Thursday, October 14, 2021
Thursday, September 23, 2021
Pajak Ayam Pop
---
Belalang Sipit
Jakarta (02/09/2021)
#IniAyamPop #BesokOrderLagi #PetualanganAyamPop #BerubahButuhKita
Belanja di Warung Sendiri
Pada pertengahan tahun 80-an Bapak membeli sebuah rumah di depan rumah lama kami. Sebuah warung kecil di garasi rumah baru beroperasi setahun setelahnya.
---
Jakarta (20/9/2021)
#IniAyamPop #BesokOrderLagi
Membangun Reputasi
---
Jakarta (24/09/2021)
#IniAyamPop #BesokOrderLagi
Kembali Ke Dapur
Hari ini Sabtu (28/09/2021) tepat satu minggu saya memberanikan diri menerima pesanan Ayam Pop. Seperti de javu rasanya. Samar-samar saya seperti melihat diri saya yang dulu lagi. Kiranya kelok dalam perjalanan hidup lebih berliku dibanding Kelok Sembilan.
Sekitar tahun 2002 saban lebaran saya menerima pesanan kue kering, macam nastar, kastengel, sagu keju dan kawan-kawannya. Untuk memperlancar usaha sebuah oven gas berukuran 1 meter sengaja saya beli. Saya masih ingat oven itu saya beli di daerah Cawang. Harganya tidak lebih dari Rp800 ribu rupiah, lengkap dengan pengatur suhu dan api atas bawah.
Sebetulnya bisnis saya saat itu bermula dari membuat praline (coklat yang dicetak dengan beragam bentuk dan isi). Mungkin karena saat itu produk praline sesuatu hal yang baru-setidaknya di lingkungan pergaulan saya- dagangan saya laku keras. Singkat cerita dari permintaan pelanggan akhirnya produksi praline itu merambat ke bisnis kue kering.
Saya tentu tidak mengerjakannya sendirian. Ibu-ibu tetangga kanan kiri dengan suka hati membantu. "Lumayan. Hitung-hitung dapat THR untuk lebaran," begitu kata mereka.
Dengan telaten saya ajari mereka cara mencairkan coklat batangan, mencetak dan mengemasnya hingga terlihat menarik. Karena dasarnya sudah biasa ke dapur tidak sulit bagi saya untuk memberi pengertian pada mereka bahwa adonan nastar tidak boleh kelamaan diaduk.
Kala itu rumah seperti pabrik kue. Berblok-blok coklat batangan dan berbal terigu serta berdus toples kue memenuhi rumah. Harum butter merek Anchor tercium sepanjang waktu.
Namun sayang, setelah tahun 2008 oven saya dingin seperti malam di Kota Magelang. Hingga akhirnya karena tidak pernah dipakai, sementara dilego pun rasanya masih cinta kira-kira empat tahun lalu oven saya berikan kepada seorang teman. Saat itu mantap dia bilang ingin memulai bisnis serupa.
Saya mencoba mengingat lagi apa sebab waktu itu poduksi terhenti. Ah jangankan ingat apa sebab produksi terhenti, ingatan saya seperti sumbu kompor yang terbakar. Makin lama semakin pendek saja rasanya. Kini resep kue kering andalan tak ada satu pun yang diingat. Yang saya ingat jelas adalah kesedihan para tetangga,"sayang sekali, Tut!".
Jadi, jika sekarang saya memberanikan diri menerima pesanan Ayam Pop dan menuliskan kisahnya di sini semata karena ingin membantu diri sendiri. Konon di samping menulis adalah obat, menulis juga bisa jadi berkat.
----
Jakarta (28/09/2021)
#IniAyamPop #BesokOrderLagi
Saturday, June 13, 2020
[Jangan] Bertengkar!
Pada tahun 2012 selama 15 hari 40 karya Raden Saleh yang sangat legendaris itu hadir menyapa tanah leluhurnya, tepat di 200 tahun kelahirannya. Galeri Nasional Indonesia, Jakarta pada tanggal 3 - 17 Juni 2012 menjadi saksinya.
Adalah Goethe - Institut bersama Kedutaan Besar Jerman serta Galeri Nasional Indonesia dan tentu saja berkat seijin Tuhan Yang Maha Esa perhelatan langka itu berhasil diwujudkan. "Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia" begitu tema yang dipilih.
