Monday, June 11, 2018

Tuti Ismail

Kursi Darurat dan Usiaku yang Baru 13 Tahun


Jakarta cerah hari ini. Seluruh penumpang telah duduk manis di bangkunya masing-masing. Koper, dus oleh-oleh dan tas jinjing juga sudah masuk kabin. Semuanya sudah siap mengudara bersama si burung besi. Tapi mbak pramugari dan mas pramugara masih hilir mudik di lorong kabin pesawat, entah apa yang dicarinya. 

Seorang pramugari berdiri tepat di baris nomor sebelas, matanya yang bulat melihat satu persatu penumpang yang duduk di deretan kursi darurat. Seorang anak muda dan dua orang lelaki paruh baya di sisi sebelah kanan. Pramugari tersenyum. Lalu dilihatnya sisi sebelah kiri, dua orang  bapak. Hampir wajahnya tersenyum lagi, namun urung. Seorang gadis kecil di bangku darurat paling ujung di sisi sebelah kiri.

Mata  mbak pramugari sibuk melirik ke kanan dan kekiri entah apa yang dicarinya. Tetiba matanya berhenti di anak muda tanggung yang duduk di nomor 11C, persis di sebelah kanan tempat dia berdiri. Mereka beradu pandang. Mbak pramugari tersenyum. Anak muda membalas dengan kernyit di dahinya. 

"Mas, boleh minta tolong bertukar tempat duduk dengan ibu," tangannya menunjuk gadis kecil yang duduk di kursi pintu darurat sebelah kiri. Seperti di sihir hampir saja si anak muda tadi berdiri dan berpindah tempat duduk dengan segera. Gerakannya terhenti ketika mbak pramugari berbicara gadis kecil melanjutkan kata-katanya,"Adek boleh bertukar dengan Mas ini ya, yang boleh duduk di kursi darurat hanya mereka yang berusia di atas lima belas tahun."  

"Aku belum lima belas tahun," anak muda tanggung itu yang menjawab.

"Masa ?" Mbak pramugari penasaran. Tatapannya menerka-nerka kebenaran cerita anak muda tanggung itu. Tinggi anak ini sudah lebih dari 160 cm. Sungguh tidak percaya jika umurnya belum menyentuh angka lima belas tahun.

"Iya, aku baru tiga belas tahun. Itu juga baru lebih empat hari. Hadiah ulang tahunnya aja belum dibeliin. Ya kan Pa ?" jawab anak muda tanggung itu serius sambil melirik lelaki di sebelahnya. Kode keras nih !! Lelaki yang dipanggilnya papa mengangukkan kepala.  

Saya tertawa mendengar cerita mereka berdua ketika tiba di bandara tujuan. 

Soal kursi di pintu darurat. Kalau ingin membanding-bandingkan dengan kursi lain di dalam  kabin pesawat, kursi di deretan pintu darurat memang paling nyaman. Jarak antar kursi di deretan itu lebih lebar, sangat lapang. Tempat duduk ini biasanya menjadi incaran mereka yang memiliki tubuh tinggi. Problem dengkul yang sering beradu dengan kursi di depannya kerap jadi alasan. 

Bungsu saya yang baru berusia tiga belas tahun empat hari itu boleh dibilang terhitung bongsor. Cerita tentang mimik mbak pramugari yang kaget dan tidak percaya sungguh menarik untuk dibahas, tetapi bukan itu yang menggelitik hati saya. Ada apa dengan usia lima belas tahun di kursi pintu darurat pesawat ?

Selidik punya selidik ternyata UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan alasannga. pasal 56 ayat (1) menyebutkan bahwa, “Dalam penerbangan dilarang menempatkan penumpang yang tidak mampu melakukan tindakan darurat pada pintu dan jendela darurat pesawat udara”.

Pantas saja mbak pramugari memeriksa dengan teliti penumpang yang duduk di kursi tersebut. Resume kriteria siapa yang boleh duduk di kursi terbebut saya ambil dari FAQ pada website resmi Airasia ( https://support.airasia.com/s/article/Who-can-occupy-emergency-seats-en?language=in ). Meski saya tidak menggunakan maskapai tersebut saat itu, saya kira syarat yang tetapkan seluruh maskapai sama. Penumpang yang duduk di baris pintu darurat keluar darurat harus memenuhi kriteria berikut :
  1. Sehat fisik dan mental untuk  membantu awak kabin dalam keadaan darurat,
  2. Mampu memahami instruksi darurat tertulis/yang diucapkan,
  3. Berusia 15 tahun ke atas,
  4. Tidak dalam keadaan hamil usia berapa pun,
  5. Tidak bepergian dengan bayi,
  6. Tidak membeli tempat duduk tambahan.
Awak kabin berhak menunjuk tempat duduk baru di dalam pesawat jika penumpang tidak memenuhi kriteria di atas.

