Friday, November 9, 2018

Tuti Ismail

Masa Muda Saat Tepat Kenal Pajak

Pajak Bertutur 2018 SMAN 95 Jakart

Ayah saya pernah bilang, "masa muda adalah masa perkenalan. Banyak lah belajar dan bergaul." Hari ini, ketika berdiri di hadapan siswa siswi SMAN 95 Jakarta Barat, saya jadi teringat kepadanya. Mata berbinar yang haus akan ilmu membuat saya rindu padanya.

Pajak bertutur KPP Pratama Kalideres tahun 2018 di selenggarakan di SMAN 95 dan SMAN 95 Jakarta Barat. Seneng sekaligus terharu banget lihat antusias mereka. Menurut saya informasi yang gencar tentang pajak dan buat apa uang pajak sudah dipahami oleh generasi Y, calon pahlawan masa depan ini.

Demi kemandirian bangsa dan negara, tidak ada hal yang lebih baik dibandingkan terus menerus berupaya untuk mampu membiayai pengeluaran negara yang semakin meningkat dari waktu ke waktu utamanya melalui pajak. Hal ini dapat dipahami mengingat dari tahun ke tahun postur penerimaan APBN lebih dari 80% ditopang oleh penerimaan dari perpajakan. Dalam  RAPBN 2019 pendapatan negara diproyeksikan sebesar Rp2142,5 triliun, dengan  penerimaan perpajakan memegang porsi terbesar yang  diproyeksikan mencapai Rp1.781,0, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp361,1 triliun dan Hibah sebesar Rp0,4 triliun. Angka-angka tersebut meningkat 16,6% dari penerimaan perpajakan dalam outlook APBN 2018.

Inklusi Kesadaran Pajak adalah investasi jangka panjang.  Kampanye Program Inklusi Kesadaran Pajak dalam Pendidikan, diharapkan mampu mewujudkan generasi Emas Indonesia 2045 yang Cerdas dan Sadar Pajak. Sejak dini generasi muda, pemilik masa depan harus diberikan pemahaman bahwa untuk menjadi pahlawan bangsa tidak melulu diartikan dengan memanggul  senjata. Dengan membayar pajak, sejatinya kita semua adalah pahlawan. Jika pembayar pajak yang saat ini bahu membiayai negara melalui pajak yang mereka bayar adalah pahlawan masa kini, mereka adalah pahlawan masa depan. 

Tercatat sebanyak 100 siswa antusias mengikuti acara yang dikemas secara interaktif. Kekinian. Sampai-sampai saya dipanggil kakak (yang ini memang maunya haha). Kuis kahoot, dan penampilan dari para siswa mulai dari stand up comedy dan jugling (atraksi dribel bola) mewarnai acara yang diselenggarakan hampir 2,5 jam tadi.


Yang paling menakjubkan adalah ketika sesi tanya jawab. Kamu tahu pertanyaan apa yang ajukan salah seorang siswa tadi ? Saya takjub banget. Gini pertanyaannya, "bagaimana pengenaan pajak di wilayah eksteritorial, seperti  kedutaan Indonesia di negara lain atau sebaliknya ?" (maksud mereka adalah pengenaan Pajak Penghasilannya).

Jujur saja pertanyaan ini adalah mata kuliah saya waktu ambil S2 kebijakan Perpajakan dul, Pajak Internasional.

Apa yang dimaksud dengan  wilayah eksteritorial itu ?

Wilayah Ekstrateritorial adalah suatu wilayah atau daerah karena ketetapan hukum internasional, maka dianggap sebagai wilayah atau bagian wilayah dari suatu Negara. Daerah ekstrateritorial merupakan daerah yang menurut kebiasaan internasional diakui sebagai suatu daerah kekuasaan suatu negara walaupun daerah tersebut berada dalam wilayah kekuasaan negara lain.

Berdasarkan kesepakatan internasional yang berlaku resiprokal pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama dengan mereka dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima  atau memperoleh penghasilan di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut dikecualikan sebagai Subjek Pajak Pernghasilan sepanjang negara bersangkutan memberlakukan perlakuan timbal balik. Ketentuan ini bisa kita lihat di Pasal 3 ayat (1) huruf b UU PPh.

Mereka manggut-mangut. Saya yakin mereka paham. Keren kan ?

Saya sih nggak terlalu heran kenapa para siswa ini bisa begitu keren. Di balik murid yang keren, pasti ada guru-guru yang lebih keren. Seorang guru bertanya pada kami waktu tempo hari, kurang lebih bilang begini,"Kami kan sudah ijinkan acara Pajak Bertutur di sekolah ini, kalo boleh tahu kira-kira kontribusi apa yang bisa Ibu berikan kepada kami ?" Mata saya menyala seperti mengeluarkan bola api. Tapi lantas padam bak disiram air seember ketika kemudian guru  itu melanjutkan bicaranya,"kami berharap kantor pajak bisa berkontribusi dengan cara berbagi ilmu tentang pajak kepada kami para guru. Biar bukan cuma anak didik saja yang paham pajak. Kami ingin diajari cara mengisi SPT Tahunan."

Saya dan beberapa teman yang datang saat itu langsung bilang siap. Memang Pajak Penghasilan para guru telah dipotong oleh bendahara, tetapi sebagai Wajib Pajak Orang Pribadi  mempunyai kewajiban untuk melapor pengahsilan serta  pajak yang telah dibayar melalui SPT Tahunan. Sebagai pegawai pajak apalagi yang lebih menggembirakan dibanding mendapati wajib pajak yang berkeinginan untuk tahu lebih jauh tentang pajak.


Permainan yang mengandalkan kecepatan dan ketepatan menjawab mengakhiri perjumpaan kami tadi pagi. Meski raga sebenarnya enggan berpisah. Kuis kahoot jadi penghibur. Berikut manfaat pajak, kecuali untuk ?
a. Bangun tidur
b. Bangun sekolah
c. Bangun rumah sakit
d. Bangun jembatan

Eh ada juga yang karena terburu-buru menjawab, "Bangun tidur". Sebelumnya ada  yang silap jawab juara tunggal putra badminton di Asian Games 2018 itu Jojo Suherman. 😂😂



Kalideres (9/11)






Tuti Ismail

About Tuti Ismail -

tax officer, a mother