Raden Saleh seorang pelukis besar tanah air. Karya-karya besarnya memberi warna kebaharuan dalam perkembangan seni lukis. Karenanya tidak heran jika dalam bidang yang satu ini Raden Saleh dijuluki "Bapak Modernitas Jawa". Dua karyanya yang saya ingat hingga kini "Penangkapan Diponegoro" dan "Perkelahian Dengan Singa", sebab lama saya dan anak-anak mematung di depan kedua lukisan itu. Sama betahnya dengan ketika melihat tiap bagian film dokumenter Raden Saleh yang diputar di sebuah ruangan belakang Galeri Nasional. Kami jadi tahu, tidak hanya lukisan, gedung yang sekarang dipakai sebagai RS Cikini pun adalah peninggalan Raden Saleh. Tepatnya bekas peninggalan sang maestro.
Saya ingat, kami sekeluarga datang di penghujung pameran pada tanggal 17 Juni 2012. Saat itu hari Minggu. Dari rumah suami merahasiakan tempat tujuan kami. Tanpa dinyana tempat itu adalah Galeri Nasional. Hari ini akan menjadi pengalaman pertama bagi mereka melihat pameran lukisan. Pun begitu dengan saya. Jika kamu berkenan saya membeberkan sebuah rahasia, kali itu juga jadi yang pertama bagi saya menginjakkan kaki di Galeri Nasional.
Kamu mungkin akan berpikir betapa hebatnya kami sebagai orang tua yang menyengaja mengajak mereka ke sebuah pameran lukisan. Ah sebaiknya jangan dulu berprasangka begitu. Lagi pula ini semua bukan ide saya.
"Hei, Mbak lagi di mana?" suara sahabat menyapa saya di telepon.
"Lagi di Geleri Nasional sama anak-anak," jawab saya.
"Ngapain?" tanyanya.
"Lihat pameran lukisan Raden Saleh," saya rasa untuk wanita dengan wawasan luas seperti dia saya tidak perlu lagi jelaskan siapa Raden Saleh. Saya pun tidak meninggikan suara seperti kala ingin menyombongkan diri kepadanya. Malah saya setengah berbisik saat itu.
"Wah gaya banget. Keren! Ngerti lukisan?" tawanya berderai mendengar jawaban saya. Dia tahu betul saya tidak paham lukisan. Bagi saya semua lukisan bagus. Indah. Menakjubkan. Ada dua sebab, saya adalah pengikut Tino Sidin dan kedua karena tidak pandai melukis. Jadi saya merasa begitu tidak sopan dan tidak punya alasan untuk mengatakan lukisan orang lain tidak bagus. Namun tetap saja terdengar aneh, kalau saya yang menggambar garis lurus saja kerap miring tetiba menghadiri sebuah pameran lukisan.
"Sstt jangan keras-keras tertawanya. Bukan, saya yang mengajak. Pit, saya kira suami saya sedang bokek," saya berbisik. Suara tawa sahabat saya di seberang terhenti. Tenggorokan saya naik turun menelan ludah. Saya lirik lelaki di samping yang sedang bersenda gurau bersama anak-anak. Sungguh saya bukan bermaksud mengecilkan dirinya dan acara itu, justru sebaliknya. Menghargai betul upayanya menyenangkan kami sekeluarga dengan kesenangan yang bermutu.
Selepas dari Galeri Nasional kami ke Museum Nasional Indonesia di jalan Medan Merdeka Barat. Saya mengenalnya dengan nama Museum Gajah. Gedung Museum Gajah bergaya eropa yang berdiri sejak 1862 adalah objek lukis yang menarik. Maka sangat tidak heran ketika melihat beberapa anak muda duduk di halaman lengkap dengan pinsil dan kertas gambar. Mereka serius membuat sketsa, hingga matahari yang menyapa tidak dihiraukannya.
Saya lupa berapa harga tiket masuk Museum Gajah di tahun 2012, namun jika melihat harga di tahun 2020 yang berkisar antara Rp2.000 - Rp5.000 harga tiket bisa dibilang tergolong murah. Bahkan sangat murah.
Jangan salah sangka, jelas tidak ada salahnya mencari hiburan yang murah meriah hingga yang gratis sekalipun. Bahkan sekelas Raffi Ahmad keliling dunia berkat dukungan sponsor, bukan ? Jadi boleh-boleh saja. Apalagi jika hiburan itu banyak manfaatnya. Terlebih buat anak-anak. Setelah delapan tahun berlalu, kejadian hari itu akan jadi salah satu cerita saya tentang "rahasia bapak".