Jadi untuk yang berminat duduk deretan kursi pintu darurat silahkan ukur-ukur diri apakah cocok dengan kriteria di atas. Jangan ngambek jBahkan pernah suatu kali ketika check in saya meminta duduk di kursi pada deretan pintu darurat namun ditolak. Saya menganggapnya penolakanan itu dilakukan semata-mata demi alasan kehati-hatian mungkin karena saya mudah panik, meskipun jawaban petugas pada loket check in bilang begini,"maaf, kursi pintu darurat tidak untuk wanita hamil, Bu." Dih siapa yang hamil.  ðŸ˜ˆðŸ˜ˆ 

Belalang sipit
Ramadhan 2018
Semarang 

Read More

Thursday, May 31, 2018

Tuti Ismail

Cerita Dari Sahabat




Tahun ini tak terbilang beratnya bagi Andin. Terpekur ia di hadapan jenazah ibunya. Senyum tipis ibunya tak kunjung membuat wajahnya memerah. Wajahnya pucat pasi. Air matanya berhenti mengalir. Meski begitu aku tahu hatinya mengecil. Kering dan gersang. Kalau kau ingin tahu, sebetulnya kesedihan akan kehilangan ayahnya sembilan bulan lalu belum pulih benar. Ketika ayahnya berpulang aku menyaksikannya terkapar di sudut ring. Ringsek. Babak belur. Hatinya patah. Sialnya tidak ada yang pernah mengajarinya soal patah hati. Ayahnya adalah cinta yang tak terucapkan. Cinta seorang anak perempuan. Susah payah dia mencoba bangkit. Menggapai-gapai. Meraih tangan ibunya yang mulai lemah. 

Baru dua bulan belakangan Andin berhasil menguasai diri. Menguasai matanya yang kerap meluapkan air mata tanpa sebab tiap kali burung besi membawanya terbang meninggalkan Jakarta. Aku melihat Andin terkapar di ring yang sama. Andin sepupuku yang ceria itu kini hatinya tidak lagi hanya patah, tapi hancur berkeping-keping. Tidak ada yang lebih pilu dari ditinggal pergi kedua orang tua.

“Tidak boleh kah aku pinjam milik-Nya barang sebentar, In ?”  isaknya di telingaku.
Aku peluh ia erat-erat.
“Tidak akan pernah ada kata sebentar, Din. Berapa pun waktu yang diberikan tidak akan pernah cukup untuk bersama orang yang kita cintai. Istighfar. Ikhlaskan lah. Semua yang hidup pasti akan mati, kita pun akan menyusul. Entah kapan,” lirih aku membalasnya. Bagai bunga Putri Malu, Andin layu mendengar  ucapanku.

Aku tahu persis selepas kepergian ayahnya tidak pernah satu kali Sabtu dan Minggu yang ia lewatkan tanpa ada ibu di sampingnya. Seandainya ibunya dapat ia lipat dan masukkan dalam sakunya, pasti akan dilakukannya. Dibawa serta, pergi mengadu nasib nun jauh di sana. Kepergian ayah dan ibunya yang seperti tanpa jeda menimbulkan tanya besar di dirinya. Sebuah tanya yang menyesakan dada itu tak perlu dijawab. Andin pasti tahu semua jawabannya. Seberapapun eratnya ia genggam kedua tangan ayah dan ibunya, mereka tetap akan pergi. Jika sudah waktunya, semua akan kembali pada-Nya tidak ada yang bisa menghalangi. Tidak Andin. Tidak aku. Tidak seluruh alam semesta ini.

“Sekarang, apa yang harus aku lakukan, In ?” 
“Kau anak shalehah, Din,” Andin melirikku.
Ingat, cuma Kau seorang yang bisa mengingat doa masuk masjid selepas Ustadz Riza selesai mencontohkannya. Aku ?” bisikku sambil mengangkat bahu. Andin menyikut lenganku. Aku teringat sewaktu kami sama-sama sekolah di ibtidaiyah dulu, Andin satu-satunya murid yang paling cepat dan tentu saja paling banyak hapalan doanya.
“Berdoalah untuk kedua orang tuamu. Merintih lah padanya. Allah pasti akan mendengar. Insyaallah,” aku genggam tangannya.

