lirik KKEB dan melodinya sangat pas dengan petikan gitar. Berikutnya lagu Mr.  Big  yang populer di tahun 1993, Wild World (lagu yang pertama ia kulik).

Jadilah seisi ruangan (besar kemungkinan seusia dengan saya karena begitu fasehnya menyanyikan KKEB)  tanpa ada yang memberi komando menyanyikan lagu itu. 

Sebetulnya sebelum Zendhy Kusuma berhasil tampil memukau, dia telah terpukau lebih dulu oleh para pecinta musik yang hadir di Kantin Kita. Pada teman-teman saya yang tak kalah mahirnya memainkan alat musik dan mengolah suara. Sebuah lagu dari Jimi Hendrix yang berjudul Little Wing jadi salah satu buktinya. Mas Arief Hoeda begitu ciamik melantunkannya dan petikan gitar dari Erril Forensik menyempurnakannya.


Saya dan kawan lainnya tertawa bersamaan sewaktu Zendhy bilang betapa kagetnya dia ketika menyadari bahwa kami ini adalah pegawai negeri sipil (sekarang disebut ASN / Aparatur Sipil Negara) . Tidak menyangka. Zendhy Kusuma tidak salah, memang sejak lama ASN alias birokrat dipersepsikan sebagai sekumpulan pegawai yang "kaku", monoton dan mungkin membosankan. Padahal sesungguhnya tidak begitu. 

Di masa depan ketika pemerintahan berorientasi pada pelayanan,  seorang ASN  harus cair, dinamis dan hangat sebab mereka adalah pelayan masyarakat. Seperti sebuah pinangan yang berakhir ke pelaminan, rupanya apa yang ada dalam benak saya itu setali tiga uang dengan yang disampaikan Pak Peni selaku pembina Taxic bahwa yang terjadi malam itu adalah sesuatu yang baik. Komunitas yang sama diharap juga dapat berkembang di daerah-daerah lain. 


Pada akhirnya waktu jua yang memisahkan kami. Guitar clinic oleh Zendhy Kusuma berakhir tepat pukul 
21.30 wib. Meski saya hanya sedepa beranjak dari jurang ketidaktahuan tentang bagaimana memainkan gitar (yang ini bukan salah Zendhy,  tetapi karena jurang ketidaktahuan saya yang begitu dalam hingga sulit untuk digali), namun saya belajar dan juga mendapatkan banyak hal.  Bahwa benih ketekunan yang kita tanam pada akhirnya akan tumbuh menjadi pohon besar yang disebut kepercayaan diri dan berbuah manis yang kita namai keberhasilan. 
---
Belalang Sipit
13/07/2019

Read More

Sunday, June 30, 2019

Tuti Ismail

Sepotong Bolu Karamel Untuk John Locke


Ketika berusia 14 tahun atau duduk di kelas dua SMP, saya sudah mahir membuat bolu karamel.  Sebagian orang mengenalnya dengan sebutan bolu atau kue sarang semut. Itu karena ketika dipotong bagian dalam bolu berongga menyerupai sarang semut. Tetangga saya yang bernama Teteh Atik yang mengajarkan.  Seketika bolu karamel menjadi hantaran andalan keluarga kami untuk para tetangga atau saudara. 

Karena kerap sebagai hantaran,  tetangga penasaran.  Teman-teman ibu saya lantas sering datang ke rumah minta diajarkan. Saat itu di akhir tahun 90-an kebanyakan ibu-ibu membuat sendiri kue atau bolu baik untuk di makan sendiri oleh keluarganya atau untuk diberikan kepada orang lain. 

Saking mahirnya membuat bolu karamel, dengan memanfaatkan "keluguan" saya seorang tetangga yang mempunyai usaha catering bahkan suka meminta tolong dibuatkan. Bukan hanya mahir, saya juga bisa dibilang cekatan. Ketika satu kompor memanggang adonan, di kompor yang satu saya sibuk meracik adonan.  Ketika bolu matang, adonan berikutnya siap untuk dipanggang. 

Kemahiran saya itu pada akhirnya juga diketahui sahabat saya, Sari. Suatu ketika dia meminta resep bolu karamel dan cara membuatnya.  Meski tidak terlalu serius beberapa kali pernah juga dia melihat saya membuatnya. Berbekal resep dan coretan-coretan cara membuatnya dia bergegas ke rumah, ingin praktek langsung katanya.  Saat itu saya tawarkan untuk menuntunnya langkah demi langkah,  tapi dia menolak. 

*****
Bolu karamel terbuat dari gula pasir, telur, air,  susu kental manis,  tepung terigu,  mentega, soda kue dan backing powder.  Seluruh bahannya mudah didapat di pasar.  Cara membuatnya pun mudah dalam artian tidak perlu mixer kue (alat pengocok adonan). Pun begitu, tetap ada teknik khusus yang mesti diketahui jika ingin sukses dan aman membuatnya. 

