Sunday, August 5, 2018

Tuti Ismail

Lelaki yang Aku Pinjam Bahunya



"Mas, boleh pinjam bahunya ?" kataku dengan suara datar. Lelaki di sampingku menoleh. Kaget. Wajahnya pucat seketika. "Untuk apa ?" tanyanya. Aku tak sanggup lagi berkata-kata. Samar-samar dia mengangguk walau cuma sedikit. Apalagi yang bisa dia lakukan kecuali setuju, kepalaku sudah bersandar di ujung bahunya.

"Pusing," kataku lirih. Butiran keringat dingin memenuhi dahi. Lelaki di sampingku membeku. Dia pasti kebingungan. Apa sih ini ?

Dengan mata terpejam aku mengatur nafas. Tarik dalam-dalam. Tahan. Buang. Begitu terus aku ulangi sampai berkali-kali. Kalau aku pikir-pikir aku saat itu keadaanku mirip ibu hamil di ruang persalinan. Bedanya yang di sampingku sekarang bukan dokter apalagi bidan. Dia cuma lelaki yang duduk di pinggir jendela dengan novel Saman di tangannya. Aku sama sekali tidak perduli padanya, apakah wajahnya masih pucat atau sudah berubah jadi ungu seperti ubi. Aku pejamkan mata menahan rasa mual.

Aku terjaga oleh teriakan kernet,"Yani ... Yani !" Bis hampir melewati jalan Ahmad Yani.

Aku langsung bengkit menerobos penumpang yang berdiri berhimpitan,"aduh kebablasan. Kiri kiri Bang !"

"Ah Kakak ini lagi. Kenapa tidak dari tadinya. Kiri Pir, ibu hamil nih !" Kernet berteriak memberi aba-aba ke pak supir, matanya melotot ke arahku.

"Maaf Bang" cuma itu kata-kata yang keluar dari mulutku.

Aku membalikkan badan, ada yang menyolek bahuku dari belakang," kenapa ?" Rupanya dia lelaki yang tadi duduk di pinggir jendela. Dia ikut turun.

"Kebablasan."
"Harusnya turun di mana ?"
"Matraman."
"Naik bis lagi dari seberang."
"Iya."

Aku menyeberang jalan Ahmad Yani. Menunggu bisa yang sama lalu naik lagi, lelaki itu juga naik. Bis kali ini kosong. Aku memilih duduk di baris kedua, kali ini dekat jendela. Aku buka jendela lebar-lebar. Angin menerpa wajah dan rambutku. Segar rasanya. Aku hirup sepuas-puasnya. Lelaki tadi duduk di sebelahku.

"Naik juga ?" tanyaku.

Dia menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan sambil menyodorkan bahu kanannya,"mau pinjam lagi ? Boleh."

Aku tatap wajahnya dengan penuh, dia tidak setegang tadi. Aku cuma nyengir. Dengan angin yang banyak dari luar jendela keadaanku jauh lebih baik. Aku memejamkan mata dan bersandar pada dinding bis.  "Boleh kok," dia mengulangi penawarannya lagi. Lirih. Kalau kamu ada di sana waktu itu kamu pasti akan berpikir dia berbicara pada dirinya sendiri karena aku diam saja.

Arah menuju jalan Matraman Raya  lengang. Aku membuka mata dan permisi untuk segera turun, kernet sudah memberi tahu pemberhentian selanjutnya. Aku turun di depan Mata Foto di Matraman Raya. Aku turun. Lelaki tadi juga turun. Aku menyeberang jalan dia juga menyeberang jalan.

"Sebenarnya mau kemana ?"
"Pramuka."
"Loh kenapa nggak turun tadi."
"Kebablasan."

Aku tahu dia berbohong. Aslinya mungkin sengaja kebablasan karena khawatir pada keadaanku. Tadi keadaanku memang kacau sekali.

"Kenapa di bis ?"
"Pusing, mual, mau muntah."
"Nggak mau."
"Apa ?"
"Muntah. Barusan nawarin. Buat Ibu saja."
Dih kok manggilnya ibu. Biar heran aku tertawa juga, habis nggak kira-kira masa nawarin muntahan. Dia senyum kecil.

"Tadi bikin takut. Kaya mau pingsan."
"Iya."
"Mau diantar ke dokter kandungan ?"
"Nggak. Makasih. Eh, kok dokter kandungan ?"
"Tadi kata kernet Ibu lagi hamil."
"Ngarang. Belum juga punya pacar."
Ih kenapa aku jawab begitu, kan dia nggak nanya aku sudah punya pacar atau belum. Sebel, aku lihat dia tertawa.
"Sekarang sudah baikan ?"
Aku tidak menjawab. Malu-malu aku berikan anggukan.

Itulah awal mula perkenalanku dengan Don. Lelaki yang pernah aku pinjam bahunya. Lelaki yang ternyata teman satu angkatanku di kampus. Di kemudian hari aku memanggilnya dengan panggilan Dondong. Kelak akan banyak catatan kecil tentangnya di tiang listrik depan kos-kosan, sobekan-sobekan sruck belanjaan, sampai di sudut-sudut tembok kamarku. Kamu, jangan bosan.  (Dari buku "Jalan Pulang" yang nggak kelar-kelar ditulis 🙈 😊)

Pontianak
Belalang sipit
06082018

Tuti Ismail

About Tuti Ismail -

tax officer, a mother