Sunday, February 19, 2017

Tuti Ismail

DURIAN BATANG TARANG




When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it
-    Paulo Coelho, The Alchemist
Dunia rasanya memang telah bersekongkol ketika dalam hati kecil saya ingin sekali makan Durian jatohan langsung dari tempatnya, di Batang Tarang. Meski awalnya keinginan itu hampir sirna karena mobil yang mau membawa kami ke lokasi sudah full, “bisa sih kalo mau dipangku atau duduk di bak belakang ...”. ih tega ..... di detik-detik terakhir “persengkokolan” alam semesta kejadian juga. “yuk ikut, Bella nggak jadi berangkat ... hp nya hilang kemaren, dia lagi berduka sekarang,” calon kawan seperjalanan menyapa saya pagi itu, suaranya kali ini terdengar lebih merdu dari biasannya hehehe. “yuk lah berangkat...” Ah rejeki memang nggak kemana ... sama sekali saya tidak doakan kesulitan bagi orang lain, tapi begitulah jalan kemudahan itu ditentukan bagi seseorang meski jalan itu bisa jadi kesulitan bagi yang lain atau sebaliknya. 

Batang Tarang adalah pusat pemerintahan dari sebuah kecamatan di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat yaitu Kecamatan Balai - Batang Tarang. Dengan mobil double cabin perjalanan dari Kota Pontianak menuju Batang Tarang memakan waktu kurang lebih 3 jam jalan darat. Menyusuri jalan Trans Kalimantan  dan jalan Lintas Kalimantan Poros Selatan yang mulus dan kemudian berbelok ke kiri memasuki jalan Tayan Sosok memang terasa terbangun dari mimpi indah. Lubang besar dan kecil serta aspal yang menangis akibat tergerus air hujan membolak balikkan perut kami yang mulai kelaparan, hari memang telah beranjak siang.  Keberuntungan kecil sebagai pemanis perjalanan kami yang patut disyukuri adalah cuaca yang sangat bersahabat saat itu yang artinya tidak turun hujan. Belum lagi menghabiskan jalan Tayan Sosok kami berhenti di persimpangan. “Sebentar ya saya mau cari kawan untuk antar ke lokasi,” Bang Gumay keluar dari dalam mobil dan menghampiri segerombolan laki-laki sedang yang asik bercengkrama. Seorang kawan Bang Gumay sebagai penunjuk jalan melompat naik ke atas cabin mobil kami.

Desa Padi Kaye dengan nama daerah yang dikenal dengan sebutan Sinto ke sana lah kemudian kami menuju. Perjalanan dari jalan Tayan Sosok menuju lokasi kurang lebih 10 km dengan medan yang lebih berliku-liku dari sebelumnya. Jalan yang semakin menyempit dari semula aspal mulus berganti menjadi jalan tanah  yang bergelombang.
”Minggir dulu Bang Abadi, itu ada mobil di depan kita.”
“Minggir kemana lagi, Fakar?”
“Semak-semak itulah !”
Mobil kami pun menepi ke semak-semak agar kendaraan di depan kami bisa lewat.
“Makasih Bang !”
“Yokkk sama-sama, Bang !”


Sepanjang kurang lebih 10 km pemandangan berganti-ganti mulai dari deretan rumah penduduk dengan parabola besar dan sapi gemuk yang diikat di halaman rumah, semak belukar, sampai pepohonan rimbun yang mirip hutan kecil. Perjalanan kami berakhir di perkampungan kecil dengan deretan rumah yang tidak lebih dari 8 rumah, saya menebak-nebak penghuni 8 rumah itu adalah anak beranak, saudara yang sangat dekat. Kami memarkir mobil di tanah kosong di tengah perkampungan kecil itu.

“Yuk Mila,” saya merangkul gadis 'kecil' yang menyertai saya dalam perjalanan ini.
Kami berenam menyusuri jalan tanah menanjak dengan pohon-pohon gagah tinggi besar yang semula saya kira hutan, tapi ternyata itulah kebun Durian yang akan kami tuju milik keluarga Bang Bona. Bang Bona ini kawan Bang Gumay, Bang Gumay kawan kami jadi Bang Bona mulai hari itu juga jadi kawan kami... hehehe. Seperti penduduk di Batang Tarang yang mayoritas adalah Suku Dayak begitu pula dengan Bang Bona. Kami menjumpai Bang Bona di bedeng kecil di tengah kebun Durian. Tanpa dimulai dengan jabat tangan perkenalan obrolan kami langsung menjadi hangat.

Kebun Durian ini milik keluarga Bang Bona, turun temurun. Entah ada berapa pokok pohon Durian di tempat itu, apa saja jenisnya dan berapa umurnya. Jangan bayangkan kebun di sini seperti kebun Durian seperti di Kebun Durian Warso Farm di Bogor atau di Kebun Mekarsari yang tertata rapi, buat saya kebun Durian Bang Bona malah lebih mirip hutan kecil. Makanya tidak heran kalau di kebun ini juga ada tumbuhan lain selain pohon Durian, seperti pohon Asam Depih. Buah sejenis Mangga yang rasanya asam bukan kepalang. Goyangkan pohonnya, buah sebesar kepalan tangan akan berjatuhan seperi hujan. "Cocoknya buat sambal. Kalau sudah bikin sambal terasi campur Asam Depih ini mertua lewat pun tak tampak," begitu canda Bang Bona selepas memanjat  pohon Asam Depih.