***
Keesokan harinya ketika jumpa dengan Sari saya tanya soal bolu karamel, "gimana,  Ai karamelnya?" Maksud saya adalah apakah dia sukses membuatnya. Sari tertawa. Diperlihatkannya juga tangannya yang kemerahan seperti habis terkena uap panas. Lalu berceritalah dia kalau bolunya bantat alias tidak memgembang seperti bolu buatan saya. Ketika dipotong tidak tampak rongga mirip sarang semut. Katanya, bolu buatannya itu lebih mirip disebut dodol. Bagian dasar bolu juga gosong, sementara bagian atasnya masih sedikit basah. Lebih parahnya lagi ketika sudah matang bolu tidak bisa dilepas dari baking pan (panggangan bolu). Ia harus memaksanya keluar dengan menggunakan sendok, akibatnya bolu yang seperti dodol itu bentuknya jadi tidak karuan. Somplak sana sini terkena sendok.  

"Apa bahannya yang mesti diganti dengan yang kualitas super, ya?" tanyanya. Sekarang balik saya yang tertawa karena bukan itu sebab kegagalannya. Sari lupa mengoles baking pan dengan margarin dan menaburinya dengan terigu sebelum adonan dituang. Sari juga salah membubuhkan soda kue, yang seharusnya satu sendok teh dia beri seujung sendok teh. Soal bolu yang gosong,  itu karena dia memanggangnya dengan api yang terlampau besar. 

****
Biasanya, untuk membuat bolu karamel saya menggunakan margarin merek blueband. Itu hanya kebiasaan saja. Pernah suatu ketika saya menggantinya dengan margarin merek lain. Agar biaya lebih murah, bahkan pernah juga menggantinya dengan minyak goreng curah. Semua tidak masalah karena toh margarin yang dipakai saya masukkan ke dalam adonan karamel (gula dan air)  yang masih panas, hingga pada akhirnya akan mencair juga. Agar lebih wangi dan lembut, saya pernah juga pernah mengganti satu sendok margarin dengan butter. Hasilnya tetap sama, bolu buatan saya tetap mengembang, mentul- mentul dan berongga mirip sarang semut.  

Di satu waktu saya menggunakan susu kental manis merek bendera. Dii waktu berbeda saya menggantinya dengan yang  merek yang lain yang harganya lebih murah. Sama,  tidak juga jadi masalah.  

Tepung terigu yang saya pakai berganti-ganti merek. Jika membeli di warung dekat rumah,  saya bahkan tidak tahu mereknya apa.  Maklum terigu di warung dekat rumah dikemas dalam plastik bening dengan satuan seperempat, setengah  atau satu kilogram. Sama, bolu karamel buatan saya tetap mentul-mentul.  

Soda kue dan baking powder yang biasa saya gunakan merek koepoe-koepoe. Bukannya fanatik,  di pasar atau warung dekat rumah hanya merek itu yang tersedia.  

Untuk telur,  saya menggunakan telur ayam negeri. Tidak hitung jumlahnya, saya hitung beratnya. Setengah kilogram. Jadi bisa 8 butir atau 9 butir jika telurnya kecil-kecil. 

Ketika memanggang saya memperhatikan betul besar api. Api cukup sedang saja agar kue matang merata. Pada awal praktek membakar, saya juga langsung gas pol dengan api besar.  Ibu saya berseloroh, "mau kemana sih buru-buru amat!" Ya. Memasak itu harus sabar dan pakai hati. Harus mau menikmati prosesnya.

Meski sering bereksperimen dengan mensubtitusi bahan dengan bahan sejenis yang lebih murah atau mahal, hasilnya tetap sama. Sama dalam arti bolu karamel saya mengembang sempurna dengan rasa karamel,  berongga mirip sarang semut dan tidak pahit ketika menggigit dasarnya. 

Tangan saya juga tidak pernah memerah seperti habis terkena uap panas. Dari serangkaian proses membuat bolu karamel ada satu langkah yang berbahaya, yaitu saat membuat karamelnya. Pada saat gula pasir di jerang di atas panci gunakan api sedang. Aduk perlahan. Ketika  gula sudah menjadi kecoklatan (karamel) masukkan air secara perlahan.  Gunakan gayung atau alat untuk menuang air bergagang panjang. Jika semua air sudah dituang, aduk karamel yang membeku dengan pengaduk bergagang panjang. Bercampurnya karamel dan air menimbulkan uap panas. Ini yang berbahaya. Makanya tangan atau anggota tubuh lain sedapat mungkin tidak berada di dekat mulut panci. Teknik ini yang Sari tidak tahu. 

Saya katakan pada Sari bahwa problemnya bukan pada bahan baku yang dia pakai, tetapi pada proses dan teknik yang dia abaikan. Kita bisa saja mengganti bahan baku dengan harga yang lebih mahal atau lebih murah (harga sering kali diselaraskan dengan kualitas. Jadi bisa juga dibaca menggantinya dengan bahan baku yang kualitas tinggi atau rendah). Perbedaan rasa pasti ada dan itu wajar-wajar saja, tetapi produk yang dihasilkan tetap disebut bolu karamel atau bolu sarang semut.  

"O jadi salah ya cara bikinnya.  Haha. Besok ajari ya," begitu gelaknya.