Ibarat sedang menyusun skripsi, masa kanak-kanak adalah masanya menghimpun semua referensi. Begitu pula bagi ketiga anak-anak saya. Raihan berusia 12 tahun dan Haikal 9 tahun waktu itu. Sementara Zaidan si bungsu baru 11 hari sebelumnya berulang tahun yang ke-7. Saya percaya, kelak ketika mereka dewasa semua referensi yang dipunya bakal jadi acuan dan tertulis sebagai daftar pustaka dalam kisah hidup mereka. Bisa jadi kepergian kami saat itu yang jadi sebab si sulung suka melukis. Bisa jadi. Semua serba mungkin, bukan?
---
Sebuah lukisan dengan cat air ini baru selesai semalam. Judulnya terbilang unik "[Jangan] Bertengkar!". Mengambil latar Perang Dunia ke I, tiga buah pesawat dengan sayap biplane dilengkapi baling-baling di depannya bermanuver di udara. Senjata pihak lawan melukai ekor salah satu pesawat, asap tebalnya yang berwarna abu-abu mengitori birunya langit. Dorongan gravitasi tanpa ampun menariknya nyaris menyentuh tanah. Jangan perang ! Jangan bertengkar ! Lihat bahkan langitpun bisa terlihat tak biru lagi jika kita bertengkar, bukan?
----
Belalang Sipit
13/06/2020
#BelalangSipit
#rahasiabapak
Monday, May 4, 2020
Bel Sepeda Pakde Slamet
Sunday, May 3, 2020
Layunya Wijaya Kusuma
Tepat tengah malam puluhan wijaya kusuma rumahku mekar. Dulu Ibuku yang menanamnya. Ada sekitar delapan pot plastik hitam bertalikan tambang plastik digantung di pagar rumahku. Ibuku bilang bunga ini bisa sampai ke pagar rumahku karena jasa para saudagar Cina. Jauh-jauh mereka membawanya dari Venezuela. Konon kabarnya barangsiapa melihat mekarnya akan diganjar keberuntungan. Karenanya orang menyebutnya bunga para raja. Raja adalah salah satu simbol keberuntungan di dunia. Aku tidak ingin berdebat dengan Ibu. Sepenuhnya aku setuju dengan pendapatnya. Bagaimana tidak dikatakan beruntung jika berkesempatan melihat senyum sempurna wijaya kusuma. Esok pagi jangankan senyum, nestapalah yang akan kau jumpa di wajah wijaya kusuma.
Begitulah.
Pagi ini, ketika jumpa dengan matahari saat akan pergi ke kantor aku memberikan senyuman terbaik. Aku menyebutnya senyum wijaya kusuma. Sebab tidak ada yang lebih menyenangkan bagiku dibanding hari ini. Yang aku tunggu-tunggu saban bulan akhirnya tiba. Hari ini tanggal 1. Saatnya gajian.
Mikrolet yang aku tumpangi melintas di jalan Matraman Raya. Tak tampak olehku bekas gedung terbakar peninggalan kerusuhan hebat empat tahun lalu. Jujur saja gundukan gudeg, ayam kampung dan krecek di etalase Gudeg Bu Darmo mengalihkan pandangku. Membuatku bimbang antara akan tetap menyambangi warung ikan bakar di seberang kedai Soto Betawi Bang Pi'i, atau berkangen-kangenan dengan Bu Darmo.
*****
Ada bunyi keruyuk dari perut. Waktu dhuha tinggal setengah. Beberapa jam lagi matahari akan tepat di atas kepala. Aku meraih gelas berisi air. Aku teguk barang setengah gelas. Tiba-tiba ruang kerjaku diketuk. Hampir saja aku tersedak. Tanpa menampakkan seluruh tubuhnya seorang lelaki menyodorkan kepala dari balik pintu. "Hei, batuin. Di ruang rapat, ya," kepalanya digerakkan ke arahku memberi kode agar aku dan beberapa teman lainnya segera menuju ruang rapat.
Saat melintas menuju ruang rapat tampak olehku sumringah para pegawai. Hore, Pak Mano sudah datang. Ah, mereka rupanya sama saja denganku. Hari itu Pak Mano seperti gerimis di tengah kemarau.
