Monday, October 30, 2017

Tuti Ismail

Relawan, Menyingkap Cakrawala Tunjuk Banyak Bintang

Relawan Kemenkeu Mengajar 2 Pontianak

Hidup untuk memberi sebanyak-banyaknya dan bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.
                                                                                (Mr. Harfan, Film Laskar Pelangi, 2008)
Seorang anak laki-laki mengangkat tangannya tinggi-tinggi ketika seorang relawan pengajar dengan setengah berteriak bertanya,”ayo siapa yang kalau sudah besar ingin jadi polisi ?”. Dengan suara yang sama lantangnya bocah cilik itu menjawab, “saya, Kak !”. Kawan saya itu mengacungkan ibu jarinya, “Bagus, Dek ! Kalau polisi seragamnya warna apa ya ?”. Si bocah tanpa ragu-ragu menjawab,”hijau !” Kawan saya langsung tertegun. Kaget tentunya. Polisi adalah sebuah profesi yang sangat populer di kalangan anak-anak. Jadi, bagaimana mungkin seorang anak di Sekolah Dasar (SD) tidak bisa membedakan antara polisi dan tentara.  Meskipun sama gagahnya, atribut yang mereka kenakan jelas berbeda bukan ?
Cerita tadi adalah pengalaman kawan saya yang pernah menjadi relawan mengajar pada program sosial lain, di sebuah desa kecil di Kalimantan Barat. Kejadian dua tahun lalu masih terus terbayang-bayang. Kejadian itu menjadi salah satu alasan kuat kawan saya tadi untuk kemudian turut serta menjadi salah satu relawan dalam Kemenkeu Mengajar 1 tahun lalu. Alasan yang sama membuat saya semakin bertekad kuat untuk ikut serta di Kemenkeu Mengajar 2 tahun ini.
---
Kemenkeu Mengajar dalam kegiatan kerelawanannya hadir menyapa anak-anak didik  SD. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian untuk memperingati Hari Oeang yang dimaksudkan untuk berbagi inspirasi ke seluruh penjuru negeri dengan materi yang disampaikan seputar tugas, pokok dan fungsi yang diembannya. Kemenkeu Mengajar tahun 2017 yang akan diselenggarakan serentak pada tanggal 23 Oktober 2017 di 53 kota/kabupaten yang tersebar di 29 provinsi di Indonesia dengan jumlah relawan 1624 orang. Jumlah ini meningkat luar biasa dari Kemenkeu Mengajar 1 tahun 2016. Dahulu, kegiatan serupa  diselenggarakan terbatas di enam kota di Indonesia, yaitu Jakarta, Balikpapan, Makassar, Banda Aceh, Denpasar dan Sorong dengan melibatkan 35 SD dan 600 relawan. Unsur kerelawanan tidak hanya pada waktu yang disediakan oleh  pegawai, tetapi juga ada pendanaan mengingat kegiatan ini sepenuhnya tidak dibebankan pada APBN. 

Perkembangan seorang manusia ibarat sebuah anak tangga. Usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age) sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian bahkan menunjukkan bahwa sekitar lima puluh persen variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia empat tahun. Perkembangan paling pesat berkaitan dengan kemampuan kognitif anak terjadi pada saat anak mulai masuk sekolah dasar (usia 6 – 7 tahun). Kemampuan ini akan berkembang konstan selama masa belajar dan mencapai puncaknya pada masa sekolah menengah atas. 

Perkembangan kognitif diawali dengan perkembangan kemampuan mengamati, melihat hubungan dan memecahkan masalah sederhana. Maka meletakkan dasar yang kuat pada anak tangga paling dasar, yaitu pada usia dini akan merangsang anak untuk berkembang maksimal. Pentingnya pendidikan dasar pada seorang anak menjadikannya sebagai salah satu hak dasar manusia. Tidak hanya tertuang dalam Pasal 31 UUD 1945 Amandemen, hak tersebut juga tertuang dalam The Education Imerative: Supporting Education in Emergencies. Dokumen tersebut diterbitkan oleh Academy for Educational Development (Washington D.C) dan Women’s Commission for Refugee Women and Children (New York) Tahun 2002 (Ahmad Baedowi, 2012:19).  Diharapkan dengan pendidikan dasar yang baik  akan  membentuk manusia yang ber-IQ (Intellegence Quotient) plus juga mempunyai Emotional Quotient (EQ) yang membanggakan.  