Pada hari berikutnya saya mendampinginya membuat bolu karamel.  Mengajarinya langkah demi langkah hingga akhirnya dia berhasil.

Sari telah mengambil langkah pertama yang tepat, yang mungkin tidak dilakukan oleh banyak orang. Bisa saja dia ngotot berdalih bahwa bolu buatannya juga disebut bolu karamel. Tapi itu urung dia lakukan. Sari tahu untuk melakukan evaluasi dia harus berangkat dari pemahaman dan tolak ukur yang sama, bahwa bolu karamel adalah bolu berwarna coklat dengan rasa karamel dan ketika dipotong akan tampak rongga-rongga mirip sarang semut.  

Bisa saja ia putus asa, lantas memutuskan membeli saja bolu karamel buatan saya, menaruhnya dalam kardus berlabel "Sari Bakery" lalu mengaku-aku kepada orang banyak bahwa itu bolu buatannya. 

Bisa juga Sari buru-buru berlindung bahwa kegagalannya itu sudah jadi garis tangannya.  Takdirnya. Akan lebih parah lagi jika  sikapnya itu pada akhirnya membuat Sari menutup diri untuk mengevaluasi dan mencari tahu di mana letak kesalahannya.  Padahal takdirnya itu dituntun oleh segala daya upayanya. Kalau sudah begini,  alih-alih mengambil langkah yang tepat, dia malah mengambil langkah yang keliru. Menganti semua bahan baku dengan yang berharga mahal atau menambah takaran misalnya. Mengganti telur ayam negeri dengan telur burung unta misalnya. 

Meski sedikit menyayangkan,  dalam kasus ini saya harus angkat topi untuk langkah yang Sari ambil. Sari tidak malu mengakui kekeliruannya. Lalu segera mengoreksi kesalahannya dengan mencari referensi dan tempat bertanya yang tepat. Telur,  terigu,  mentega, gula dan teman-temannya itu tidak salah apa-apa. Di tangan orang yang tepat mereka bisa menjadi bolu karamel yang enak.

Sari menikmati seluruh proses hingga paham metode apa yang paling tepat untuk menghasilkan bolu karamel setara buatan saya. 

Jika menyimak apa yang disampaikan oleh dosen akuntansi saya sewaktu kuliah dulu, mestinya Sari tidak perlu menjumpai kegagalannya sendiri. "Kegagalan orang lain adalah guru yang paling baik," begitu katanya.  Apalagi jika kegagalan dan keberhasilan orang lain itu begitu tampak terang benderang ada di depan kita. Kenapa harus pusing-pusing bereksperimen melakukan hal-hal baru yang belum tentu berhasil baik.   

***
Sekitar tahun 2010, Prof. Yohannes Surya, Ph.D secara acak (random) mengumpulkan beberapa anak-anak yang berasal dari Papua dengan latar belakang kemampuan akademik yang memprihatinkan.  Salah satunya adalah anak kelas 2 SD yang telah 4 kali tidak naik kelas. Mereka dikumpulkan untuk digembleng dengan metode pendidikan dan cara pengajaran yang baik selama satu tahun. 

Pria kelahiran 1963 kelulusan College of William and Mary, Jurusan Fisika ini ingin membuktikan bahwa "tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang tidak mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang benar."

Enam bulan berselang atau tepatnya di tahun 2011, anak kelas 2 SD yang sudah 4 kali tinggal kelas itu menjadi juara olimpiade matematika nasional.

Berikutnya berkat tangan dinginnya tim pelajar Indonesia mengoleksi 54 medali emas,  33 perak,  dan 42 perunggu di berbagai kompetisi sains dan fisika internasioal dalam dua dekade terakhir. Pada 2013, Tim Olimpiade Fisika Indonesia yang kini dibimbing oleh para mantan juara binaan Surya berhasil mencatat sejarah dengan menyabet gelar The Absolute Winner dalam Asian Phsyics Olimpiad 2013 di Bogor, Jawa Barat (Majalah Tempo, Edisi Juni 2013).

****
Apa yang dipraktekkan Prof. Yohanes Surya,  Ph.D linier dengan pendapat John Locke seorang filsuf yang hidup di abad ke 17. John Locke dengan teorinya, tabula rasa (dalam bahasa Latin yang berarti kertas kosong)  memberi pandangan bahwa seorang anak terlahir seperti kertas kosong, pengalaman dan persepsi alat indranya  terhadap dunia  di luar dirinya (lingkungannya). 

Sepotong karamel untukmu John Locke.

----
Belalang Sipit
30/06/2019

Pic by pixabay
Read More

Saturday, June 29, 2019

Tuti Ismail

Perlukah Anak Ikut Eskul?


Kemarin malam selepas maghrib anak saya yang nomor dua khusuk bersama gawainya. Saya colek-colek dia berteriak geming. "Ssttt jangan berisik, Ma.  Ini lagi dengerin pengumuman lomba tadi pagi," begitu katanya sambil mendekatkan telunjuk ke bibirnya. Suami saya meraih remote TV dan bergegas mengurangi volume suaranya. Kami sekeluarga mendekat dengan kuping yang terjaga ikut mendengarkan.

