Sunday, March 29, 2020

Tuti Ismail

SAKURA



Cuilan kedua

2. SAKURA

Wanita berusia 44 tahunan itu ibuku. Namanya singkat bukan main, Irma. Ibu bilang dalam Bahasa Jerman berarti kuat. Irma juga  adalah panggilan kesayangan anak perempuan Jerman.

Setelah mengarungi bahtera rumah tangga selama 12 tahun dengan eyang kakung barulah eyang putri mengandung. Pada bulan pertama kehamilan eyang putri, perusahaan tempat eyang kakung bekerja sebagai juru bayar nyaris bangkrut.  Pesaing banting harga. Barang palsu merajalela. Sialnya pemilik perusahaan baru saja memasrahkan pengelolaan perusahaan kepada anak perempuannya. Beatrice - anak pemilik perusahaan - baru saja lulus program master di kampung halaman bapaknya, Jerman. Untunglah gadis pirang bermata biru itu bukan seorang anak perempuan yang cengeng dan manja. Tidak pernah tampak gusar di wajahnya. Pun demikian dengan bapaknya.

Demi menguatkan hati anak gadisnya Tuan Chaddrick - begitu ia biasa dipanggil oleh seluruh karyawannya - hanya mengucap satu mantra untuk anaknya. Ia selalu memanggil anaknya dengan sebutan Irma.

Memasuki bulan kedelapan kehamilan eyang putri perusahaan tempat eyang kakung bekerja kembali berjaya. Bahkan lebih dari sebelumnya. Sehari sebelum kelahiran ibu, eyang kakung naik pangkat menjadi kepala keuangan.

Ibu dengan harap eyang yang melekat padanya tumbuh menjadi wanita yang kuat. Ibu adalah seorang guru les mengetik. Seorang agen asuransi yang piawai. Seorang pengurus PKK paling populer di kampungku. Siapapun lurahnya, sejatinya ibu lah ketua PKK-nya.

-----

Lelaki penyuka warna hijau pemilik hobi berkebun itu adalah bapakku. Tahun depan usianya 47 tahun. Namanya Hikaru Martowidjojo.

"Mata Bapak sipit. Kulit Bapak juga putih. Mirip orang Jepang," aku yang memiliki mata bulat ibuku suatu hari bertanya padanya.
Ia yang sedang asik dengan sekop dan mawar di halaman rumah menjawab sekenanya,"O itu karena saat Mbah Putri hamil sering lihat orang Jepang patroli di kampung."  Bapakku lahir di bulan September 1944, saat Jepang sedang ganas-ganasnya di bumi nusantara.

Sebetulnya bukan cuma kulit dan matanya saja, rambutnya yang lurus juga membuatnya mirip orang Jepang. Terkadang dalam penglihatanku masa kecil aku sering mengira bapakku lah jagoan di film Megaloman dan bukan Yuki Kitazume. Bapakku yang seorang guru sebuah SMA di Bandung itu adalah Takeshi Shishido di dunia kecilku.

Usut punya usut ternyata semua yang
ada pada bapak adalah warisan mbah kakung. Kulit putihnya, mata sipitnya dan juga tubuhnya yang setinggi rata-rata orang asia.

Kini, kepada Mas Pria semua warisan mbah kakung diturunkan. Sementara aku mewarisi mata bundar dan rambut ikal milik ibu. Hanya warna kulitku yang menurun dari Bapak.

Memang, mendengar namanya dan melihat dirinya orang sering salah duga. Dipikir bapak adalah anak peranakan Jepang Jawa. Terlebig tahun kelahiran bapak tidak jauh-jauh dari kedatangan Jepang ke Indonesia. Aku pernah bertanya pada bapak perihal namanya yang keren itu. Dengan malu-malu bapak bilang kalau Hikaru adalah kepanjangan dari Hikam dan Arum. Hikam Noto Martowidjojo adalah nama mbah kakung. Sementara Arumsari adalah nama yang dimiliki oleh mbah putri. Mbak kakung dan mbak putri asli Mertoyudan, Magelang.

Belakangan setelah tumbuh besar aku baru tahu mengapa bapakku tampak begitu mirip dengan Takeshi Shishido sang pembela kebenaran. Mengapa ia selalu  menjadi penerang dan jagoan dalam hidupku. Ternyata  meski mbah kakung dan mbah putri tidak mengerti bahasa dari negeri di mana Sakura bermekaran di musim semi, Hikaru dalam Bahasa Jepang berarti cahaya.