Di atas meja ruang rapat berjajar tumpukan uang. Mulai dari seratus ribuan hingga seribuan. Dua bundel amplop coklat dan satu kotak uang recehan. Setiap tanggal 1 pemandangan seperti itu biasa dijumpai di ruang rapat kantorku. Tumpukan uang itu adalah gaji para pegawai. Barusan saja Pak Mano-bagian gaji di kantorku-mengambilnya dari bank.
Dengan spidol hitam satu persatu amplop aku bubuhkan nama pegawai. Selepas itu aku mengambil sejumlah uang. Lalu memasukkannya ke dalam amplop. Hal yang sama juga dilakukan oleh beberapa orang temanku. Terakhir, agar tidak kurang atau berlebih satu orang akan mengecek ulang jumlah uang dan nama yang tertera dalam amplop dengan daftar yang dibuat Pak Mano. Kami bergegas, matahari terus bergerak ke barat. Tugas mulia dari Pak Mano akhirnya selesai tepat sebelum adzan dzuhur berkumandang dari mushala di halaman kantor.
Senangnya.
Sebagai imbalan kami mendapat giliran pertama untuk mendapatkan amplop gaji. Berturut kemudian teman-teman yang lain mengambil secara bergantian. "Hitung di sini. Selisih tidak akan dilayani kalau sudah meninggalkan ruangan," meski tidak pernah ada pegawai yang mengeluh sebagai orang bagian gaji Pak Mano tidak pernah lupa mengingatkan. Namanya uang dihitung secara manual bukan tidak mungkin ada kesalahan.
Setelah selesai urusanku dengan Pak Mano aku kembali ke ruangan sebelum kemudian meninggalkan kantor untuk makan siang. Rencananya hanya mengambil dompet dan berbincang sekedarnya dengan yang lain. Tetiba aku kaget. Salah seorang teman meninta sebuah amplop coklat. "Tolong amplop coklat 1, ya," begitu katanya sambil menepuk bahuku. Ditunjuknya laci tempat penyimpanan aneka alat tulis kantor. Kebetulan laci itu berada tepat disamping tempatku berdiri. Sementara aku berdiri di sana tentu ia sangat sulit untuk meraihnya. "Ini, Pak," aku berikan selembar.
Setelah meraihnya, pada muka amplop ia menuliskan namanya. Sebut saja Djaya Suprana. Tidak lupa ia menuliskan sederet angka didahului dengan simbol mata uang Indonesia, Rp. Aku kira sebegitulah jumlah uang yang akan ada di dalamnya nanti. Setelah selesai dikeluarkannya beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan dari amplop gaji, dan dimasukkannya ke dalam amplop baru. Aku terdiam memperhatikan tingkahnya.
"Buat Istri," begitu katanya santai.
"Gaji?" tanyaku.
"Iya," jawabnya.
"Kenapa dikurangi?" tanyaku. Dahiku mulai mengkerut. Tidak habis pikir. Aku tentu tidak bermaksud ikut campur pada urusan rumah tangga orang.
Dalam kepalaku, konsep keuangan yang ideal tercipta manakala sang suami sebagai pencari nafkah utama menyerahkan sepenuhnya hasil jerih payahnya pada istri. Dan istri dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab sebaik mungkin akan mengelola keuangan keluarga. Pak Djaya berhasil mengobrak abrik konsep di kepalaku. Konsep yang aku perdebatkan mati-matian dengan Ibuku. Menurut Ibu, kewajiban suami adalah menafkahi istri, mencukupi semua kebutuhan rumah tangga. Bukan menyerahkan seluruh penghasilannya. Ah, Ibu dirimu selalu begitu. Terlalu baik pada suami.
Perkara memberi kebebasan pada suami aku berseberangan dengan Ibuku. Ibu bilang yang namanya lelaki jangan kau genggam terlalu erat. Seperti lilin mainan, nanti dia ke luar dari sela-sela jemarimu.
"Ah, Bapak cuma ambil sebagian," begitu dalihnya. Oh iya, dia membahasakan dirinya dengan sebutan Bapak. Pak Djaya adalah pegawai senior di kantorku. Beberapa tahun lagi akan tiba masa pensiunnya. Masih menurutnya, dulu hanya gaji yang diberikan pada istri. Tunjangan tetap dia yang pegang.
Mataku terbelalak. Teganya.
"Suatu hari Bapak hampir ketahuan," katanya sambil terkikik.