Ku pandangi matanya, ada setitik cahaya di sana. Kecil dan jauh. Sungguh aku ingin memulangkan kembali cahaya itu ke asalnya. Aku sandarkan punggungku ke kursi, pelan ku ceritakan apa yang dilakukan mamaku dulu sepeninggal papa. Mungkin ceritaku ini akan ada faedahnya. “Selepas papa pergi, saban bulan mama mengajakku bergantian mengunjungi sahabat dan kerabat ayahku. Mama membawa buah tangan yang sering dibawakan papaku dulu jika menjumpai mereka.” Kebiasaan aku dan mamaku itu masih berlangsung hingga kini meskipun dengan frekuensi yang tidak lagi sama, padahal papaku yang juga kakak ayah Andin telah berpulang delapan belas tahun yang lalu.  Pernah ku tanya mama untuk apa semua itu dilakukannya. Kau tahu apa jawabnya waktu itu,”mama ingin papa tetap hadir di antara kita lewat cerita sahabat dan kerabat yang papa sayangi. Kau bisa mengenal dan mencintainya seperti papa mencintaimu.” Aku rasa mama ada benarnya, sewaktu papa pergi umurku baru lima tahun dan sedikit sekali yang aku ingat tentang papa. Sahabat dan kerabat papa terus memelihara cerita baik tentangnya selepas papa pergi. Boleh dibilang aku tumbuh dengan kasih sayang papa lewat cerita mereka dan aku merasa papa tidak pernah pergi dari hidupku. Terlebih aku melihat kesedihan mama berangsur terobati.

Belakangan aku mulai mencari tahu sebab-sebab kebiasaan mamaku dulu itu. Aku membuka gallery foto di handphone, aku tunjukkan pada Andin sebuah foto dari catatan kecil di buku harian mama tertanggal 21 Mei 2000.

Mas, meski kau telah berpulang aku berjanji akan mendidik Iin menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Pada mu Mas. Aku akan menghadirkanmu selalu dalam hidupnya.  Aku janji.  

Ø¥ِÙ†َّ Ù…ِÙ†ْ Ø£َبَرِّ الْبِرِّ صِÙ„َØ©َ الرَّجُÙ„ِ Ø£َÙ‡ْÙ„َ Ùˆُدِّ Ø£َبِيهِ بَعْدَ Ø£َÙ†ْ ÙŠُÙˆَÙ„ِّÙŠَ
“Bentuk kebaktian kepada orang tua yang paling tinggi, menyambung hubungan dengan orang yang dicintai bapaknya, setelah ayahnya meninggal.” (HR. Muslim no. 2552)
----

Tiga bulan kemudian setelah hari itu, aku melihat cahaya di mata Andin yang dulu redup mulai bersinar kembali. Kami saling berpelukan,“terima kasih, In.” Aku tersenyum.
Minggu lalu ketika pulang ke Jakarta, Andin menjumpai Pak Parman dan Bu Parman, sahabat ayah dan ibunya. 

“Menjelang Ramadhan begini Bapak semakin merindukan ayahmu. Tidak ada lagi yang menanyakan sudah tadarus sampai juz berapa ? Biasanya kami berdua berlomba-lomba khatam Al Qur’an, Din. Ayahmu itu cepat sekali mengajinya. Bapak selalu kewalahan. Ayahmu tidak pernah tidur selama Ramadhan ya ?” Pak Parman memecah kesunyian. Sekarang giliran Bu Parman,“lihat ini, Din. Buku yasinan empat puluh hari ayahmu. Bapak menggunting foto ibumu dan menggabungkannya dengan foto ayahmu. Biar gampang katanya kalau setiap malam Jum’at mengirim doa untuk mereka berdua,” Bu Parman menunjukkan buku yasinan sewaktu memperingati empat puluh hari ayah Andin dulu. Andin membeku.
“Sebulan sebelum ibumu pergi, hampir setiap hari kami bertukar cerita. Kadang ibumu yang datang ke sini. Bertukar masakan juga. Apa saja, Din. Kadang cuma bertukar sayur asam dan tumis peda.”
“Semoga Allah ridha padamu, Din.”

Kepala Andin tertunduk dalam. Di matanya ada bola-bola air mata yang siap tumpah. Ada yang mengiris-iris sesak di dadanya. Perih rindu ini tak akan pernah terobati. Pun begitu, cerita hari dari sahabat ayah ibunya seperti titik-titik air yang membasuh lukanya. Menguatkan kakinya yang patah untuk membali melangkah.

----
Read More

Tuesday, April 24, 2018

Tuti Ismail

Mengapa e-filing ?


e-filing DJP
Bank Dunia menaikkan peringkat kemudahan bisnis atau Ease of Doing Business (EODB) Indonesia di tahun 2018 dari semula berada di peringkat 91 menjadi berada di peringkat 72.[1] Kabar baik lainnya adalah Indonesia masuk sebagai 10 Top Reformer di dunia.