.... Bersambung

#BelalangSipit
#DonatKampung
Ilustrasi oleh Raihan
Read More
Tuti Ismail

GADIS



Cuilan pertama

1. GADIS

"Itu, lelaki yang kamu suka?" Aku tergagap diberondong oleh tembakan pertanyaan Bapak. Meski tak ada setetes pun keringat, ku usap wajahku berulang kali. Gigi gingsulku yang kata orang bikin aku tambah manis malu-malu mengintip di balik senyum kecutku. Aku salah tinggah.

Ini lah untuk kali pertama aku  memperkenalkan seorang lelaki pada Bapak.

------------------------------------------------------------------
Namaku Gadis. Lengkapnya Gadis Ramaniya Martowidjojo. Dar namaku pasti kalian tahu apa  harap kedua orang tuaku.

Sebagai anak bungsu dan perempuan satu-satunya di keluarga, Bapak ingin agar aku tumbuh menjadi anak gadis Martowidjojo yang menyenangkan. Dalam bahasa sansakerta, Ramaniya berarti menyenangkan. Semenyenangkan Bandung, kota tempatku lahir dan dibesarkan. Kota yang yang konon menurut  M.A.W. Brouwer. Kamu yang
pernah melewati jembatan di jalan
Asia Afrika  dekat alun-alun Bandung pasti tahu maksudku.

"Dulu, Ibumu yang paling ngotot supaya
nama kalian ada kata-kata dalam bahasa sansakertanya." Lucunya, keinginan Ibu itu jadi salah satu prasyarat saat menerima lamaran Bapak.

Makanya tidak heran jika kakak lelakiku diberi nama Pria Rajendra Martowidjojo. Pria tampan dari keluarga Martowidjojo. Aku memanggilnya Mas Pria. Tapi kalau sedang berdua aku memanggilnya dengan sebutan Lelaki Tulen, sudah mas-mas pria pula. Kalau sudah begitu Mas Pria akan  membusungkan dada dan memamerkan bisepnya yang seperti popeye. Sedap!

Pria  dan Gadis. Lucu juga. Tapi coba bayangkan ketika aku tua nanti, dipanggil apa? Ibu Gadis? Nenek Gadis? Ih ibu-ibu apa gadis sih? Kagok kan?

"Tadinya Bapak ingin memberimu nama Wanita, tapi Ibu tidak setuju," kata Ibu suatu kali.

"Kenapa?" tanyaku.

"Jangan dong. Kalau anak ibu yang cuma dua orang ini diberi nama Pria dan Wanita nanti dikiranya rumah kita toilet umum," canda Ibu sambil mencubit pipiku.

"Haha iya. Nanti di tembok  rumah kita pasti ada tempelan panah ke kanan dan ke kiri," sahutku.

"Terus ada kotak amalnya dengan tulisan Pup Rp2.000, pipis Rp1.000," Mas Pria  menimpali.

"Bu, atuh kenapa Gadis tidak diberi nama Perempuan saja?" Mas Pria bertanya.

"Karena nama kamu bukan Laki-laki," sahut Ibu.

"Laki-laki, Perempuan. Seperti di KTP.  Nanti orang tanya, ini keluarga Pak Martowidjojo kenapa jadi kaya formulir Kartu Kaluarga?" sambil terbahak aku menyambar sahutan Ibu.
-------
Aku, Gadis yang tahun ini akan berusia kepala 2 dan nyaris lulus diploma 3.

Bersambung .....

#BelalangSipit
#DonatKampung
Ilustrasi oleh Rini Rusli
Read More

Sunday, January 26, 2020

Tuti Ismail

Bercermin di Birunya Situ Cicerem


Situ Cicerem

Sekali tempo tiap orang pernah berkhayal tentang sebuah tempat yang ingin dihabiskan bersama orang-orang yang dicintai. Khayalan saya dan kamu tentang tempat itu mungkin berbeda, atau bisa juga sama. Jika iya, bisa jadi kita berada di RT atau RW yang sama. Saling sapa saat jumpa di pasar atau pertemuan warga. 

Anggap saja khayalan kita sama. Udara segar, rimbun pepohonan dan air jernih kebiruan dengan ikan-ikan yang berenang 
bebas adalah kombinasi pas dari khayalan 
saya tentang kampung kita. Kalau kamu 
setuju saya sudah menemukan tempat itu, Desa Kaduela.

