Thursday, April 20, 2017

Tuti Ismail

KARTINI BUKAN CUMA KEBAYA (2)


Banyak yang tidak tahu termasuk saya pada mulanya mengenai peran Kartini dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Meskipun permintaannya kepada Kyai Sholeh Darat untuk menterjemahkan Al Qur'an ke dalam bahasa yang ia pahami didasarkan pada kegelisahannya pribadi yang begitu memahami Al Qur'an, tetapi manfaat tersebut kiranya menjadi pembuka kesempatan umat Islam pada masa itu memahami kitab sucinya, pedoman hidupnya.

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Alquran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.

Huruf Pegon adalah huruf Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa juga Bahasa Sunda. Kata Pegon konon berasal dari bahasa Jawa p├ęgo yang berarti menyimpang. Sebab bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak lazim.
==========================

Kiai Sholeh Darat banyak menulis kitab dengan menggunakan bahasa 'pegon'. Bahkan dia lah pelopor penulisan buku-buku agama dalam bahasa Jawa. Ia pula yang menterjemahkan Al Qur'an yakni kitab Faid ar-Rahman yang merupakan tafsir pertama di Nusantara yang ditulis dengan huruf 'Pegon', terjemahan Al Qur'an dalam aneka versi bahasa, bahkan hal asing lagi sekarang. Tapi tidak di era akhir tahun 1800-an. Penjajah Belanda tidak melarang orang mempelajari Al Qur'an, asal jangan diterjemahkan.

Tapi ia tidak kehabisan akal, ia menulis dengan menggunakan Arab-Jawa atau 'pegon' sehingga tidak diketahui oleh Belanda. Kitab inilah yang ia hadiahkan kepada R.A. Kartini sebagai kado pernikahannya dengan R.M. Joyodiningrat yang menjabat sebagai bupati Rembang. Kartini sungguh girang menerima hadiah itu. "Selama ini surat Al Fatihah gelap bagi saya, saya tidak mengerti sedikit pun maknanya, tetapi sejak saat ini ia menjadi terang benderang sampai pada makna yang tersirat sekali pun, karena Romo Kiai menjelaskannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami" demikian Kartini berujar saat ia mengikuti pengajian Sholeh Darat di pendopo Kesultanan Demak,

Novel Biografi KH. Hasyim Asy'ari, Penakluk Badai karya Aguk Irawan MN, halaman 88 -89.

Terjemahan Al Qur'an oleh Kyai Sholeh Darat menggunakan huruf pegon mulai dari Surat Al Fatihah hingga Surat Ibrahim.
Maka tidak heran jika kemudian setelah begitu girangnya menerima hadiah  terjemahan Al Qur'an dalam bahasa yang dipahaminya hingga menjadi terang, dalam banyak suratnya kepada Abendanon,  Kartini banyak mengulang kata “Dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda: “Door Duisternis Toot Licht.”   Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual, hingga dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis:

"Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah."

Tuti Ismail

About Tuti Ismail -

tax officer, a mother