Sepuluh indikator kemudahan ini lah yang dilirik oleh Bank Dunia dalam menilai EODB suatu negara yaitu kemudahan dalam memulai usaha, perizinan terkait pendirian bangunan, pendaftaran properti, penyambungan listrik, pembayaran pajak, akses perkreditan, perlindungan terhadap investor minoritas, perdagangan lintas negara, penegakan kontrak dan penyelesaian perkara kepailitan. Khusus untuk indikator kemudahan pembayaran pajak Indonesia mendapat skor The Distance to Frontier (DTF) 65 poin dan peringkat 114, padahal pada tahun 2017 mendapat peringkat 104 sementara tahun 2016 berada di peringkat 115.

Sejarah digitalisasi administrasi perpajakan sebenarnya  telah dimulai sejak delapan belas tahun yang lalu melalui UU KUP Tahun 2000. Melalui beleid tersebut penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) tidak lagi dibatasi hanya dapat disampaikan secara langsung maupun melalui Kantor Pos, tetapi juga dapat disampaikan melalui cara lainnya yang diatur dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. ‘Cara lain’ itulah yang kemudian dijadikan pintu masuk untuk digitalisasi dalam administrasi perpajakan. Pada tahun 2004 melalui Keputusan Ditjen Pajak Nomor KEP-88/PJ/2004, untuk pertama kalinya diatur lebih lanjut penyampaian SPT secara elektronik. Meskipun penyampaian SPT elektronik (e-spt) masih harus disampaikan melalui perusahaan jasa aplikasi (Application Service Provider) yang telah ditunjuk oleh Ditjen Pajak.

Penggunaan SPT elektronik melalui e-filing mulai masif digunakan oleh wajib pajak pada tahun 2016 yang didorong oleh terbitnya sejak Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Surat Edaran Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Kewajiban Penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi Oleh Aparatur Sipil Negara/Anggota Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Republik Indonesia Melalui e-Filing. Penyempurnaan fasilitas pelaporan pajak secara online terus diupayakan oleh Ditjen Pajak dan pemerintah terus mendorong Sejak tahun 2017 mendampingi e-filing dan untuk mengatasi kepadatan akses pada akhir masa pelaporan, Ditjen Pajak menyediakan pilihan baru cara pelaporan yaitu melalui e-form (layanan pengisian SPT elektronik secara offline).  Layanan pelaporan SPT Tahunan elektronik di perluas meliputi semua jenis pelaporan SPT Tahunan baik yang menggunakan SPT Tahunan 1770S, SPT Tahunan 1770SS,  SPT Tahunan 1770, SPT Tahunan 1771 (kecuali SPT Tahunan 1770SS, tidak tersedia di layanan e-form).

Pada Juli 2016, Ditjen Pajak memperkenalkan fasilitas pembayaran pajak secara elektronik yaitu  e-billing. Sistem pembayaran elektronik (billing system) berbasis MPN G-2 yang memfasilitasi wajib pajak untuk membayarkan pajaknya dengan mudah, lebih cepat dan lebih akurat.

Walaupun pemerintah sudah menjalankan reformasi perpajakan, salah satunya dengan mekanisme pembayaran pajak secara online, menurut Sri Mulyani, kemajuan negara lain dalam hal memperbaiki indikator Pembayaran Pajak lebih cepat dibanding Indonesia.[2]

Pelaporan dan pembayaran pajak disamping sebagai fasilitas yang memberikan kemudahan bagi wajib pajak untuk menjalankan kewajiban perpajakannya sebetulnya juga dalam rangka mendorong administrasi perpajakan lebih akuntabel dan kredibel. Jika kita tertatih-tatih pada tiga tahun belakangan ini, bukankah tidak ada bayi yang langsung dapat berlari ? setiap permulaan selalu membutuhkan banyak pengorbanan.

Terlepas dari itu, digitalisasi administrasi perpajakan dapat juga dipandang sebagai upaya yang sungguh-sungguh dari Ditjen Pajak dalam merespon perkembangan dunia saat ini khususnya pada kondisi bumi kita dan itu sesuatu hal yang baik, bukan ?

Sedikit tentang bumi kita

Pada sekitar tahun 105 M, seorang pegawai pengadilan kerajaan Cina bernama Ts’ai Lun melakukan sebuah percobaan dengan mencampur beberapa bahan seperti serat pohon Mulberry, kain bekas dan sisa jerami. Hasil percobaannya Ts’ai Lun tersebut kemudian ini lah yang kita kenal dengan mana kertas. Ts’ai Lun mempersembahkan kertas kepada salah seorang kaisar dari Dinasti Han (202 SM – 220 M) yaitu Kaisar Ho Ti. Kaisar sangat gembira dengan hasil temuan Ts’ai Lun. Sebelumnya buku ataupun surat dan penyebaran  ilmu pengetahuan dilakukan melalui media seperti sutra, kulit kambing, atau bambu. Sangat tidak praktis dan ekonomis.

