Friday, April 24, 2020

Tuti Ismail

Saya Ingat Ibumu


"Kamu buka puasa pakai apa? Ini Ibu bikin lontong dan bakwan,. Ambil!" dengan mata berkaca seorang ibu memberikan dua kantong makanan kepada seorang wanita. Seperti pesannya makanan itu menjadi hidangan buka puasa si wanita dan tiga orang anak lelakinya.

Hei, wanita yang menerima sekantong bakwan dan lontong itu adalah saya. Kamu pasti sama ingin tahunya dengan saya, mengapa Ibu itu matanya berkaca-kaca saat memberi makanan untuk saya? Baiklah akan saya ceritakan kejadiaan tadi sore.

***

Hari ini adalah hari pertama puasa Ramadan. Ramadan kedua saya setelah empat kali sebelumnya di Kota Pontianak. Tahun ini saat Pebruari genap 28 hari. Tahun 2020.

Tadi sore kira-kira pukul 16.00 wib  seorang ibu berdiri di ruang dapur rumah saya. Mengagetkan. Tubuhnya yang mungil dengan daster batik berwarna merah dan jilbab senada mematung di dapur rumah saya. Haikal, si anak tengah yang sedang asing bermain game terperanjat,"astaghfirullah. Kaget."

"Kal, Mama ada?" tanya si ibu.

"Ma, ada Bu Eron," si anak tengah menghampiri saya. Waktu itu saya sedang berada di dalam kamar bersama laptop kesayangan.

"Ya, sebentar mama kirim ulang tugas kantor dulu," jawab saya sambil menyelesaikan tugas kantor. Sebetulnya tadi siang tugas telah saya kirim. Apa daya karena kurang lengkap tugas mesti mengirim kembali.

"Sebentar ya, Bu. Mama lagi mau kirim tugas kantor dulu katanya," Haikal mengulang perkataan saya. Hari ini saya bekerja dari rumah. Ada tugas membuat laporan Pelaksanaan Rencana  Keberlangsungan  Layanan (Business Continuity Plan). Maklum, kantor saya berhubungan dengan pelayanan publik dituntut. Jadi, meski dalam keadaan pandemi begini tetap harus memberi  pelayanan yang optimal.

Saya bergegas keluar kamar. Melihat saya dia langsung menyodorkan makanan yang dibawanya.

Adalah Bu Eron, tetangga saya. Sahabat kental ibu saya. Sejak tahun lalu saya tahu, rupanya saya kerap jadi bahan pembicaraan dua sahabat itu. Bu Eron bilang saat Ramadan tiba Ibu suka bercerita kalau saya paling suka buka puasa dengan kudapan lontong dan bakwan disiram bumbu kacang. "Waktu kamu kecil paling suka," katanya sambil menggenggam erat tangan saya.

Kejadian begini bukan pertama kali. Tahun lalu, sehari jelang lebaran Bu Eron tiba-tiba juga muncul di rumah saya. Dia membawa satu toples kacang bawang buatannya. Toples plastik bermerek Biggy yang jadi wadah kacang bawang diikat dua buah karet gelang. Bagian alasnya pecah. Membentuk garis panjang nyaris melintang membelah toples. Kalimatnya sama dengan yang dia ucap hari ini,"Ibumu bilang kamu paling suka kacang bawang. Ini saya sudah lebihkan irisan bawang putihnya."

Sumpah, kejadian-kejadian itu membuat saya jadi kikuk. Saya ini sudah 45 tahun. Sudah
jadi ibu tiga anak. Bukan gadis kecil dengan rambut ekor kuda lagi. Sungguh saya mati gaya. Tiap kali Bu Eron datang selalu bawa-bawa nama ibu saya. Tidak tahan rasanya menahan hawa rindu pada ibu.  Kedua mata saya mendadak panas.  Rindu saya seperti rindu seorang hamba mendengar azan Maghrib saat sedang berpuasa. Rindu yang membuat saya tidak juga sanggup membongkar isi lemari Ibu. Padahal sudah dua tahun yang lalu ibu pergi. Gamis,  jilbab dan mukenanya masih tertata rapi di sana.

Saya halau rasa sendu. Dua jam lagi azan Maghrib berkumandang. Harusnya saya orang yang paling bergembira, bukan? Saya mengucapkan terima kasih kepadanya dan memuji betapa rajinnya ia.

Dalam benak terbersit juga saya dan Bu Eron  seperti dua orang yang sedang berbalas pantun saja. Kemarin saya memberinya beberapa potong ayam ungkep. Hari ini ia datang dengan dua kantong makanan.

"Saya ingat Ibumu. ibumu orang baik. Semasa hidup kalau punya makanan paling ingat sama saya," lanjutnya lagi. Terlihat betul dia mencoba menghalau rasa rindunya pada Ibu.

Sejujurnya saya jadi malu mendengar ucapnya. Ternyata dia datang bukan lantaran pemberian saya tempo hari.

Entahlah, terkadang jika ada seseorang berbuat baik, saya sering berpikir bahwa itu semata adalah balasan dari perbuatan baik saya padanya. Rupanya saya keliru berat. Betapa pongahnya saya. Mengapa bisa-bisanya merasa paling banyak amalnya. Padahal orang lain yang justru belebih-lebih amalnya.

Hari ini saya tersadar karena bisa jadi hal baik yang saya terima selama ini adalah akibat dari perbuatan baik yang dilakukan kedua orang tua. Perbuatan diam-diam yang bahkan saya sebagai anaknya pun tidak tahu. Ibarat kata ibu saya yang menanam benih pohon jati sejak dulu. Merawatnya. Menyiraminya saban hari. Lantas bertahun kemudian saya yang membuatnya jadi kaso, kusen pintu dan jendela rumah tempat  saya tinggal.

-----

Belalang Sipit
24042020
#CeritaRamadan2020

Tuti Ismail

About Tuti Ismail -

tax officer, a mother