Alhadulillah Paskibra SMAN 103  pada lomba di SMKN 31 Jakarta se Jabodetabek (30/06/2019) mendapatkan
1. Juara Pelatih Terbaik
2. Juara UMUM 2 (Piala Bergilir Kemenpora)
3. Juara Utama 2
4. Juara 1 Pengibar Terbaik (Haikal dkk)
5. Juara 2 Komandan Terbaik (Satrio)
6. Juara 2 Formasi Terbaik

Diantar oleh kakaknya yang juga  anggota paskibra di sekolahnya,setr pukul 05.30 wib bergegas. Lomba paskibra kali ini diselenggarakan oh SMA Negeri 31 Jakarta dengan peserta SMA sejabodetabek. Sejujurnya saya pun baru tahu kalau lomba untuk paskibra.

Sewaktu saya SMA sependek yang saya ingat  tidak ada lomba beginian, paskibra saat itu sepertinya hanya baris berbaris saja di halaman sekolah. Itu lah sebabnya dahi saya mengernyit waktu si sulung di tahun keduanya di sma bilang dia tertarik mengikuti eskul paskibra di sekolahnya.

Meski tidak melarang tak ayal keluar juga pertanyaan dari saya,"tidak ada eskul lain, Kak?" Saya bertanya tentu dengan maksud barangkali dia akan memilih eskul lain, misalkan eskul basket,  futsal atau kelompok ilmiah remaja. Yang terakhir saya sebut rasanya lebih selaras untuk mendongkrak pemahamannya pada pelajaran sekolah. Atau yang pertama, tinggi badan yang lumayan rasanya cocok untuk alasan menyarangkan bola basket ke dalam ring. Baris berbaris apa manfaatnya? Memangnya kalau pintar jalan di tempat atau langkah tegap maju jalan, terus bisa meningkatkan pelajaran di sekolah? Rasanya jauh panggang dari api.

Tapi ternyata saya salah duga. Banyak nilai-nilai yang berguna untuk kehidupan di masa datang yang saya nilai justru diajarkan dari eskul yang satu ini. Karenanya ketika 2 tahun kemudian si anak tengah masuk ke sekolah yang sama dengan kakaknya dan meminta ijin mengikuti eskul yang sama saya tidak lagi bertanya mengapa. Saya yakin salah satu sebabnya karena dia melihat bagaimana kakak dan teman-temannya berkegiatan. Apalagi rumah kami yang hanya berjarak 100 m dari sekolah kerap dijadikan markas. Jangan ditanya betapa riwehnya rumah kami pada hari-hari menjelang perlombaan.

***
Suatu hari entah di tahun berapa tepatnya sepulang kerja saya membuka kulkas. Mengambil sebotol air putih dingin kesukaan. Betapa kagetnya saya kulkas sudah penuh dengan minuman teh kemasan, air mineral dan minuman isotonik. "Jangan diminum, Ma.  Itu punya tim paskibra. Kalau Mama minun mesti bayar lo," teriak anak kedua dari dalam kamar. "Iya, nggak diminum," jawab saya.  Beberapa hari lagi akan ada lomba paskibra di sekolah lain. Saya pikir minuman itu pasti untuk konsumsinya nanti.  Sampai saya terkejut dikeesokan harinya.

Suara di luar nyaring memanggil-manggil si anak tengah,"assalamulaikum. Haikal Haikal." Di Minggu pagi sekitar pukul 6 pagi. Yang dipanggil keluar dan meminta teman-temannya segera masuk. Bergegas anak-anak tanggung yang diperkenalkanya sebagai teman-teman paskibranya masuk,"permisi Tante."

"Mau berangkat lomba?" tanya saya.

"Bukan Tante.  Kami mau ke BKT (Banjir Kanal Timur) mau jualan minuman ini. Hari ini kan car free day," jawab salah satu dari mereka. Saya terkesiap.

Hah! Jualan.

Beberapa hari lalu Haikal memang meminta sejumlah uang, untuk modal katanya. Saya tidak sangka ternyata untuk modal berjualan minuman kemasan. "Untungnya nanti untuk operasional kegiatan paskib, Tante.  Biar tidak minta sama orang tua terus," begitu kata mereka. Pak Jum, pelatih paskibra di sekolah anak-anak yang mengajarkan itu. Sepintas terlihat remeh temeh, tapi sesungguhnya tidak demikian.

Sebagai orang tua haru rasanya mendengar penjelasan mereka.  Mata saya menghangat melihat mereka bersemangat memasukkan minuman dingin ke dalam beberapa kantong plastik. Menggotong beberapa dua sisanya dan mempersiapkan uang receh untuk kembalian. Jauh di lubuk hati saya ingin bilang,"kenapa tidak minta sama mama saja, Dek. Setidaknya sedikit pasti mama beri." Tapi saya urung lakukan itu.