Sebuah kisah tokoh sukses Thomas Alva Edison, seorang penemu dari Amerika dan merupakan satu dari penemu terbesar sepanjang sejarah dapat menjadi tempat kita untuk bercermin.  Selama karirnya, Thomas Alva Edison telah mempatenkan sekitar dari 1.093 hasil penemuannya, termasuk bola lampu listrik dan gramophone, juga kamera film. Pada usia 12 tahun Edison hampir mengalami kehilangan seluruh pendengaran karena penyakit yang dideritanya, penyakit itu membuatnya menjadi setengah tuli. Namun ibunya terus menyemangatinya. Dimasa kecilnya, Edison hanya bersekolah di sekolah yang resmi selama tiga bulan, selanjutnya semua pendidikannya diperoleh dari ibunya yang mengajar Edison di rumah. Ibu Edison mengajarkan Edison cara membaca, menulis, dan matematika. Dia juga sering memberi dan membacakan buku-buku bagi Edison, antara lain buku-buku yang berasal dari penulis seperti Edward Gibbon, William Shakespeare dan Charles Dickens. Edison mulai bekerja pada usia yang sangat muda dan terus bekerja hingga akhir hayatnya. Pada tahun 1868, di usia 21 tahun, dia telah mengembangkan dan mempatentkan penemuannya yang berupa sebuah mesin yang merekam telegraph.
 

Kemenkeu Mengajar 2 Pontianak di SDN 45 Kampung Baru

Memperkenalkan sebuah profesi atau pekerjaan adalah sebuah pendidikan karakter yang penting bagi seorang anak. Tidak heran jika kemudian materi tentang profesi menjadi salah satu bahan ajar di kelas tiga SD, yaitu pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Materi yang disampaikan mulai dari memperkenalkan profesi yang telah populer di masyarakat maupun yang belum, seperti apa yang dilakukan orang yang menjalani profesi tersebut atau atribut (seragam) yang digunakan. Profesi yang nantinya dapat menjadi sandaran hidup sangat banyak, tidak hanya menjadi polisi, tentara atau guru. Banyak profesi baru yang sedang cukup menjanjikan, misalkan menjadi seorang penulis atau bahkan yang sedang populer seperti youtuber.
Pada level selanjutnya yang tidak boleh dilewatkan adalah memberi pemahaman pada para anak didik bahwa profesi dimaksud juga mempunyai fungsi. Memperkenalkan beragam profesi kepada seorang anak ibarat membuka cakrawala, membantu mereka untuk menemukan banyak bintang di langit. Seorang anak harus memiliki mimpi yang akan digantungkan di salah satu bintang itu, ia bisa menjadi apa saja yang dia inginkan. Bukankah tugas orang tua adalah memberi terang jalan seorang anak ?  
Kementerian Keuangan adalah sebuah institusi yang diamanatkan untuk mengelola keuangan negara. Baik dan buruknya keuangan negara bersandar di pundaknya. Sebagai pengelola keuangan negara digawangi oleh sebelas unit eselon I. Meski semua tugas dan fungsi unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan akan bermuara pada pengelolaan keuangan negara, namun mempunyai karakter yang berbeda-beda sebut saja salah satunya yaitu Ditjen Pajak. Unit eselon I ini mempunyai tugas utama untuk melakukan pemungutan pajak. Lain lagi ceritanya dengan Ditjen  Kekayaan Negara yang mempunyai tugas pokok merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang kekayaan negara, piutang negara dan lelang. Tugas sedemikian besar sudah barang tentu memerlukan sumber daya yang mumpuni. Bisa jadi salah satu dari anak-anak di kelas-kelas inspirasi Kemenkeu Mengajar kelak akan menjadi Menteri Keuangan RI. Jika benar demikian, bukankah para relawan menjadi salah satu lentera yang menerangi jalan hidup mereka ?
----

Belalang Sipit
Pontianak
30/10/2017


Tuti Ismail

About Tuti Ismail -

tax officer, a mother

2 comments

Write comments