Teknik dan formula pembuatan kertas terus disempurnakan, hingga kemudian penggunaan kertas semakin merebak di Cina. Pada abad ke-12 dengan menjaga rahasia teknik dan formula pembuatan kertas Cina memonopoli komoditas dan mengekspor kertas ke negara-negara Asia lainnya. Di tahun 751 M, kertas mulai digunakan di Timur Tengah, dan pada abad ke-14 berdirilah pabrik kertas di Eropa seperti di Spanyol, Italia, Prancis dan Jerman. Penggunaan kertas semakin meluas setelah Johannes Gutenberg menemukan alat mesin percetakan pada tahun 1450-an.

Mengingat revolusionernya penemuan kertas oleh Ts’ai Lun, Stan Russo menempatkannya pada ranking ke tujuh belas dari lima puluh individu yang penting dalam sejarah dalam bukunya yang diterbitkan tahun 2005 berjudul The 50 Most Significant Individuals in Recorded History : A Rank in Descending Order (Inklings Press : 2005). Bahkan Michael H. Hart menempatkannya pada urutan ke tujuh dari seratus tokoh paling berpengaruh di dunia dalam buku lawasnya  yang berjudul The 100 : A Ranking of The Most Influential Person in History  (Citadel Press, Kensington Publishing Corp : 1978).

Bahan baku dasar pembuatan bubuk kertas (pulp) adalah selulosa dalam bentuk serat dan hampir semua tumbuhan yang mengandung selulosa dapat dipakai sebagai bahan baku pembuatan pulp. Pada umumnya kayu yang digunakan adalah jenis Pinus dan Cemara, berbagai jenis Kayu Putih (dari jenis Eucalyptus globulus dan Eucalyptus grandis), atau kayu pohon akasia (paling sering adalah jenis Acacia mangium).

Meskipun industri kertas terus didorong untuk berinovasi dengan mengembangkan teknologi yang berwawasan lingkungan serta pengelolaan industri dalam konteks industri hijau,  namun tidak dapat dipungkiri bahwa tingginya permintaan dunia akan kertas maupun pulp sudah barang tentu memerlukan pasokan bahan baku kertas yang tidak sedikit yaitu ketersediaan kayu. Menurut ilmuan UGM Prof. Dr. Sudjarwadi, pembuatan 1 rim kertas membutuhkan 1 batang pohon berusia 5 tahun. Sedangkan industri pulp sendiri sebagi pengolah kertas butuh 4,6 meter kubik kayu untuk memproduksi 1,2 ton kertas. Satu hektar hutan tanaman industri diperkirakan dapat menghasilkan 160 meter kubik kayu. Apabila industri pulp mampu memproduksi 3 juta ton kertas setiap tahun maka penebangan hutan akan mencakup areal hutan seluas 86.250 hektar.[3] Apalagi kertas mempunyai fungsi yang tidak melulu untuk kepentingan tulis menulis. Catatan saja, pada 2020 kebutuhan kertas dunia diperkirakan mencapai 490 juta ton, atau naik 24,3% dibandingkan kebutuhan tahun lalu sebanyak 394 juta ton.[4]

Digitalisasi adalah jalan terbaik
Dimulai di tahun 1969 oleh Departemen Pertahanan Amerika atau DARPA (Defence Advance Research Project Agency sebuah proyek untuk mengembangkan jaringan komunikasi data antar beberapa komputer melahirkan cikal bakal internet. cikal bakal internet tersebut dinamai The Advanced Research Projects Administration (ARPNet) pada tahun 1972. Internet yaitu sebuah sistem global jaringan komputer yang saling menghubungkan antara satu dengan yang lain di seluruh penjuru dunia. Internet  menjadi penemuan yang sangat populer di abad ke-19 dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Penemuan internet ini melengkapi penemuan besar Charles Babbage yaitu Difference Engine di tahun 1821 yang merupakan asal muasal dari komputer. Pada tahun 1995, kehadiran  internet (interconnection-networking) semakin meluas yang ditandai dengan hadirnya penyedia jasa internet (ISP).

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (komputer dan internet) menjadi jawaban untuk menemukan alternatif pengganti kertas. Penemuan tersebut juga mendorong kegiatan masyarakat beralih dari manual ke dalam bentuk digital sebut saja beberapa contohnya mulai dari e-paper yang menggantikan koran, e-book yang menggantikan buku cetakan, sistem penagihan mengganti tagihan manual dengan e-billing atau e-mail yang mengubah kegiatan surat menyurat manual. Revolusi digital juga melahirkan cara baru dalam berdagang. Perdagangan online menjadi marak. Kita dengan mudahnya bertransaksi dengan siapa pun di belahan dunia ini hanya lewat sebuah gawai.