Siapa pun pasti sepakat hanya orang bermental kuat dan gigih yang sanggup berdagang atau berjualan. Makanya tidak heran banyak teman saya yang berujar,"ah saya tidak sanggup deh kalau disuruh jualan. Beli saja. Saya takut ditolak!" Kejujuran juga dituntut ada dalam diri mereka yang berniat berniaga.

Belum cukup sampai di sana. Beberapa bulan lalu sekolah mengadakan lomba paskibra.  Bisa ditebak anak-anak yang sama didapuk sebagai panitia. Menyusun proposal. Mencari sponsor. Mengundang sekolah-sekolah sebagai peserta. Membuat disign kaos dan seabrek kegiatan pengaturan jelang perhelatan. Haikal didapuk sebagai ketua pencari dana.  Tidak terbilang berapa kali dia dan teman-temannya mendapat penolakan.  Ada kecewa dari ceritanya. Ada juga rasa senang di sana.

Lagi-lagi sebagai orang tuanya saya merasa tidak tega,"Mama kok nggak diminta jadi sponsor ya,  Kak?" tanya saya pada si sulung.

"Sabar, Ma. Nanti kalau sudah mentok pasti larinya ke orang tua. Sekarang ini biar dia berusaha," begitu kata si sulung.

Ya biar sedikit sebagai orang tua untuk keperluan anak pasti akan upayakan, bukan?  Sikap saya bukan sesuatu yang istimewa. Yang istimewa justru jawaban si sulung. Benar juga apa katanya, sebagai orang tua saya harus memberi ruang pada anak untuk mandiri dan bertanggung jawab. Sikap saya yang demikian itu menurutnya bentuk dukungan juga. Karena ketika pada akhirnya mereka berhasil saya adalah orang pertama yang tersenyum,"alhamdulillah dana sudah terkumpul. Banyak yang ingin jadi sponsor. Acara juga sukses."

Merinding rasanya mendapati bagaimana pelatih paskib yang juga guru di sekolah anak saya itu,  Pak Jum, memberi bekal softskill pada anak didiknya. Kemampuan yang diyakini mempunyai peran besar pada keberhasilan seseorang di masa datang.

Thomas J. Stanley, Ph. d,  penulis buku Millionaire Mind pernah melakukan survei yang memetakan 100 faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang berdasarkan survey terhadap 733 millioner di US. Menurut riset Stanley berikut ini adalah 10 faktor teratas yang akan mempengaruhi kesuksesan:

1. Kejujuran (Being honest with all people)
2. Disiplin keras (Being well-disciplined)
3. Mudah bergaul atau friendly (Getting along with people)
4. Dukungan pendamping (Having a supportive spouse)
5. Kerja keras (Working harder than most people)
6. Kecintaan pada yang dikerjakan (Loving career/business)
7. Kepemimpinan (Having strong leadership qualities)
8. Kepribadian kompetitif atau mampu berkompetisi (Having a very competitive spirit/personality)
9. Hidup teratur (Being very well-organized)
10. Kemampuan menjual ide atau kreatif / inovatif (Having an ability to sell my ideas/products)

Pak Jum,  pasti Bapak sekali dua kali pernah membaca soal survey Stanley di atas. Tanpa mengecilkakan peran guru-guru lain,  terima kasih untuk pengajarannya, rasanya sebagai orang tua pun tidak  terpikir oleh saya untuk melakukannya.

****
Jadi, perlukan anak ikut eskul. Saya sebagai orang tua anak tiga yang saat ini sedang ABG-ABG-nya dengan mantap akan bilang, "PERLU! " Pengajarannya mungkin akan berbeda,  tetapi baik juga memberi warna lain di hidup anak kita. Jika fisika,  ekonomi, kimia berwarna merah, kuning dan hijau.  Eskul berberi warna biru di cakrawala kehidupan mereka.

---
Belalang Sipit
30/06/2019
Read More

Friday, May 31, 2019

Tuti Ismail

Balas Dendam


Sepulang dari kantor sore ini di atas meja makan ada satu toples besar rempeyek. "Bude yang beli?" tanya saya.  "Enggak. Itu dari Ibu Ningrum. Sekarang kan hari Jumat," jawab Bude.
Ibu Ningrum adalah tetangga kami. Tempat tinggalnya berselang beberapa rumah dari tempat kami tinggal. Saya bertemu Ibu Ningrum bisa dibilang sangat jarang, kebetulan  kami berdua sama-sama bekerja. Apalagi saya biasanya berangkat ke kantor saat matahari masih terlelap dan pulang saat matahari beranjak ke peraduan. Paling banter satu bulan sekali kami jumpa saat arisan RT. Selebihnya bisa dihitung dengan jari berapa kami jumpa.

Tiap Jumat selama bulan Ramadan Bu Ningrum mengantar takjil untuk para tetangga. Dua minggu lalu saya dapat setangkup surabi lengkap dengan kuah kinca. Hari ini tidak tanggung-tanggung setoples besar rempeyek dihantarkan untuk para tetangga.