“Durian dari pohon yang itu kurang bagus dibanding yang lain, meski daging buahnya manis tapi bijinya besar dan dagingnya tipis tapi  sayang kalau mau ditebang,” kata Bang Bona sambil menunjuk pokok pohon Durian di sebrang kami. Menurut Bang Bona dulu di belakang kebun keluarganya juga kebun Durian, tapi sayang sekarang sudah dijual oleh pemiliknya dan pemilik baru menebang semua pokok Durian. Kalau saja saat pemiliknya menjual tanahnya itu saya ada uang pasti saya beli. 
 
Saya jadi teringat kisah Durian Condet. Pada masanya daerah Condet, Jakarta Timur adalah daerah yang sangat terkenal bukan hanya dengan Salak Condetnya tetapi juga dengan Duriannya. Menurut penuturan Ibu Megawati Soekarno Putri kepada TribuneNews saat hadir dalam Program Konservasi Tumbuhan Lokal Bantaran Kali Ciliwung (10/11/2013), ketika mendiang Presiden Soekarno masih hidup kerap mengajaknya ke Condet tidak hanya untuk berburu Salak tetapi juga Durian. Sekarang Durian Condet hanya jadi kisah manis dari masa lalu tanpa pernah kita dapat mencicipinya kembali. Tentu saya berharap Durian Batang Tarang tidak bernasib serupa.

Jika tiba waktunya musim Durian seperti di akhir-akhir tahun begini Bang Bona selalu tidur di bedeng, menunggu Durian ‘mateng puun’ yang runtuh karena digoda angin. Keesokan harinya satu persatu Durian dikumpulkan dan dibawa ke rumah. Kadang Durian dibawa sendiri ke pasar terdekat oleh sanak saudara yang lain untuk di jual atau ada juga pembeli yang langsung datang ke lokasi seperti saya dan kawan-kawan. 

“Durian dari kebun ini dijamin bukan Durian hasil petik, tapi Durian ‘jatohan’ masak pohon. Ini dicoba dulu baru jatuh tadi, Tembaga,” kata Bang Bona sambil menyodorkan Durian dengan daging buah berwarna kuning macam Tembaga. Durian jenis ini favorit para penggila Durian, dalam satu buah durian paling hanya ada 5 butir saja. Meski buahnya tidak terlalu besar tetapi daging buahnya tebal, bijinya kecil dan rasanya sangat manis dan legit. Inilah yang menjadi alasan kami jauh-jauh ke Batang Tarang. Kami langsung melahap habis tanpa ampun. 


Kamu boleh percaya atau tidak, menurut saya Bang Bona ini kenal betul dengan dengan masing-masing batang pohon Durian di kebunnya seperti anaknya sendiri. Menurut Bang Bona jangan sekali-sekali memetik Durian dari pohonnya, bisa ngambek dan tidak mau berbuah lagi nanti. Bahkan dimana harus membangun bedengnya pun dilakukan dengan penuh perhitungan dengan mempertimbangkan kemana arah angin biasa berhembus. Durian tidak akan jatuh menimpa atap bedeng, begitu katanya. Penuh perhitungan.

Siang itu tidak banyak Durian yang langsung kami makan di kebun, angin malas sekali berhembus meski Durian yang telah ranum memanggil-manggil minta digoda. Kabar baiknya adalah karena sebelumnya memang sudah mengabarkan akan berkunjung Bang Bona sudah menyiapkan banyak sekali Durian yang bisa kami bawa pulang ke Pontianak. Kalau ada yang bilang kesabaran dan keikhalasan itu akan terasa sangat manis dan legit, kiranya saya dan kawan-kawan seperjalanan telah merasakannya pada gigitan terakhir daging buah Durian Tembaga dari Batang Tarang. Seperti dituturkan Paulo Coelho, jika para penikmat  buah ini mempunyai keinginan yang kuat untuk merasakan terus legitnya  Durian Batang Tarang semoga seluruh alam semesta mendukung untuk mewujudkannya.

--------


Tuti Ismail

About Tuti Ismail -

tax officer, a mother

2 comments

Write comments
January 17, 2019 at 10:44 PM delete

Selamat siang mbak, tulisannya sangat menginsfirasi untuk mencoba durian batang tarang bang bona, saya dari cirebon jawa barat berminat ke sana. Ada kontak nomer hp yg bisa dihubungi ? Terima kasih

Reply
avatar
Unknown
AUTHOR
February 15, 2019 at 3:29 AM delete

Sekarang masih musim kah durian didbatabgtarang

Reply
avatar