Dunia sudah bergerak begitu cepat, pilihan sepenuhnya ada pada kita apakah kita memilih diam atau bergerak bersama. Jika kita jeli sebetulnya e-filing tidak lagi identik dengan   Ditjen Pajak. Mulai 2018, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam pelaporan LHKPN juga telah beralih menggunakan e-filing yaitu dengan meluncurkan e-LHKPN ( https://elhkpn.kpk.go.id/ ).  Jika kesadaran wajib pajak untuk perduli pada bumi kita semakin dan mendorong pengguna layanan elektronik perpajakan, bukan berarti pekerjaan Ditjen Pajak telah selesai. Pekerjaan rumah justru semakin banyak diantaranya adalah  memastikan layanan mudah, stabil dan aman untuk digunakan wajib pajak.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip sebuah quote yang penuh dengan kebijaksanaan dari seorang sastrawan Rusia Leo Tolstoy “semua orang berpikir tentang mengubah dunia, tetapi tidak ada yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri”.


Belalang sipit
Pontianak (24/04/2018)
----
Referensi:
 [1] http://www2.bkpm.go.id/images/uploads/whyinvest_file/Indonesia_Ease_of_Doing_Business_2018.pdf
[2] https://www.liputan6.com/bisnis/read/3149038/sri-mulyani-beberkan-alasan-indikator-pajak-di-eodb-merah
[3] Jubilee Enterprise, Membangun Kantor Ramah Lingkungan dengan Internet, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, 2010
[4] http://www.kemenperin.go.id/artikel/8421/Kapasitas-Produksi-Kertas-dan-Bubur-Kayu-Bakal-Naik-di-2017

Read More

Monday, March 12, 2018

Tuti Ismail

Pesawat Kertas [Fiksi]

Gambar by pixabay


"Lan, hayuk atuh buruan. Urang teh lapar," kataku ke Herlan sambil mengusap-usap perut. "Bentar atuh Dang. Doa," katanya sambil mengangkat ke dua tangannya ke atas. Mulutnya komat kamit. Aku menunggu Herlan di luar surau.

Sudah hampir jam tujuh malam.  Aku gelisah menahan lapar. Beberapa hari ini aku dan Herlan sering kehabisan makanan di warung nasi Mak Isah. Ujung-ujungnya kami berdua cuma disajikan telor ceplok telor dan kecap. Kata Mak Isah pekerja pabrik pengolahan Bauksit dari Jawa baru datang, kebetulan rumah penampungannya berada tepat di depan warung Mak Isah. "Mak dapet rejeki nomplok, Dang," kata Mak suatu hari. Para pekerja pabrik Bauksit itu sebelum ke lokasi memang singgah dulu barang dua tiga hari di Ketapang.

Biasanya sehabis shalat baru juga imam selesai salam dia sudah kabur. Nangkring di atas motor, siap menuju warung Mak Isah. Anak itu aslinya paling tidak tahan lapar.

Ini hari ke enam Herlan berubah jadi alim. Kebiasaan barunya adalah berdoa dengan khusus sehabis shalat, minimal 15 menit. Seperti malam ini, sehabis shalat Maghrib di surau dekat kos kami. Sebetulnya kalau saja dia berdoa seperti orang kebanyakan aku tidak akan heran. Tapi ini aneh betul, tiap kali berdoa dia selalu membuka dompetnya dan mengambil secarik kertas. Tulisan di kertas itu yang dia baca selama berdoa. Tadinya aku pikir kertas itu semacam kumpulan doa-doa yang dia salin dari internet. Nyatanya bukan, kertas itu ternyata sobekan boarding pass. 

Selesai berdoa kami berdua meluncur ke warung Mak. Syukurlah lauk dan sayur masih komplit. Sehabis dari makan kami kembali lagi ke surau untuk shalat Isya. Surau masih sepi. Muadzin belum datang. Hanya kami berdua di sana. Aku beranikan diri bertanya," Lan, kamu teh kalau berdoa khusuk pisan sekarang. Jatuh cinta ? Doa naon ?"
"Ente ah. Ente jatuh cinta," katanya sambil malu-malu. Mungkin dia ingat kejadian dulu waktu kuliah, sering doa buat Dina. Cinta pertamanya yang gagal total.