Situ Circerem  terletak di kaki gunung Ciremei, atau tepatnya di Desa Kaduela, Pesawahan, Kuningan, Jawa Barat. Mungkin karena jalan yang relatif mulus dan hijaunya persawahan tidak terasa sudah kurang lebih 50 menit berkendara dari Cirebon menuju Situ Cicerem. 

Situ Cicerem atau Telaga Cicerem disebut
juga Telaga Biru Cicerem. Saya tidak perlu bertanya mengapa tempat itu dikenal sebagai telaga biru. Air telaga berwarna biru kehijauan, bening dan jernih. Seorang 
pengunjung bahkan tidak sungkan 
menjadikannya cermin untuk berkaca. 
Dengannya ia dapat membetulkan jilbabnya yang  kedapatan terpasang miring sebelum temannya yang lain mengabaikan gayanya di depan kamera.


"Teh, ikannya dikasih makan. Lempar makanannya dekat kaki biar ikannya mendekat," saya mendengar aba-aba 
mamang pengarah gaya. Mamang 
tukang foto mengiyakan. Puluhan ikan mas lantas berduyun berebut makanan
tepat di bawah kaki kawan saya yang tengah bergaya duduk di atas ayunan. Dengan 
sigap mamang tukang foto mengabadikan momen itu. Pun demikian dengan saya. 

"Hujan, Teh. Maap nih tidak bisa lanjut," kata mamang pengarah gaya.
"Ya sudah gimana lagi. Berapa, Mang?"  Tanya teman saya.
"Sewa ayunannya Rp5.000. Kalau fotonya coba dipilih mana yang bagus nanti saya kirim filenya. Tiga foto Rp10.000," jawab si mamang.

Anak muda di sana, mungkin juga dikoordinir oleh pemda setempat telah menjadikan Telaga Biru sebagai salah satu sumber penghasilan. Saya kira tidak ada yang akan keberatan. Objek wisata dimanapun perlu dirawat dan perawatan tentu perlu biaya. 

Hujan yang awalnya rintik-rintik lantas berubah menjadi lebat. Turunnya hujan mengakhiri sesi foto dan juga keberadaan kami di sana. Sayang sekali, padahal 
belum sempat mencoba naik perahu karet hingga ke tengah telaga dan bercermin di airnya yang jernih.

---
Belalang Sipit
26/01/2020

Read More

Friday, November 29, 2019

Tuti Ismail

Trik Negara Lain Dongkrak Pendapatan Dari Pariwisata, Bagaimana Indonesia?



Ilustrasi by Bintang F.

Kabar tidak menyenangkan disampaikan Direktur Bank Dunia Bank Dunia, merespon lesunya perekonomian dunia kemungkinan akan menurunkan kembali proyeksi pertumbuhan globalnya. "Ketika kita melihat data hari ini, kita mungkin akan melihat penurunan lebih lanjut dari penurunan peringkat kita pada Juni," kata David Malpass kepada wartawan di awal pertemuan tahunan Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF), sebagaimana dilansir dari Reuters, Kamis (17/10/2019). Padahal sebelumnya dalam Global Economic Prospects edisi Juni 2019 yang dirilis Selasa (4/6/2019) Bank Dunia telah memangkas proyeksi pertumbuhan dari semula 2,9% menjadi 2,6%.

Namun, di tengah ketidakpastian penurunan perdagangan dan aliran investasi, ternyata masih ada kabar baik yaitu semakin bainya perkembangan sektor pariwisata. Dalam analisis tahunan The World Travel & Tourism Council’s (WTTC) terkait dampak ekonomi  dan tenaga kerja yang ditimbulkan dari kegiatan pariwisata di 185 negara dan 25 wilayah, menyebutkan bahwa sektor ini menyumbang 10,4% dari PDB global dan 319 juta pekerjaan, atau 10% dari total lapangan pekerjaan di tahun 2018.

Moncernya perkembangan pariwisata direspon oleh Jepang dan Malaysia untuk mendorong penerimaan negara melalui sektor pajak. Jepang dan Malaysia pada tahun 2019 mulai mengenakan pajak baru bagi pelancong yang akan meninggalkan negaranya.

