Saturday, August 6, 2016

Tuti Ismail

AMNESTI PAJAK, SAATNYA UNTUK KEMBALI ...

                      
Sosialisasi Amnesti Pajak - JIExpo Kemayoran (1/8/2016)
SAYA ada disana hari itu .... duduk ngampar  di lantai stadion GOR Pajajaran Bandung, bersorak sorai dengan ratusan anak-anak muda, merasakan perasaan yang tak terlukiskan hari itu....  ingin rasanya bergegas lari ke tengah lapangan begitu  butiran-butiran bening yang menetes dari kening anak-anak muda atletis yang piawai mendrible bola basket itu ... menyekanya dengan tissu yang saya kuwel kuwel sejak tadi. Saya bahkan rela berbagi dengan mereka, satu-satunya sebetol air mineral yang saya bawa siang itu. "Anak jurusan apa, kok nggak pernah liat di kampus ?" kata cowok berjaket di samping saya kala itu <jaket kebanggan salah satu jurusan di ITB>. Saya cuma nyengirrr ... lah mau jawab apa ??? teknik akuntansi ??? bisa ngakak guling-guling nanti penonton sestadion. Hari itu pertandingan bola basket antara ITB dan sebuah universitas swasta terkenal di Surabaya. 

Perasaan sembilan belas tahun yang lalu itu hadir lagi hari itu ... meski nggak ada lagi cowok ganteng berjaket di samping saya <ahaayy>. Sepuluh ribuan orang duduk manis hari itu memadati ruangan di JIExpo Kemayoran tanggal 1 Agustus 2016 <dan kurlep dua ribuan lainnya yang tidak dapat masuk ruangan>, tak pandang dia pengusaha meski acara digagas oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia <contohnya saya>. Hari itu kami dipersatukan oleh keingintahuan yang mendalam,  mendengar langsung pemimpin kami menjelaskan untuk siapa dan apa itu AMNESTI PAJAK ... mendengar komitmennya atas program ini.


Penyesalan saya hari itu adalah mengapa mesti duduk di deretan ini, mestinya saya memilih duduk di jajaran yang lurus dengan panggung... mestinya .... tepat pukul 14.10 wib <lirik jam tangan> Pak Jokowi dan rombongan   memasuki ruangan. Suara bak tawon arisan dari kami yang sedari tadi menunggu berganti menjadi suara tepuk tangan ... Lelaki itu jalan bergegas, bukan menaiki panggung dan duduk ditempat yang disediakan, apalagi langsung menuju podium ... tapi ia berjalan menuju sebagian dari kami yang duduk pada jajaran yang lurus dengan panggung. Menyalami satu persatu tangan-tangan yang disodorkan padanya, berbincang-bincang dengan mereka ... tertawa bersama ... <ah bikin iri aja>


Dia yang lebih faseh bicara tentang  Amnesti Pajak ketimbang saya yang orang pajak ... <malu sekali> Dia yang penuh kasih memberi tahu mengapa perlu mengikuti program ini ... pada saya dan pada mereka juga pada kalian semua ... <persis seperti telah saya kisahkan pada tulisan http://www.tutiismail.com/2016/07/sudah-ku-bilang.html>


Bapak di depan saya sibuk mengambil foto dari handphone nya ... cekrek .. cekrek ..."peristiwa ini nggak akan terulang lagi. Amnesti Pajak kabarnya hanya sekali. Ayo ambil gambar lagi, buat kenang-kenangan !" katanya sambil colek colek anak muda yang duduk di sampingnya. Ya pak, bapak benar .... Amnesti Pajak ini yang terakhir, tak akan terulang lagi ....



              ----------------

.... dan saya yang ada di sana hari itu pun kembali beradu pandang dengan sepasang mata yang pernah saya lihat sembilan tahun yang lalu di Lapangan Banteng, kala dirinya berjalan dengan anggun dengan kebaya putih dan kain sutra berwarna biru. Masih dengan pancaran yang sama, pancaran mata orang baik .... 


Ditinjau dari etimologinya, "motivasi" berasal dari kata Latin motivus atau motum yang berarti menggerakkan atau memindahkan. Dari asal usul kata ini, Lorens Bagus, dalam Kamus Filsafat, mengartikan motivasi atau motif sebagai dorongan sadar dari suatu tindakan untuk merumuskan kebutuhan-kebutuhan tertentu manusia. Menurut Stephen P. Robbins, motivasi adalah "proses yang ikut menentukan intensitas, arah dan ketekunan individu dalam usaha mencapai sasaran". Maslow mengembangkan teori tentang bagaimana semua motivasi saling berkaitan.