Aku dan Herlan sudah berteman sejak kuliah. Walau bukan asli orang sunda, kami sama-sama  pernah tinggal di Jawa Barat. Herlan dii Cimahi dan aku di Garut. Di akhir semester empat Herlan pernah seperti sekarang ini, khusuk berdoa kadang pakai nangis segala. Dia bilang doa buat si Dina anak kelas 2-13. "Kenapa emangnya si Dina ?" tanya aku waktu itu. "Nilainya semester ini jelek-jelek. Akuntansinya payah. Takut dia dropout euy. Baru kali ini, Dang urang teh doa buat orang lain. Karunya. Budak teh meni gelis," jawabnya dengan wajah muram. Kalau dia bilang akuntansi, yang dimaksud bukan cuma akuntansi intermediate mata kuliah di tingkat dua, tapi juga akuntansi biaya. Dua mata kuliah ini tidak boleh dapat D kalau mau lulus dari kampus ini. 

Ah Herlan sampai segitunya kamu sama Dina. Kamu harus tahu, antara Dina dan Herlan meski satu angkatan di kampus, mereka adalah dua orang yang tidak saling kenal. Satu angkatan kami ada lima ratus mahasiswa/i dan hanya sepertiganya wanita. Herlan kemungkinan besar tahu Dina yang katanya manis itu plus nilai-nilai ujiannya, tapi Dina belum tentu tahu dan kenal Herlan apalagi mereka tidak pernah satu kelas. Kelas Herlan di lantai 2, sementara Dina di lantai 3. Fakta lainnya meski terbilang mahasiswa pintar  Herlan tidak populer di kampus, biasa saja. Pemalu. Dia tidak pernah juga kelihatan berusaha mendekat, titip salam atau berkenalan dengan Dina. Usaha maksimalnya cuma bela-belain ke toilet di lantai 3 kalau mau buang hajat.  Aku pernah tanya kenapa kalau ke toilet mesti repot ke toilet lantai 3. "Olah raga," jawabnya. "Akal bulus ! Kamu ngarep ketemu Dina kalau pas mau ke toilet kan ?" timpalku. Sebetulnya aku tahu dan maklum kelas Dina memang persis di samping toilet.

Ketika pada akhirnya Dina batal dropout, Herlan yang paling terlihat senang. Dia traktir teman-teman satu kos-kosan. Ngajak Dina ? Ya enggak. Sampai hari wisuda kami, Dina tidak juga tidak kenal yang namanya Herlan. Lelaki yang selama ini diam-diam berdoa siang malam untuknya. Padahal bisa jadi karena doa Herlan, Dina batal dropout. Bisa jadi.
----

"Urang teh doa buat pilot, Dang," katanya sambil menyandarkan kepalanya di dinding surau. Matanya menatap ke langit-langit Aku ganti menatapnya penuh. Tidak mengerti. "Urang utang nyawa," katanya lagi. 

Minggu lalu Herlan memang pergi ke Jakarta. Tugas dari kantor. Sambil memejamkan mata Herlan bercerita betapa mengerikan penerbangan sekembalinya dari Jakarta menuju Pontianak minggu lalu. Aku duduk sambil menopang daguku di atas dengkul, khusuk mendengarkan.

Kalau kamu sama ingin tahu denganku, inilah kisahnya selengkapnya.

Sebetulnya saat itu pesawat hampir mendarat di Supadio. Pramugari sudah mengumumkan. Lampu kabin sudah dimatikan dan roda pesawat juga sudah diturunkan.

Tiba-tiba cuaca buruk. Pesawat naik turun, berguncang hebat. Entahlah barangkali menabrak awan, burung, angin atau hantu penasaran yang bergentayangan awan gelap-ibuku sering menakut-nakuti begitu kalau aku nekat mandi hujan. Di luar langit gelap. Pesawat seperti terbuat dari sobekan kertas buku tulis, tidak berdaya dan lecek oleh hujan lebat di luar. Setiap kali pesawat terguncang anak balita yang ada di pesawat menangis. Ibu-ibu dan wanita menjerit. "Rasanya ada Gajah berdesakan mau keluar dari dalam perut, Dang. Ngeri. Mules," Herlan masih memejamkan mata. Setiap kali pesawat terguncang Herlan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. Berpegangan erat pada sandaran tangan tetapi tidak duduk di atas kursi. Ini resep mengatasi mual akibat cuaca buruk di pesawat. Resep dari Mang Odang, paman di kampung yang sudah biasa naik pesawat. Herlan percaya saya. Hasilnya lumayan, rasanya tinggal ada satu Gajah di dalam perut. Hampir dua puluh menit begitu.

