Sunday, June 30, 2019

Tuti Ismail

Sepotong Bolu Karamel Untuk John Locke


Ketika berusia 14 tahun atau duduk di kelas dua SMP, saya sudah mahir membuat bolu karamel.  Sebagian orang mengenalnya dengan sebutan bolu atau kue sarang semut. Itu karena ketika dipotong bagian dalam bolu berongga menyerupai sarang semut. Tetangga saya yang bernama Teteh Atik yang mengajarkan.  Seketika bolu karamel menjadi hantaran andalan keluarga kami untuk para tetangga atau saudara. 

Karena kerap sebagai hantaran,  tetangga penasaran.  Teman-teman ibu saya lantas sering datang ke rumah minta diajarkan. Saat itu di akhir tahun 90-an kebanyakan ibu-ibu membuat sendiri kue atau bolu baik untuk di makan sendiri oleh keluarganya atau untuk diberikan kepada orang lain. 

Saking mahirnya membuat bolu karamel, dengan memanfaatkan "keluguan" saya seorang tetangga yang mempunyai usaha catering bahkan suka meminta tolong dibuatkan. Bukan hanya mahir, saya juga bisa dibilang cekatan. Ketika satu kompor memanggang adonan, di kompor yang satu saya sibuk meracik adonan.  Ketika bolu matang, adonan berikutnya siap untuk dipanggang. 

Kemahiran saya itu pada akhirnya juga diketahui sahabat saya, Sari. Suatu ketika dia meminta resep bolu karamel dan cara membuatnya.  Meski tidak terlalu serius beberapa kali pernah juga dia melihat saya membuatnya. Berbekal resep dan coretan-coretan cara membuatnya dia bergegas ke rumah, ingin praktek langsung katanya.  Saat itu saya tawarkan untuk menuntunnya langkah demi langkah,  tapi dia menolak. 

*****
Bolu karamel terbuat dari gula pasir, telur, air,  susu kental manis,  tepung terigu,  mentega, soda kue dan backing powder.  Seluruh bahannya mudah didapat di pasar.  Cara membuatnya pun mudah dalam artian tidak perlu mixer kue (alat pengocok adonan). Pun begitu, tetap ada teknik khusus yang mesti diketahui jika ingin sukses dan aman membuatnya. 

***
Keesokan harinya ketika jumpa dengan Sari saya tanya soal bolu karamel, "gimana,  Ai karamelnya?" Maksud saya adalah apakah dia sukses membuatnya. Sari tertawa. Diperlihatkannya juga tangannya yang kemerahan seperti habis terkena uap panas. Lalu berceritalah dia kalau bolunya bantat alias tidak memgembang seperti bolu buatan saya. Ketika dipotong tidak tampak rongga mirip sarang semut. Katanya, bolu buatannya itu lebih mirip disebut dodol. Bagian dasar bolu juga gosong, sementara bagian atasnya masih sedikit basah. Lebih parahnya lagi ketika sudah matang bolu tidak bisa dilepas dari baking pan (panggangan bolu). Ia harus memaksanya keluar dengan menggunakan sendok, akibatnya bolu yang seperti dodol itu bentuknya jadi tidak karuan. Somplak sana sini terkena sendok.  

"Apa bahannya yang mesti diganti dengan yang kualitas super, ya?" tanyanya. Sekarang balik saya yang tertawa karena bukan itu sebab kegagalannya. Sari lupa mengoles baking pan dengan margarin dan menaburinya dengan terigu sebelum adonan dituang. Sari juga salah membubuhkan soda kue, yang seharusnya satu sendok teh dia beri seujung sendok teh. Soal bolu yang gosong,  itu karena dia memanggangnya dengan api yang terlampau besar. 

****
Biasanya, untuk membuat bolu karamel saya menggunakan margarin merek blueband. Itu hanya kebiasaan saja. Pernah suatu ketika saya menggantinya dengan margarin merek lain. Agar biaya lebih murah, bahkan pernah juga menggantinya dengan minyak goreng curah. Semua tidak masalah karena toh margarin yang dipakai saya masukkan ke dalam adonan karamel (gula dan air)  yang masih panas, hingga pada akhirnya akan mencair juga. Agar lebih wangi dan lembut, saya pernah juga pernah mengganti satu sendok margarin dengan butter. Hasilnya tetap sama, bolu buatan saya tetap mengembang, mentul- mentul dan berongga mirip sarang semut.  