Sepupu Pak Djaya kebetulan bekerja di instansi yang sama dengannya, hanya beda kantor sahaja. Suatu hari dalam sebuah acara keluarga bertemulah istri Pak Djaya dengan istri sepupunya itu. Dari perbincangan keduanya istri Pak Djaya tahu bahwa Kang Dadang-sepupu suaminya itu- gajinya dobel. Ada dua amplop begitu katanya. Sepulang dari acara keluarga demi memuaskan penasaran, bertanya juga akhirnya istri Pak Djaya,"Kang Dadang kerjanya enak. Teteh cerita Akang gajiannya dua kali." Istri Pak Djaya melirik ke arah Pak Djaya menunggu jawaban.
Istri Pak Djaya orang rumahan. Kegiatan di luar urusan rumah tangganya adalah mengurus warung kecil yang ada di depan rumahnya. Warung itu hadiah dari Pak Djaya saat lahir anak pertama mereka.
"Terus Bapak bilang apa?" aku penasaran. Aku tentu tidak berharap perbincangan hangat antara keduanya berakhir dengan pertengkaran besar. Namun berpegang teguh pada nasehat Ayahku bahwa kebenaran pasti menang, rasanya boleh juga aku berharap ada pertengkaran kecil. Dan istri Pak Djaya yang keluar sebagai pemenangnya.
"Bapak bilang, jangan iri sama rejeki orang. Tidak baik. Kang Dadang kan orang hebat. Kerjanya di kantor pusat. Kalau Aa kan di kantor cabang. Pasti beda gaji di pusat dengan di cabang. Doakan biar ke depan ada penyesuaian," dengan meringis penuh kemenangan Pak Djaya menceritakan jurusnya mengelabui istri.
Huh! sungguh lidah tak bertulang. Dasar pembohong! Dari semua bualannya hanya soal kantor pusat dan kantor cabang saja yang betul. Bisa-bisanya hanya serahkan gaji saja pada istri. Padahal tunjangan Pak Djaya jelas jauh lebih besar dari gaji. Kali ini Pak Djaya bisa lolos, esok hari belum tentu. Ingat, Pak! Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga. Aku sibuk mengumpat dalam hati. Ingin rasanyanya aku cari tahu nomor telepon rumah Pak Djaya. Memberi tahu rahasia besar suaminya itu.
"Tapi sekarang sudah tidak lagi. Lama-lama kasihan juga. Lagi pula sekarang anak-anak sudah mandiri. Ya, separuhlah yang Bapak serahkan," katanya lagi.
Istri Pak Djaya senang bukan main menerima tambahan gaji. Jatah ngopi Pak Djaya yang biasanya sehari sekali dilipatgandakan jadi dua. "Ibaratnya dapat durian runtuh. Hadiah dari langit. Istri Bapak gembira bukan main. Sepertinya makin cinta. Istri Bapak paling senang mendapat hadiah," katanya sambil terkekeh. Matanya menerawang mengingat kejadian dulu itu. Bibirnya terus tersenyum.
Sampai di titik itu tetap saja aku merasa apa yang dilakukan Pak Djaya tidak beralasan. Pun andai disebuat sebuah alasan, alasannya mengada-ada. Kalau boleh memilih tentu aku sebagai perempuan mendamba pemberian yang didasari oleh kejujuran. Terbuka mengenai keuangan kepada pasangan tentu lebih baik.
"Neng, sudah berapa tahun menikah?" Pak Djaya membuyarkan lamunanku.
"Empat tahun," jawabku.
Pak Djaya manggut-manggut.
"Hidup ini singkat. Lebih singkat dari mekarnya wijaya kusuma di depan rumahmu. Sebelum layu, sebagai laki-laki tidak ada keinginan Bapak selain tampil paling depan menyenangkan anak dan istri," katanya.
Bukannya dzalim, rasanya kalau kuat sehari makan sekilo gula pasir persediaan di warung lebih dari cukup. Atau dengan kata lain Pak Djaya ingin bilang dari hasil warung sudah bisa menutupi kebutuhan sehari-hari.
Pak Djaya menyadari dirinya berbeda dengan Kang Dadang yang pandai berbisnis. Objekannya macam-macam, mulai dari tanah pekarangan sampai tanah kuburan. Pak Djaya tidak memiliki sumber penghasilan lain selain gaji. Hasil warung itu rejeki istrinya. Pantang diminta kembali. Jika semua gaji diberikan pada istri lalu dengan apa ia memberi hadiah, mentraktir makan mereka atau menambal kebutuhan dadakan keluarga. Dengan uang apa pula Pak Djaya bisa bersedekah. Begitu dalihnya.
