Sunday, March 29, 2020

Tuti Ismail

SAKURA



Cuilan kedua

2. SAKURA

Wanita berusia 44 tahunan itu ibuku. Namanya singkat bukan main, Irma. Ibu bilang dalam Bahasa Jerman berarti kuat. Irma juga  adalah panggilan kesayangan anak perempuan Jerman.

Setelah mengarungi bahtera rumah tangga selama 12 tahun dengan eyang kakung barulah eyang putri mengandung. Pada bulan pertama kehamilan eyang putri, perusahaan tempat eyang kakung bekerja sebagai juru bayar nyaris bangkrut.  Pesaing banting harga. Barang palsu merajalela. Sialnya pemilik perusahaan baru saja memasrahkan pengelolaan perusahaan kepada anak perempuannya. Beatrice - anak pemilik perusahaan - baru saja lulus program master di kampung halaman bapaknya, Jerman. Untunglah gadis pirang bermata biru itu bukan seorang anak perempuan yang cengeng dan manja. Tidak pernah tampak gusar di wajahnya. Pun demikian dengan bapaknya.

Demi menguatkan hati anak gadisnya Tuan Chaddrick - begitu ia biasa dipanggil oleh seluruh karyawannya - hanya mengucap satu mantra untuk anaknya. Ia selalu memanggil anaknya dengan sebutan Irma.

Memasuki bulan kedelapan kehamilan eyang putri perusahaan tempat eyang kakung bekerja kembali berjaya. Bahkan lebih dari sebelumnya. Sehari sebelum kelahiran ibu, eyang kakung naik pangkat menjadi kepala keuangan.

Ibu dengan harap eyang yang melekat padanya tumbuh menjadi wanita yang kuat. Ibu adalah seorang guru les mengetik. Seorang agen asuransi yang piawai. Seorang pengurus PKK paling populer di kampungku. Siapapun lurahnya, sejatinya ibu lah ketua PKK-nya.

-----

Lelaki penyuka warna hijau pemilik hobi berkebun itu adalah bapakku. Tahun depan usianya 47 tahun. Namanya Hikaru Martowidjojo.

"Mata Bapak sipit. Kulit Bapak juga putih. Mirip orang Jepang," aku yang memiliki mata bulat ibuku suatu hari bertanya padanya.
Ia yang sedang asik dengan sekop dan mawar di halaman rumah menjawab sekenanya,"O itu karena saat Mbah Putri hamil sering lihat orang Jepang patroli di kampung."  Bapakku lahir di bulan September 1944, saat Jepang sedang ganas-ganasnya di bumi nusantara.

Sebetulnya bukan cuma kulit dan matanya saja, rambutnya yang lurus juga membuatnya mirip orang Jepang. Terkadang dalam penglihatanku masa kecil aku sering mengira bapakku lah jagoan di film Megaloman dan bukan Yuki Kitazume. Bapakku yang seorang guru sebuah SMA di Bandung itu adalah Takeshi Shishido di dunia kecilku.

Usut punya usut ternyata semua yang
ada pada bapak adalah warisan mbah kakung. Kulit putihnya, mata sipitnya dan juga tubuhnya yang setinggi rata-rata orang asia.

Kini, kepada Mas Pria semua warisan mbah kakung diturunkan. Sementara aku mewarisi mata bundar dan rambut ikal milik ibu. Hanya warna kulitku yang menurun dari Bapak.

Memang, mendengar namanya dan melihat dirinya orang sering salah duga. Dipikir bapak adalah anak peranakan Jepang Jawa. Terlebig tahun kelahiran bapak tidak jauh-jauh dari kedatangan Jepang ke Indonesia. Aku pernah bertanya pada bapak perihal namanya yang keren itu. Dengan malu-malu bapak bilang kalau Hikaru adalah kepanjangan dari Hikam dan Arum. Hikam Noto Martowidjojo adalah nama mbah kakung. Sementara Arumsari adalah nama yang dimiliki oleh mbah putri. Mbak kakung dan mbak putri asli Mertoyudan, Magelang.

Belakangan setelah tumbuh besar aku baru tahu mengapa bapakku tampak begitu mirip dengan Takeshi Shishido sang pembela kebenaran. Mengapa ia selalu  menjadi penerang dan jagoan dalam hidupku. Ternyata  meski mbah kakung dan mbah putri tidak mengerti bahasa dari negeri di mana Sakura bermekaran di musim semi, Hikaru dalam Bahasa Jepang berarti cahaya.

.... Bersambung

#BelalangSipit
#DonatKampung
Ilustrasi oleh Raihan

Tuti Ismail

About Tuti Ismail -

tax officer, a mother