"Enak nih," anak tengah mengambil satu rempeyek.  Giginya yang masih lengkap dan kuat tanpa jeda melumat habis rempeyek kacang. Kriuk kriuk. "Mama yang beli?" tanyanya lagi. "Bukan.  Dikasih Bu Ningrum," saya mengulang jawaban Bude. "Dalam rangka apa? Ulang tahun? Kok banyak betul? " tanyanya lagi.  "Nggak dalam rangka apa-apa. Mau ngasih aja buat tetangga," jawab saya sok tahu. "Waduh gimana kita balas dendamnya nih sama Bu Ningrum.  Balas Ma. Balas!" goda anak saya. Saya hanya tersenyum. Dalam hati bergumam juga, 'awas ya Bu Ningrum nanti saya balas!'

Begitu lah kita, terkadang suka tidak percaya jika ada orang berbuat baik. Padahal sama sekali tidak ada yang melarang kita berbuat baik tanpa ada alasan yang melatarbelanginya. Mau berbuat baik ya karena ingin saja, tidak perduli misalkan lingkungan di sekitar kita ramai-ramai mempertontonkan perbuatan buruk.Terlebih jika perbuatan baik kita itu adalah sebuah kewajiban. Semisal saya yang tetap patuh membayar pajak motor nouvo tua kami, sementara tetangga kampung sebelah  asyik-asyik saja mengendarai motor bodongnya keliling kampung.

Dua tahun ini saya masuk dalam sebuah grup whatsapp alumni sebuah kegiatan. Kami yang tidak saling kenal sebelumnya bergabung di sana. Saya menyadari sepenuhnya bahwa sangat riskan berinteraksi lewat media sosial (close group) jika tidak cukup dekat secara personal. Sangat riskan menimbulkan salah pengertian para anggotanya. Apalagi jika masing-masing tidak saling tahu latar belakang. Terlebih belakangan ada moment pilpres dan pileg. Saling umbar preferensi politik jadi hal biasa tidak perduli anggota lain sepaham atau justru jengah membacanya. Tidak perduli anggota lain jengah atau tidak.  Karenanya menjadi anggota pasif adalah keputusan terbaik. Sesekali saja "jempol" saya hadir, itu pun jika ada postingan yang baik.

Diam-diam saya memperhatikan ada satu anggota grup kami yang mirip seperti Ibu Ningrum tetangga saya itu.  Saban ba'da subuh tanpa pernah absen sekali pun dia memposting kalimat motivasi  yang dikutip dari kitab suci atau hadits atau quote orang-orang shaleh. Bayangkan tanpa absen sekali pun. Dan yang paling mengagumkan hanya itulah postingan dia saban hari,  tidak ada yang lain. Ia bergeming.

MOTIVASI PAGI
Bismillaah

"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.
Dan jika kamu berbuat jahat,  maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri...."

(QS Al-Israa' ayat 7)

Ibu Ningrum dan kawan saya itu setali tiga uang. Kongruen.  Sama dan sebangun. Akhlaknya bagai pinang di belah dua. Baginya,  dan harusnya begitulah  kita semua utamanya saya bersikap.  Jika mau berbuat baik ya berbuat baik saja, perduli orang lain melakukan apa.

---
Belalang Sipit
31/05/2019
Read More

Saturday, May 18, 2019

Tuti Ismail

Cerpen : Question of Life

Pic by pixabay

Marlin memejamkan matanya. Lama dia berpikir apa jawaban apa yang harus diberikan pada putri semata wayangnya. Tangan mungil Lintang mengguncang bahunya,"Bunda apa jawabnya?" Marlin terkesiap. Matanya terbuka perlahan. Dahinya mengerut. Dipandanginya wajah Lintang yang bulat menggemaskan itu. Ah mengapa begitu sulit berucap. Seperti lilin yang terbakar,  tidak terasa air matanya meleleh. "Bunda lapar? Bunda mau berbuka puasa duluan?" suara anaknya mencoba menenangkan.  Marlin tersenyum. Dicubitnya pipi kanan Lintang "Bunda ndak lapar kok,  Dek. Eh itu sudah terdengar adzan Magrib. Ayo, kita berbuka," jawabnya.

******** 

Masih seperti sore-sore yang lalu, Marlin dan Lintang anak semata wayangnya duduk berdua di teras rumahnya yang luas. Keduanya dengan sabar menunggu maghrib datang. "Sekarang kita main apa, Bun?" Tanya Lintang sambil mengibaskan rambut panjangnya yang basah. Lintang baru saja selesai mandi sore. Wangi shampo bayi menyeruak.  Biar usianya sudah menginjak 8 tahun, Marlin enggan berbagi shampo dan sabun dengan Lintang.  Baginya Lintang tetaplah bayi kecilnya yang lucu, dab akan tetap begitu selamanya. 

