Sunday, May 5, 2019

Tuti Ismail

Marhaban Ya Ramadan


"Bang, martabaknya dua ya. Coklat kacang," kata saya. "Iya, tapi sabar ya setelah ibu ini," jawab si abang martabak. Ibu yang dimaksud berdiri di samping saya, berbaju hijau dengan rambut di sasak. Dia tersenyum, saya balas dengan senyum yang sama lebarnya.

"Sebelum saya, ada ibu bertiga itu dulu. Mbak yang sabar ya," katanya. Ibu bertiga di samping kiri abang martabak mengangguk. Kalau anggukan ketiga ibu tadi dihitung berarti sudah lima orang yang mengingatkan saya untuk bersabar. Saya mengiyakan lagi. Dalam hati sesungguhnya saya bertanya-tanya kenapa banyak betul yang ingatkan saya supaya sabar? Belum sempat temukan jawaban, abang martabak tetiba bersuara,"Ibu ini pesan 21 loyang." Kalau tidak buru-buru saya larang,  bola mata saya mungkin sudah loncat masuk ke dalam loyang martabak. Kaget ih!

Martabak di sini sebetulnya biasa saja, seperti martabak lainnya.  Pilihan rasanya juga standar, cuma ada empat macam coklat,  kacang, keju dan ketan hitam. Namun,  dari banyaknya pembeli bisa dibilang jadi salah satu makanan favorit di sini. Martabak dijual dengan ukuran lebih kecil dibanding martabak pada umumnya, tapi lebih besar dari martabak mini.

Lalu apa istimewanya? Setelah saya renungkan ada tiga alasan mengapa martabak di sini jadi digandrungi banyak orang. Abang martabak praktekkan strategi pemasaran yang canggih banget. Pertama, pemilihan lokasi berdagang yang berada di lokasi strategis. Gerobak abang martabak tepat berada di sisi pintu masuk terminal. Terminalnya sendiri berada tepat di depan pasar. Saban subuh hingga kira-kira pukul 07.30 wib jalanan depan pasar jadi gelaran pedagang sayuran. Makanya tidak heran pelanggan si abang kebanyakan ibu-ibu yang hendak pulang atau pergi ke pasar.

Kedua,  harga seloyang martabak relatif murah. Banyangkan 1 loyang martabak cuma seharga 5 ribu perak. Ketiga, pemilihan waktu operasional. Sejak pukul 5 pagi abang martabak sudah siap menerima pesanan. Adonan sudah diaduk rata. Loyang sudah dipanaskan. "Jangan sampai rejeki keburu dipatok ayam, Mbak," begitu katanya waktu saya tanya kenapa jualan sejak pagi buta.

Seperti sudah saya sebut di awal pelanggan si abang kebanyakan adalah ibu-ibu yang pulang atau pergi ke pasar. Tapi khusus di hari libur begini biasanya pelanggannya nambah. Contohnya saya ini, pemburu sarapan pagi. Kadang ada juga pelanggan dari jamaah yang baru kelar ibadah pagi di gereja.

Sambil menunggu saya berbincang dengan ibu di sebelah saya. Lama sekali. Sampai dia bilang,"Sebetulnya saya mau biarin Mbak duluan,  tapi nanti yang lain iri." "Santai aja Bu. Kan saya datang setelah ibu," jawab saya. Karena sudah akrab akhirnya saya lontarkan juga pertanyaan yang sejak tadi terpendam,"Ibu beli banyak? Ada acara di rumah? " tanya saya. Penasaran.  Buat  apa sampai pemesan 21 loyang martabak. "Tadinya saya mau pesan sebelum ibadah,  tapi nanti martabak keburu dingin," katanya. Dia melanjutkan lagi, "Beli banyak  untuk kasih ke tetangga-tetangga.  Besok kan mereka sudah mulai puasa. Ini untuk menyambut Ramadhan.  Biar mereka senang." Deg.  Jantung saya berhenti sesaat.  Pipi saya panas meski tidak tamparan yang mendarat. Saya mestinya yang paling pantas senang dengan datangnya Ramadan, tapi belum  berbuat apa-apa untuk senangkan tetangga. Yuk tengok kebahagiaan tetangga kita

---
Belalang Sipit
05/05/2019

Tuti Ismail

About Tuti Ismail -

tax officer, a mother