Dua puluh menit berlalu, Herlan dapat merasakan pesawat mengambil arah ke kiri, menjauh dari pusaran awan hitam. Guncangan meskipun ada tidak sehebat tadi. Dia menarik nafas lega. Tangannya meraih botol air mineral dari dalam tasnya, ia tenggak semuanya sampau ludes. Waktu mendarat molor setengah jam. Dari pengeras suara pilot mengumumkan,"kita menghadapi cuaca buruk di Supadio. Untuk sementara selama tiga puluh menit kita akan berputar-putar di ata kota Pontianak sampai cuaca memungkinkan untuk mendarat."

Pesawat berputar-putar. Aku bisa melihat dengan jelas pohon-pohon Kelapa Sawit dan anak-anak Sungai Kapuas. Rasanya dekat sekali. Sayang seribu sayang begitu rasanya bisa aku petik pelepah daun Kelapa Sawit itu pesawat kembali naik lalu berputar dan naik lagi. Rasanya ingin bersumpah tidak akan naik pesawat selamanya. Sumpah yang pasti akan aku langgar sendiri. Mana bisa, tidak ada jalan darat dari Jakarta menuju Pontianak. Jalan darat dari Pontianak menuju Ketapang tempat tugasku pun mesti ditempuh lebih dari 8 jam perjalanan. Jadi mana bisa. Biar penuh tantangan, pesawat adalah transportasi terbaik saat ini. Tidak terasa sudut mataku mukai berair. Aku ingat emak, bapak dan adik-adik di kampung. 

Langit di luar sedikit gelap. Tiga puluh menit terlewati. Empat puluh menit berlalu. Pas empat puluh lima menit pilot mengumumkan pendaratan di Supadio akan segera dilakukan. "Tidak pernah aku mendengar suara berdecit roda pesawat di landasan semerdu itu, Dang," sambungnya. Akhirnya pesawatku mendarat juga di Supadio. Penumpang seperti Laron di musim hujan, berkejaran terbang menuju lampu neon. Wajah-wajah pucat berangsur memerah.

"Kalau saja aku perempuan sudah aku seruduk ruang kokpit. Aku peluk  pak pilot sampai puas. Rasa terima kasihku padanya, Dang. Bahkan kalau dia mau aku bersedia diperistri. Sayang aku laki jantan," katanya lagi. Karena itulah saban habis shalat aku khususkan berdoa untuknya,"mudah-mudahan pekerjaannya menjadi ladang amal baginya. Jika dia bujangan sepertiku segera berjodoh perempuan baik-baik. Jika sudah beristri, diberi istri dan rumah tangga yang baik. Doa urang teh spesifik, Dang. Langsung buat pilot nu eta."

-----
Dalam keadaan demikian wajar bila kita merasa begitu dekat dengan kematian. Tenggorokan terasa kering. Cerita di komik-komik yang aku beli dari pedagang-pedagang keliling yang mangkal di depan sekolah dasar ku dulu benar adanya. Aku pernah berada dalam posisi Herlan, di waktu kejadian aku serasa diputarkan kembali perjalanan hidupku di masa lalu. Yang tersisa hanya penyesalan dan permohonan untuk meminta perpanjangan waktu melakukan pertobatan.

Dari ceritanya aku bisa merasakan betapa Herlan merasa berhutang budi. Aku meresapi segala ketulusan dari doa yang dia ucapkan. Terharu mendengarnya.  

"Lan, soal boarding pass. Kenapa atuh doa sambil bawa-bawa itu ?" tanyaku penasaran.

Soal boarding pass itu, tadinya hampir saja aku buang, dikira sampah. Terus dipungut sama Herlan dan difotocopy jadi banyak, salah satunya diselipkan di dalam dompetnya. Boarding pass dikeluarkan lagi ketika dia berdoa. 
"Ini boarding pass pengantar doa, Dang." 
"kaya gojek ngater makanan ya, Lan."
"iya"

"Urang  terlalu tegang waktu itu, entekatingali waktu pilot ngomong lewat pengeras suara namina teh saha. Abdul naon kituJalmi nu namina Abdul mah sagudang. Kamu we namina Abdul Dadang. Tos we dari pada doanya nyasar, urang sebutken doa untuk pilot pesawat dengan nomor penerbangan berapa dan hari apa. Baca wae boardinpass. Nggak bakal salah alamat," katanya panjang lebar sambil senyum-senyum. Aku tertawa terbahak-bahak membayangkan Herlan menyebut dalam doanya 'teruntuk pilot penerbangan JT 686 atau GA 508'. Biar begitu saya benarkan juga apa yang dibilang Herlan. Doa tidak boleh tanggung-tanggung. Doa mesti benar, serius dan khusuk.

                              -----===-----


Belalang Sipit
Pontianak, 12/03/18

Read More