Dr. Abraham Maslow, dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tanggal 1 April 1908. Maslow menjadi pelopor aliran humanis psikologi yang terbentuk pada sekitar tahun 1950 hingga 1960-an. Pada masa ini, ia dikenal sebagai "kekuatan ke tiga" di samping teori Freud dan behaviorisme. Malow percaya bahwa manusia tergerak untuk  memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs atau Hirarki Kebutuhan. Teori Maslow mengenal lima tingkat dasar kebutuhan yang lebih rendah (biogenis) ke tingkat kebutuhan yang lebih tinggi (psikogenis), mulai dari kebutuhan fisiologis atau dasar, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, kebutuhan untuk dihargai dan kebutuhan untuk aktualisas diri.

Teori tersebut mengatakan bahwa individu akan berusaha memenuhi kebutuhan kebutuhan yang lebih rendah sebelum timbul tingkat yang lebih tinggi. Psikolog humanis percaya bahwa setiap orang memiliki keinginan yang kuat untuk merealisasikan potensi potensi dalam dirinya, untuk mencapai tingkat aktualisasi diri. Orang yang terpenuhi kebutuhan akan harga diri akan tampil sebagai orang yang percaya diri, tidak tergantung pada orang lain dan selalu siap untuk berkembang terus untuk selanjutnya meraih kebutuhan yang tertinggi yaitu aktualisasi diri (self actualization).

Menerka apa yang melatarbelakangi keputusan Ibu Sri Mulyani meninggalkan jabatan bergensinya sebagai Managing Director World Bank, dan rela menukar 8 Milyar/tahun pendapatannya dengan 228 juta/tahun, mungkin begitulah kisahnya ia telah mencapai level tertinggi dimana kebahagian bukan lagi terpusat pada dirinya sendiri ... kebahagian terletak pada keinginan  kembali untuk mengabdi ... 

"Assalamuallaikum warrohmatullahi wabarokatuh ... Bapak Jokowi yang saya hormati dan Ibu Sri Mulyani yang saya rindukan..." bergetar suara ibu berkerudung corak putih hitam itu mengawali pertanyaannya siang itu.

aaaahhhh ibu ... orang baik memang selalu dirindukan ... tidak jadi soal jika sekarang kamu menjadi "orang baik" yang ada di tepian ... karena sejatinya orang baik akan tetap dilabeli sebagai orang baik meski tak lagi berada di pusaran ... kalian tetap selalu diridukan.

Buat saya yang ada di sana pada hari itu, Sri Mulyani adalah representasi nyata dari makna "kembali dan kesetiaan" merpati emas origami pada logo Amnesti Pajak .... representasi bahwa pengobanan atas nama cinta adalah sesuatu yang nyata. 

Maka kembalilah pada semerbak wangi tanah negeri mu yang menyeruak selepas hujan ... pada  semilir angin yang berhembus di tepian sungai sungainya ... pada gelegar petir di musim hujan yang memekakkan telinga ...   pada cinta yang tlah kau tinggalkan ... pada lambaian tangannya yang memanggilmu untuk kembali ...

..... dan siang itu diakhiri dengan perasaan yang sama dengan sembilan belas tahun yang lalu ....
  
Meski saya bukan anak ITB, tapi saya kan tinggal di Bandung waktu itu .... meski saya bukan anak ITB, tapi saya anak kuliahan juga ... di Unpad pula  <ekstensi sih hehehe> saya rasanya punya perasaan yang sama dengan cowok ganteng di sebelah saya itu ... perasaan senang, haru, patriotik,  dan bangga ... sebagai orang yang sama-sama tinggal di Bandung.


#kepakkansayapmu

#funtax



Tuti Ismail 

6 Agustus 2016
Masih dari tempat yang sama, sudut Pontianak yang hangat






              

Tuti Ismail

About Tuti Ismail -

tax officer, a mother

1 comments :

Write comments
August 7, 2016 at 5:00 PM delete

Jadi siapa sbnrnya cowok ganteng itu?? *salahfokus.. 😅😅😅

Reply
avatar