Di satu waktu saya menggunakan susu kental manis merek bendera. Dii waktu berbeda saya menggantinya dengan yang  merek yang lain yang harganya lebih murah. Sama,  tidak juga jadi masalah.  

Tepung terigu yang saya pakai berganti-ganti merek. Jika membeli di warung dekat rumah,  saya bahkan tidak tahu mereknya apa.  Maklum terigu di warung dekat rumah dikemas dalam plastik bening dengan satuan seperempat, setengah  atau satu kilogram. Sama, bolu karamel buatan saya tetap mentul-mentul.  

Soda kue dan baking powder yang biasa saya gunakan merek koepoe-koepoe. Bukannya fanatik,  di pasar atau warung dekat rumah hanya merek itu yang tersedia.  

Untuk telur,  saya menggunakan telur ayam negeri. Tidak hitung jumlahnya, saya hitung beratnya. Setengah kilogram. Jadi bisa 8 butir atau 9 butir jika telurnya kecil-kecil. 

Ketika memanggang saya memperhatikan betul besar api. Api cukup sedang saja agar kue matang merata. Pada awal praktek membakar, saya juga langsung gas pol dengan api besar.  Ibu saya berseloroh, "mau kemana sih buru-buru amat!" Ya. Memasak itu harus sabar dan pakai hati. Harus mau menikmati prosesnya.

Meski sering bereksperimen dengan mensubtitusi bahan dengan bahan sejenis yang lebih murah atau mahal, hasilnya tetap sama. Sama dalam arti bolu karamel saya mengembang sempurna dengan rasa karamel,  berongga mirip sarang semut dan tidak pahit ketika menggigit dasarnya. 

Tangan saya juga tidak pernah memerah seperti habis terkena uap panas. Dari serangkaian proses membuat bolu karamel ada satu langkah yang berbahaya, yaitu saat membuat karamelnya. Pada saat gula pasir di jerang di atas panci gunakan api sedang. Aduk perlahan. Ketika  gula sudah menjadi kecoklatan (karamel) masukkan air secara perlahan.  Gunakan gayung atau alat untuk menuang air bergagang panjang. Jika semua air sudah dituang, aduk karamel yang membeku dengan pengaduk bergagang panjang. Bercampurnya karamel dan air menimbulkan uap panas. Ini yang berbahaya. Makanya tangan atau anggota tubuh lain sedapat mungkin tidak berada di dekat mulut panci. Teknik ini yang Sari tidak tahu. 

Saya katakan pada Sari bahwa problemnya bukan pada bahan baku yang dia pakai, tetapi pada proses dan teknik yang dia abaikan. Kita bisa saja mengganti bahan baku dengan harga yang lebih mahal atau lebih murah (harga sering kali diselaraskan dengan kualitas. Jadi bisa juga dibaca menggantinya dengan bahan baku yang kualitas tinggi atau rendah). Perbedaan rasa pasti ada dan itu wajar-wajar saja, tetapi produk yang dihasilkan tetap disebut bolu karamel atau bolu sarang semut.  

"O jadi salah ya cara bikinnya.  Haha. Besok ajari ya," begitu gelaknya.

Pada hari berikutnya saya mendampinginya membuat bolu karamel.  Mengajarinya langkah demi langkah hingga akhirnya dia berhasil.

Sari telah mengambil langkah pertama yang tepat, yang mungkin tidak dilakukan oleh banyak orang. Bisa saja dia ngotot berdalih bahwa bolu buatannya juga disebut bolu karamel. Tapi itu urung dia lakukan. Sari tahu untuk melakukan evaluasi dia harus berangkat dari pemahaman dan tolak ukur yang sama, bahwa bolu karamel adalah bolu berwarna coklat dengan rasa karamel dan ketika dipotong akan tampak rongga-rongga mirip sarang semut.  