"Bagaimana kalau kita main congklak? " pinta Lintang. "Kan kemarin sudah," jawab Marlin. "Kalau bekel gimana, Bun?" pinta Lintang lagi.  Marlin menggelengkan kepalanya. Dia pandangi gadis kecilnya itu. Lintang berpikir keras. Kedua tangannya memegangi kepalanya seakan ingin memerasnya. Mungkin dia pikir kepalanya itu macam kelapa,  yang bila diperas keluar santannya.  Marlin tertawa. "Bunda,  bagaimana kalau kita sore ini meniru-niru om Deddy Corbuzier," Lintang bersemangat. Yang dimaksud Lintang adalah permainan question of life yang biasa di mainkan Deddy Corbuzier di Hitam Putih. Salah seorang bertanya dengan memberi dua pilihan jawaban dan yang ditanya harus menjawabnya dengan cepat. Marlin menganggukkan kepalanya. Sepertinya seru juga. Ia mengiyakan keinginan anaknya. Jelang maghrib yang menyiksa kiranya bakal  sedikit terlupakan. 

Lintang berlari masuk ke dalam rumah, diambilnya mangkuk dan bedak tabur miliknya serta jam tangan miliknya. "Tapi Bunda harus cepat jawabnya. Waktunya paling lama 5 detik. Kalau telat nanti aku coret wajahnya pakai bedak," Lintang mulai memberi aturan permainan. "Ok. Bunda ndak takut. Siap-siap ya nanti banyak coretan di wajah Lintang," jawab Marlin. Lintang menjulurkan lidahnya tanda menerima tantangan dari bundanya. 

"Sayur atau buah?" Tanya Marlin memulai permainan. "Sayur," jawab Lintang. Lintang, kamu mirip ayahmu batin Marlin. Mas Yudi, ayah Lintang tidak suka semua jenis buah kecuali kurma. Sebetulnya ia suka kurma baru saja, karena baru tahu buah yang satu itu adalah kesukaan Rasulullah. 

"Tikus atau kecoak? "Ganti Lintang bertanya. Tangannya mulai dimasukkan ke dalam mangkuk berisi bedak. Matanya menatap jam tangan digitalnya. Pas detik ke lima Marlin menjawab,"Kecoak." Lintang kecewa,"Yah Bunda.  Padahal dikit lagi aku bisa coret pipi Bunda pakai bedak." Marlin tergelak. Dalam hati Marlin berjanji semudah apapun pertanyaan Lintang berikutnya ia akan pura-pura sulit menjawab. Biar ia senang. 

Di sela tawanya ujung mata Marlin tak kunjung lepas dari jalan di depan rumahnya. Lehernya serasa sepuluh  sentimeter lebih panjang dari biasanya. Sudah memasuki Ramadan hari ke delapan belas belum pernah sekalipun Mas Yudi berbuka puasa bersama mereka. Jangankan berbuka puasa di mall macam tetangga sebelah, di rumah pun tidak. Segelas air kurma hangat tidak hanya kedinginan, bahkan menjadi berfermentasi karena menunggunya pulang. Saban sahur Marlin mesti membuangnya. Sia-sia penantian si kurma. Kasihan.  "Bunda, Bunda nengok-nengok terus. Bunda nunggu Ayah? Bunda rindu Ayah ya?" Tanya Lintang. "Ah enggak. Bunda lagi mikir mau tanya apa lagi sama Lintang. Anak Bunda pinter,  semua bisa cepat dijawab," Marlin mengalihkan pembicaraan. Lintang jangan sampai tahu.  Tapi sepertinya dia tahu.  Biar bagaimanapun Lintang adalah belahan jiwa mereka, sedikit banyak mungkin dia rasakan juga apa yang tengah terjadi antara kedua orang tuanya. 

"Bantal atau guling?" Tanya Marlin memulai permainan. "Guling," jawab Lintang lantang. Hanya perlu satu detik bagi Lintang untuk menjawab.  Sejak kecil Lintang memang hanya akrab dengan guling.  Marlin tidak membiasakan putrinya itu tidur dengan menggunakan bantal. Ia dan Mas Yudi sempat berselisih paham karenanya.

Suatu hari ketika Lintang baru berusia sebulan Mas Yudi, ayahnya Lintang mengangkat anaknya yang sedang tertidur pulas. Diletakkannya sebuah bantal bayi sebagai alas tidur di kepala anaknya. "Mas, Lintang jangan dikasih bantal!" Jerit Marlin. "Biar, aku kasihan lihatnya. Kamu takut kepala anak kita jadi peang, ya? Takut nanti susah pakai konde? "Mas Yudi bersikeras. Kali ini dia malah menggoda Marlin. Santer beredar kabar di kalangan orang tua bahwa kepala bayi yang baru lahir itu masih lunak jadi mudah terbentuk jika salah posisi tidur. Penggunaan bantal yang keliru ditengarai jadi salah satu sebab kelapa bayi tidak simetris alias peang. Kabar buruk jika harus kondean. Masa iya pakai konde miring? "Jangan, Mas. Bahaya," buru-buru Marlin mengambil kembali bantal dari bawah kepala Lintang. Si jabang bayi menangis karena kaget, lalu disusul Marlin. Mas Yudi kaget. Dipeluknya istrinya itu seraya membisikkan maaf. 