Pajak ‘Sayonara” Jepang dan Pajak “Selamat Tinggal” Malaysia

Mengutip The Straits Times (12/04/2018) mulai tanggal 7 Januari 2019 Jepang mengutip pajak “sayonara”  (international tourist tax). Tidak pandang bulu, wisman maupun penduduk lokal yang akan meninggalkan Jepang baik melalui laut maupun udara akan dikenakan pajak sebesar 1.000 Yen. Pajak akan ditambah ke dalam tiket peswat, kapal atau biaya perjalanan lainnya.

Serupa dengan Jepang,  Malaysia juga telah menerbitkan regulasi baru terkait pariwisata. Seperti dilansir The Straits Times (03/08/2019) sejak tanggal 1 September 2019 bagi mereka yang akan terbang meninggalkan Malaysia akan dikenakan pajak “selamat tinggal” (the departure tax). Pembayaran pajak ini di luar biaya layanan bandara (airport tax) sebesar  35RM bagi penumpang dengan tujuan negara dan sebesar 70RM negara lainnya selain negara Asean. 

Jumlah pajak bergantung pada  kelas penerbangan yang digunakan dan negara yang dituju. Jika terbang menggunakan kelas ekonomi dan negara yang dituju adalah negara Asean (Brunai, Kamboja, Indonesia, Laos, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam) besarnya pajak yang harus dibayar sebesar 8RM per orang. Namun, jika negara yang dituju selain negara Asean maka pajak yang dikenakan berbeda yaitu sebesar 20RM. Pajak yang dikenakan akan lebih besar lagi bagi mereka yang meninggalkan Malaysia dengan penerbangan kelas premium (business atau first class). Tujuan negara Asean dikenakan pajak sebesar 50RM dan selain Asean 150RM. Pengecualian diberikan bagi wisman anak-anak dengan usia di bawah 2 tahun, para awak kabin dan para penumpang yang transit di Malaysia kurang dari 12 jam.

Fiskal Luar Negeri

Serupa dengan Jepang dan Malaysia, sesungguhnya selama kurang lebih 15 tahun Indonesia pernah pula menerapkan pajak serupa dengan “pajak sayonara” di Jepang atau “pajak selamat tinggal” Malaysia dengan nama Fiskal Luar Negeri (FLN). FLN merupakan Pajak Penghasilan (PPh) yang wajib dibayar oleh setiap orang pribadi yang akan bertolak ke luar negeri. Berlakunya FLN sejak 1 Januari 1995 ditegaskan dalam Pasal 25 ayat (8) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994, “Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang bertolak ke luar negeri wajib membayar pajak yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah.”

Namun, dengan berlakunya Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009, berangsur-angsur pengenaan FLN dibatasi (hanya dikenakan kepada wajib pajak orang pribadi yang tidak memiliki NPWP)  hingga akhirnya dinyatakan berakhir diberlakukan pada tanggal 31 Desember 2010.

Pada periode antara 1 Januari 2009 sampai 31 Desember 2010 bagi wajib pajak orang pribadi yang tak memiliki NPWP dan telah berusia 21 tahun  yang pergi keluar negeri wajib membayar fiskal luar negeri sebesar Rp 2,5 juta untuk pengguna pesawat udara dan Rp 1 juta bagi pengguna kapal laut.

Langkah Indonesia

Sejalan dengan dampak pariwisata pada ekonomi global sebagaimana disampaikan WTTC, data BPS lima tahun terakhir (2014 – 2018) rata-rata pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sangat baik yaitu mencapai 14% per tahun (2014: 9,43 juta orang, 2015: 10,23 juta orang, 2016: 11.52 juta orang, 2017: 14,04 juta orang dan 2018: 15,81 juta orang).
Tidak hanya itu, WTTC dalam laporannya tahun 2018 ternyata juga menetapkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan pariwisata tercepat, yakni peringkat 1 di Asia Tenggara, peringkat 3 di Asia dan peringkat 9 di dunia. Peringkat Indonsia di Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF), melesat dari ranking 70 tahun 2013 menjadi ranking 42 tahun 2017.

Tingginya kunjungan wisman harus ditangkap sebagai peluang sekaligus tantangan oleh Pemerintah. Infrastruktur dan regulasi terkait industri pariwisata harus terus disempurnakan. Dengan pendekatan berbeda dibanding kedua negara tersebut, Pemerintah justru menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 120/PMK.03/2019 telah merevisi ketentuan pengembalian PPN (VAT Refund). Meskipun batasan minimal PPN yang bisa diminta kembali tidak berubah yaitu sebesar Rp500.000 atau minimal belanja sebesar Rp5 juta, namun beleid baru tersebut memberikan kelonggaran bagi wisman. Untuk dapat diperhitungkan dalam total akumulasi belanja,  belanja tidak harus berasal dari satu struk saja tetapi dapat berasal dari beberapa struk belanja asalkan dalam satu struk PPN paling kurang sebesar Rp50.000 atau minimal belanja Rp500.000 dengan syarat belanja dilakukan dalam periode 1 bulan sebelum meninggalkan wilayah Indonesia.