Bisa saja ia putus asa, lantas memutuskan membeli saja bolu karamel buatan saya, menaruhnya dalam kardus berlabel "Sari Bakery" lalu mengaku-aku kepada orang banyak bahwa itu bolu buatannya. 

Bisa juga Sari buru-buru berlindung bahwa kegagalannya itu sudah jadi garis tangannya.  Takdirnya. Akan lebih parah lagi jika  sikapnya itu pada akhirnya membuat Sari menutup diri untuk mengevaluasi dan mencari tahu di mana letak kesalahannya.  Padahal takdirnya itu dituntun oleh segala daya upayanya. Kalau sudah begini,  alih-alih mengambil langkah yang tepat, dia malah mengambil langkah yang keliru. Menganti semua bahan baku dengan yang berharga mahal atau menambah takaran misalnya. Mengganti telur ayam negeri dengan telur burung unta misalnya. 

Meski sedikit menyayangkan,  dalam kasus ini saya harus angkat topi untuk langkah yang Sari ambil. Sari tidak malu mengakui kekeliruannya. Lalu segera mengoreksi kesalahannya dengan mencari referensi dan tempat bertanya yang tepat. Telur,  terigu,  mentega, gula dan teman-temannya itu tidak salah apa-apa. Di tangan orang yang tepat mereka bisa menjadi bolu karamel yang enak.

Sari menikmati seluruh proses hingga paham metode apa yang paling tepat untuk menghasilkan bolu karamel setara buatan saya. 

Jika menyimak apa yang disampaikan oleh dosen akuntansi saya sewaktu kuliah dulu, mestinya Sari tidak perlu menjumpai kegagalannya sendiri. "Kegagalan orang lain adalah guru yang paling baik," begitu katanya.  Apalagi jika kegagalan dan keberhasilan orang lain itu begitu tampak terang benderang ada di depan kita. Kenapa harus pusing-pusing bereksperimen melakukan hal-hal baru yang belum tentu berhasil baik.   

***
Sekitar tahun 2010, Prof. Yohannes Surya, Ph.D secara acak (random) mengumpulkan beberapa anak-anak yang berasal dari Papua dengan latar belakang kemampuan akademik yang memprihatinkan.  Salah satunya adalah anak kelas 2 SD yang telah 4 kali tidak naik kelas. Mereka dikumpulkan untuk digembleng dengan metode pendidikan dan cara pengajaran yang baik selama satu tahun. 

Pria kelahiran 1963 kelulusan College of William and Mary, Jurusan Fisika ini ingin membuktikan bahwa "tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang tidak mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang benar."

Enam bulan berselang atau tepatnya di tahun 2011, anak kelas 2 SD yang sudah 4 kali tinggal kelas itu menjadi juara olimpiade matematika nasional.

Berikutnya berkat tangan dinginnya tim pelajar Indonesia mengoleksi 54 medali emas,  33 perak,  dan 42 perunggu di berbagai kompetisi sains dan fisika internasioal dalam dua dekade terakhir. Pada 2013, Tim Olimpiade Fisika Indonesia yang kini dibimbing oleh para mantan juara binaan Surya berhasil mencatat sejarah dengan menyabet gelar The Absolute Winner dalam Asian Phsyics Olimpiad 2013 di Bogor, Jawa Barat (Majalah Tempo, Edisi Juni 2013).

****
Apa yang dipraktekkan Prof. Yohanes Surya,  Ph.D linier dengan pendapat John Locke seorang filsuf yang hidup di abad ke 17. John Locke dengan teorinya, tabula rasa (dalam bahasa Latin yang berarti kertas kosong)  memberi pandangan bahwa seorang anak terlahir seperti kertas kosong, pengalaman dan persepsi alat indranya  terhadap dunia  di luar dirinya (lingkungannya). 

Sepotong karamel untukmu John Locke.

----
Belalang Sipit
30/06/2019

Pic by pixabay

Tuti Ismail

About Tuti Ismail -

tax officer, a mother

2 comments

Write comments
June 30, 2019 at 7:53 AM delete

Seandainya photonya diganti photo bolu karamel itu...

Reply
avatar
June 30, 2019 at 8:11 AM delete

Malah jadi laper nggak sih hehe

Reply
avatar