Mas Yudi sungguh tidak tahu jika, Rin anak kakaknya Marlin yang juga keponakannya dulu meninggal dunia karena SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) alias sindrom kematian mendadak bayi. Saat itu entah bagaimana bantal yang dipakainya tidur berbalik menutupi wajah Rin yang mungil. Rin yang masih berusia sebulan tak berdaya, sulit bernafas dan akhirnya pergi untuk selamanya. Marlin menarik nafas panjang merindukan masa itu. Meski bertengkar, setidaknya antara dirinya dan Mas Yudi masih saling sapa. Masih ada bahan untuk menjadi topik pertengkaran. Lalu saling merayu,  berbaikan, bertengkar dan berbaikan kembali. Marlin tidak tahu kapan ritme itu berubah menjadi bertengkar lalu saling diam. Diam dan diam. Basah kuyup Marlin, menggigil ia dalam derasnya hujan kesunyian. "Kau yang berpaling dariku dan Lintang, Mas. Harusnya aku yang menghardikmu. Menyeretmu keluar dari hidup kami,  tapi mengapa justru aku dan Lintang yang kau hukum," ingin Marlin meneriakkan kata-kata itu di telinga Mas Yudi, kalau perlu hingga gendang telinganya pecah.  Namun ia tak kuasa. Ia begitu mencintai Mas Yudi. Marlin kebingungan mencari persinggahan untuk dijadikannya tempat berteduh. Kepada siapa resah ini akan dibagi.

"Bunda," panggil Lintang.  Tangan mungilnya menepuk-nepuk bahu Marlin. Marlin terjaga dari lamunnya,"iya,  Bunda dengar.  Sekarang giliran Lintang bertanya." "Bunda siap?" tanya Lintang . "Ok," jawab Marlin sambil membetulkan letak duduknya. Kedua kakinya ditekuk macam orang sedang duduk di antara dua sujud. Tangannya diletakkan di kedua pahanya. Ia tersenyum. Putrinya tidak berkedip mengamatinya. "Bunda cantik, tapi sekeliling mata Bunda sekarang kok hitam? Bunda warnai?" Lintang bertanya sambil memeluk Marlin. "Eh kok pertanyaan begitu. Mana pilihannya? Question of life loh ini,  Dek" Jawab Marlin.  "O iya sampai lupa," Lintang menjawab.  "Siapa yang paling  Bunda diinginkan sekarang.  Ayah atau sahabat Bunda?" Tanya Lintang. "Sahabat?  Siapa sahabatku," batin Marlin. Marlin gelaapan. Setelah menikah, di dunia Marlin hanya ada Mas Yudi dan Lintang. Marlin merasa tidak butuh siapa pun di dunia ini.  Hanya Mas Yudi yang pantas ada di sampingnya.  Cukup baginya Mas Yudi. Pria  yang ia gila-gilai sejak pertama kali bertemu. Pun sebaliknya.  Persetan dengan yang lainnya. 

Marlin memejamkan mata. Ingin rasanya berteriak. Ada batu besar yang menghimpit dadanya. Marlin mengaduk-aduk ingatannya. Ia mencari-cari di mana ia dulu pernah meletakkan Rachma, Tari,  Zulfa, Purwa, dan Tami dalam memorinya. Air mata Marlin meleleh mengingat betapa ia telah begitu angkuhnya melupakan mereka, sahabatnya dahulu. Puluhan kali ia mengelak dari rencana perjumpaan. Ada saja alasan yang dibuatnya. Kini, teringat olehnya betapa dulu mereka saling berbagi kisah. Bergembira dan menangis bersama. Tetes air mata Marlin semakin deras,  pikirannya kacau oleh rasa malu. Marlin tahu ia keliru. Dalam hidup mestinya ia hanya perlu memcintai dan membenci secukupnya.

Andai tak ada persoalan antara ia dan Mas Yudi ia ragu, masih pantaskah merengek meski dalam hati, "Tuhan, kembalikan mereka padaku dan kembalikan aku pada mereka."

******
Kedua tangan Lintang sudah mendarat di pipi Marlin ketika ia membuka matanya. Butiran bedak menyelinap ke dalam hidungnya,  hingga membuatnya terbatuk. "Bunda terlalu lama menjawab. Bunda kalah," Lintang bersorak, tak diperdulikannya jawaban bundanya. Padahal lirih tadi Marlin menjawab, "sahabat." Dipeluknya Lintang. Berterima kasih ia pada putrinya itu,"besok Bunda ajak Lintang ke rumah Tante Rachma, mau?" "Tante Rachma  siapa?  Sahabat Bunda?" Tanya Lintang. "Iya, " jawab Marlin. "Sahabat Bunda cuma satu? " tanya Lintang.  Marlin menyebut nama Tari,  Purwa,  Tami,  dan Zulfa. "Hore Bunda punya sahabat banyak," sorak Lintang. Puluhan pertanyaan Lintang tante-tantenya itu meluncur deras. Marlin kewalahan. Wajah Marlin  yang sedari tadi pucat kini memerah. Asanya bangkit. Kiranya masih ada tempat untuk sekedar singgah menyandarkan kepala yang nyaris lenyap karena putus asa, pada bahu-bahu kokoh yang bernama sahabat. 

====
Belalang Sipit
18/05/2019

Read More