Permintaan pengembalian PPN dilakukan pada saat wisman meninggalkan Indonesia dan disampaikan kepada Direktur Jenderal Pajak (DJP) melalui Kantor DJP di bandar udara (sebelum check in counter) dengan menunjukkan paspor, boarding pass ke luar negeri dan Faktur Pajak khusus dari toko retail yang berpartisipasi dalam program VAT Refund. Diharapkan, regulasi anyar yang akan berlaku mulai tanggal 1 Oktober 2019 membuat harga barang di Indonesia menjadi lebih murah yang pada akhirnya akan mendorong wisman berkunjung ke Indonesia serta tidak segan berbelanja selama berada sini.

Menyikapi pilihan yang diambil Pemerintah terkait cemerlangnya sektor pariwisata,  beberapa langkah perlu dilakukan penyelarasan. Pertama, penambahan jumlah toko retail yang berpartisipasi dalam program VAT Refund serta penyebarannya pada lokasi-lokasi yang menjadi destinasi belanja. Kedua, penambahan jumlah bandara yang dapat melayani VAT Refund. Mengingat saat ini hanya 5 bandara yang menyediakan fasilitas tersebut yaitu Soekarno-Hatta Jakarta, Ngurah Rai Denpasar Bali, Kualanamu Medan, Adi Sutjipto Yogyakarta, dan Djuanda Surabaya Jawa Timur. Ketiga, VAT Refund agar dapat juga disediakan di pelabuhan atau  Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Regulasi yang ada saat ini hanya memungkinkan VAT Refund dimintakan melalui bandara udara. Padahal, beberapa wilayah darat dan air Indonesia berbatasan langsung dengan negara lain seperti  Wilayah Kalimantan Barat dengan Malaysia dan Batam dengan Singapura. Keadaan ini sudah barang tentu memungkinkan wisman yang datang ke Indonesia tidak hanya menggunakan pesawat, tetapi juga menggunakan  moda transportasi lain seperti bis atau kapal. 



Dengan adanya perbaikan fasilitas, bukan tidak mungkin Indonesia di masa yang akan datang menjadi salah satu destinasi belanja menyaingi Singapura dan Hong Kong.  

---

Belalang Sipit
30/11/2019

Tulisan telah dimuat di Majalah Internal Kanwil DJP Jakarta Barat "JAWARA" Volume II/Oktober 2019
Read More

Sunday, July 21, 2019

Tuti Ismail

Gerbong Lengang dan Jalan Memutar Frank Thiess


Kalau ada yang bilang bahwa semua kejadian ada hikmahnya dan pasti yang terbaik untuk kita, kamu mesti pecaya. Itu nasihat ibu saya. Mengingat semua yang terjadi semasa hidupnya tentu tidak ada alasan bagu saya selain percaya. Bukan cuma 100% tapi 3000%.

"Jangan khawatir, kamu pasti bisa tinggal jauh dari rumah. Ibu yakin kamu bisa menyesuaikan diri. Kamu pasti akan jumpai kegembiraanmu di sini," begitu nasehatnya waktu pertama kali kami menginjakkan kaki di kamar kost saya yang mungil di jalan Kalimongso, Jurangmangu. 

Kamar berukuran 2 x 3 m dengan  tempat tidur susun ukuran 100 x 200 cm, dua lemari kecil. Rumah kost yang saya tempati tanpa pesawat televisi. Setelah melewati hari-hari dengan teman sekamar akhirnya saya menyadari telah menemukan "kegembiraan" yang ibu maksud. Tidak perlu waktu lama. Kegembiraan datang sejak malam pertama saya di Kalimongso. Sejak malam itu hingga berminggu-minggu kemudian saban malam saya terjatuh dari tempat tidur. Berminggu-minggu pula saban tengah malam saya dan teman sekamar tertawa. Sakitnya sebetulnya tidak seberapa, tapi malu sungguh tidak tertahankan.  