Masa iya tiap ada permintaan sumbangan di kantor Pak Djaya mesti bilang,"sebentar ya, Bapak minta istri dulu. Jatuh harga diri." Pak Djaya terkekeh. Dadanya dibusungkan.
Tidak sengaja mungkin aku telah menyerempet ego kelelakiannya. Karenanya aku cuma bisa tersenyum kecil.
"Neng, Selagi masih dikasih hidup. Selagi masih gagah. Kalau anak istri punya kebutuhan untuk diberi. Sebagai laki-laki, sebagai seorang ayah, Bapak punya kebutuhan yang tidak bisa ditawar yaitu memberi. Bapak ingin mereka merasa bangga," ia membalas senyumku.
Kerongkonganku terasa kering menerima kekalahan. Aku terbatuk. Ibuku, lagi-lagi benar. Mendapati aku yang belum rela menerima kekalahan Pak Djaya bangkit dari kursinya. Menepuk pundakku. Lalu pergi. Dua amplop coklat berkop kantor dilipatnya lalu dimasukkannya dalam saku. "Yang sabar,"begitu bisiknya.
-----
Belalang Sipit
03052020
- #RahasiaBapak
Friday, May 1, 2020
Sepeda Baru
Adalah Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara yang sudah susah payah menghadirkan trembesi dan belangeran di sana.
Digenggamnya tangan hangatku yang telah berubah jadi dingin seraya berkata,"tentu saja, orangtua selalu memberi yang terbaik, bukan?"
Tuesday, April 28, 2020
Ramai-ramai Mendongkrak Kepatuhan Pajak
![]() |
| Ilustrasi oleh Bintang |
- Wajib pajak paham atau berusaha untuk memahami semua ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
- Mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas.
- Membayar.jumlah pajak yang terutang dengan benar.
- Membayar pajak yang terutangtepat pada waktunya.
memperluas penggunaan dan kerjasama Konfirmasi Status Wajib Pajak (KSWP). Saat ini, 11 Kementerian/Lembaga dan 168 Pemda telah mengimplementasikan KSWP. Aplikasi Online Single Submission (OSS) juga terintegrasi dengan aplikasi KSWP untuk keperluan penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB). Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2018 dan keputusan Bersama Pimpinan KPK, Menteri PPN/Kepala Bapenas, Menteri Dalam Negeri, Menteri PANRB, dan Kepala Staf Kepresidenan, di tahun 2019 – 2020 implementasi KSWP akan diperluas sehingga mencakup 28 Kementerian / Lembaga. Sejak 11 Februari 2019 DJP telah meluncurkan aplikasi inforormasi Konfirmasi Status Wajib Pajak (iKSWP) yang bisa diakses melalui DJP Online (https://djponline.pajak.go.id).
Belalang Sipit
Tulisan telah dimuat di Majalah Jawara Edisi Maret 2020
Saturday, April 25, 2020
Lain Kali Saja
uang 2000 kepadanya. Lalu ia pergi. Duh, Dek setidaknya tunggulah sampai reffrain.
tidak pernah sampai tuntas satu lagu?" Iya tidak pernah kelar. Terlepas apakah si pemilik rumah memberi imbalan atas lagu-lagunya atau tidak. Padahal si empunya rumah bisa jadi tidak menyegerakan memberi karena ingin menikmati dulu lagu-lagu mereka. Apalagi kalah lagunya enak dan musiknya juga pas. Si bungsu pernah kecewa lagi asik-asiknya ikutan nyanyi dari dalam rumah eh pengamennya buru-buru pergi.Uang dua ribuan yang dia pegang jadi batal berpindah tangan.
"semoga panjang umur, Dek. Murah rejeki. Hidup damai. Sejahtera. Sehat selalu," begitu terus diulang-ulang sampai dia tiba di teras rumah tetangga. Saya pernah menangkap basah Haikal saat memberi uang 2000 kepadanya, sambil senyam senyum dia bilang,"Bang doain dong minggu depan mau ujian nih."
Anggaplah pemberian itu sedekah dan hidup kita adalah sebuah perjalanan, maka Sholat memangkas separuh perjalananmu, puasa mengantarkanmu di pintu dan sedekah memasukanmu ke dalam rumah (Abdula Qadir al Jailani).