Tiap malam saya menyandarkan punggung ke dinding kamar. Saya tajamkan indera pendengaran. Kamar kost saya bersisian dengan ruang tamu pemilik kost. Lumayan, meski tidak bisa lihat gambarnya saya bisa dengar jelas dialog sinetron yang sedang diputar ibu kost. Mirip seekor Ngengat, indera pendengaran saya kian hari kian tajam. Dan di awal tahun 1994 rasanya makin tajam saja. Sinetron Doel Anak Sekolahan sedang populer saat itu. Saya bisa membayangkan betapa lucunya saat Atun terjebak dalam Tanjidor. Betapa girangnya Babe saat Doel jadi tukang insinyur.

Meski mempercayainya, sialnya saya lebih banyak lupa dari pada ingatnya. Berkali terlintas juga rasa tidak nyaman ketika sesuatu hal pertama kali terjadi. Misalnya ketika berada di lingkungan atau teman baru. Setelah bertahun terbiasa dengan lalu lintas di Pontianak, ketika akhirnya kembali lagi saya tergagap juga  dengan padatnya Jakarta. Berada di jalanan sejak matahari masih terlelap dan kembali ke rumah lepas senja bukan sesuatu yang mudah. Ditambah tiap hari mesti berlaga sebagai seekor Makarel yang berdesakan di dalam kaleng. 

Bagaimana bisa saya lupa, tubuh kita ini 70% nya adalah cairan. Jangankan menemukan "kegembiraannya" menyesuaikan diri diberbagai keadaan pun pasti bisa. Seberapapun sulitnya. Seember air bila dituang ke dalam botol akan menjadi sebotol air. Apapun wadahnya bagi air tidak akan menjadi persoalan, bukan?

Barangkali inilah jalan bagi saya untuk menemukan "kegembiraan" seperti kejadiaan 26 tahun yang lalu. 

Ketika masinis mengumumkan commuter line telah tiba dan pintu terbuka lebar di Stasiun Jatinegara dengan mantap saya langkahkan kaki ke luar gerbong. "Kereta ke Duri di mana, Pak," tanya saya pada petugas di stasiun. Petugas menunjuk ke jalur seberang.

Perjalanan tidak seperti biasanya. Kereta yang saya tumpangi sekarang tetap akan berhenti di stasiun yang saya tuju setiap hari, Duri. Bedanya kereta akan berjalan memutar melewati Stasiun Pasar Senen, Kemayoran, Kampung Bandang, Angke lalu Duri. Tidak akan lagi saya jumpa dengan Stasiun Manggarai yang padat. Sampai jumpa lain waktu Sudirman, Tanah Abang dan Karet.

Saya bergegas menuju ke kereta yang dimaksud. Jam menunjukkan pukul 05.45 wib. Kalau tidak ada halangan 11 menit lagi kereta akan berangkat. Lampu di dalam gerbong telah menyala. Mesin pun telah menyala. Heran ke mana para penumpang. Bangku di dalam gerbong baru terisi beberapa. Gerbong begitu lengang. Ingin rasanya berlari-lari dari gerbong yang satu ke gerbong yang lain. Hal yang tidak akan bisa saya lakukan jika berada di kereta biasanya. Saya duduk dengan tenang. Sambil menyandarkan kepala ke dinding gerbong saya memejamkan mata. Seperti seekor ayam dengan kelopak dan bola mata yang bergerak-gerak saya tertidur. 

Sesampaikanya di Duri laksana seorang putri yang bosan dengan kereta kencananya, dengan mudahnya saya ganti. Lalu bersandar lagi di dinding gerbong dan tertidur seperti seekor ayam. Dengan sebuah langkah baru, hal yang dulu tidak bisa dilakukan dapat saya lakukan kini. 

Saya lupa bahwa air tidak hanya bisa mengalir, tapi juga bisa menetes bahkan merembes untuk menuju wadah barunya. Tidak pernah hanya ada satu jalan, selalu tersedia jalan yang lain. Mungkin akan lebih sukit, lebih jauh atau bahkan lebjh gidaj enak. namun selalu ada pilihan, tinggal kita mau atau tidak untuk mencari dan menempuhnya. Seperti yang dibilang seorang penulis dan penyair Jerman Frank Thiess (1890 - 1977), Das Leben Besteht hauptsachlich aus Umwegen. Hidup terutama terdiri dari jalan yang memutar.

---
Belalang Sipit
21/07/2019
Read More